
Sepulang dari kantor sang suami, Adine tak langsung pulang ke rumah. ia berhenti di rumah makan pinggir jalan, warung yang pernah ia singgahi saat masa sekolah SMA.
Ia jadi teringat dengan kenangan-kenangan semasa sekolah.
Adine keluar dari mobil, ia masuk kedalam rumah makan itu.
walaupun berada dipinggir jalan, rumah makan ini sangat rapih dan juga bersih, sehingga membuat pelanggan merasa nyaman untuk makan di sana.
"Mbak, saya pesan satu porsi, ya." ujarnya memesan.
"baik, mbak. ditunggu, ya," balas gadis muda itu.
"iya."
Adine memainkan ponselnya, ia membuka akun sosial medianya. sudah lama sekali rasanya tidak membuka akun itu.
Hampir dua bulan ia tak membuka akun sosial medianya, dikarenakan sibuk. saat ini ia lebih mementingkan mengurus anak dan suami, sekaligus butik miliknya yang selalu ramai.
Tak lama terdengar suara pria yang juga memesan makanan.
"Mbaknya sendirian aja, saya duduk di sini, ya," sapa pria itu yang langsung mendudukkan dirinya dikursi kosong yang berhadapan dengan Adine.
"Iya," jawab Adine singkat.
Adine mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang sedang berbicara dengan nya.
"Loh, Adine?" ucap pria itu terkejut.
"Kak Mario?" ucap Adine yang tak kalah terkejutnya.
wanita itu menyimpan ponselnya dimeja.
"Kamu di sini juga?" tanya pria itu
"Iya, Kak. kakak apa kabar?" ucap Adine bertanya balik.
pria itu tersenyum yang mana membuat lesung pipinya terlihat,"Baik. kamu apa kabar?"
"Baik, seperti yang kakak lihat," jawab Adine santai.
"gak nyangka ya kita bisa bertemu lagi," ujar pria berlesung pipi itu.
Adine nampak tersenyum canggung,"hm, iya."
Tak lama pesanan Adine dan pria itu datang.
Adine mulai memakan makanannya begitupun dengan pria itu.
"Oh ya, boleh minta nomor kamu?" tanya pria itu.
Adine nampaknya ragu untuk memberikan nomor ponselnya pada pria yang disebut kak Mario itu, ia takut nantinya akan menimbulkan kesalahpahaman. Namun, ia juga tak enak jika tidak memberikan nomornya.
bertepatan dengan itu, ponsel Adine berdering.
Drtt.
Adine segera menekan tombol hijau, mengangkat panggilan.
"Iya, halo, Bun." sahutnya pada bunda Andini.
Ya, yang menelpon Adine adalah bunda Andini.
"Apa? iya, aku pulang sekarang, Bun." ucap Adine pada sang bunda.
Wanita itu memasukan ponselnya kedalam tas. ia tampak panik dan segera membayar makanannya.
"Ada apa, Dine?" tanya pria berlesung pipi itu penasaran.
Adine tidak memberitahu apa yang terjadi, ia hanya berpamitan kepada Mario.
"Maaf kak, aku pulang duluan." pamit Adine berlalu pergi.
Raut panik Adine membuat Mario penasaran, sebenarnya ada apa, pikirnya.
Pria itu menatap kepergian Adine dengan kernyitan di dahinya.
"Yah, padahal belum dikasih nomornya, dia udah pergi," ucap Mario.
Damario Adyatama, pria yang pernah menyatakan cinta namun berakhir ditolak oleh sang pujaan hati. Tak ada yang bisa menolak pesona pria berlesung pipi itu dimasa sekolah dulu hingga kini.
Hanya satu gadis yang berani menolak pernyataan cintanya dan itu adalah adik kelasnya. yang tak lain adalah Adine alsava Hutama.
Ya, Adine adalah orang pertama yang berani menolaknya.
hingga kini, pertemuannya dengan Adine tadi membuat rasa yang dulu sempat ia hilangkan kini muncul kembali.
Disisi lain.
Adine tergesa-gesa masuk kedalam rumah. ia langsung menuju kamar sang anak.
Ia panik saat bunda Andini mengatakan lewat telpon, bahwa Aldin terus menangis dan badannya panas.
"Ma, bagaimana keadaan Aldin?" tanya Adine dengan panik.
"Aldin demam, sepertinya bawa saja ke rumah sakit, Dine." jawab bunda Andini khawatir.
Adine memegang dahi sang anak, dan memang benar anaknya itu demam. ia bingung, Aldin terus menangis dan tak berhenti-henti. ini adalah pertama kalinya Aldin sakit.
Oek...oek..
Wanita itu dengan panik menggendong Aldin dan berusaha menenangkan, namun ia malah ikutan menangis.
"Ayo Bun, ke rumah sakit," ucap Adine
"Sini aldin nya biar sama bunda aja," pinta bunda Andini.
"Yaudah aku yang nyetir," seru Adine seraya memberikan Aldin kepada bunda Andini.
Adine mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kamu udah kasih tahu Asher?" tanya bunda Andini
"belum, Bun."
"Nanti saja kalau sudah sampai rumah sakit," sambungnya.
Adine berusaha fokus menyetir, sementara Aldin terus saja menangis walupun sudah diberi asi.
🍁🍁🍁