
Setelah kejadian tadi, Asher keluar dari kamarnya dengan pakaian santainya. nampaknya pria itu tak jadi pergi ke kantor, padahal hari ini ada meeting dengan klien.
Moodnya sedang buruk, ia mengundur meeting yang seharusnya hari ini menjadi esok hari.
Terlihat seenaknya bukan? namun, apa sih yang tidak bisa Asher lakukan. ia adalah atasannya di kantor, jelas pria itu memiliki hak apapun dikantornya. walaupun pada akhirnya, asisten Romi lah yang menanganinya.
Pria itu menatap tajam sang anak yang saat ini sudah berganti pakaian. sama seperti dirinya, namun bedanya sang anak adalah pelaku sementara dirinya adalah korban.
Adine yang melihat tatapan tajam Asher yang ditujukan untuk Aldin, membuat Adine menatap tajam sang suami.
"Gak usah natap anak aku kayak gitu," seru Adine menatap sang suami tak kalah tajam, tangannya menutup mata Aldin.
Pria itu tersenyum paksa,"nggak kok."
Padahal dalam hati pria itu merutuki sang anak.
"Masih bayi aja udah keliatan ngeselin, gimana kalo udah besar." Batin Asher.
Adine memperhatikan tampilan sang suami.
"Kok kamu pakai baju santai sih, gak ke kantor emang?" Tanya Adine.
"gak. ini semua gara-gara dia!" sewot Asher seraya menunjuk sang anak yang saat ini menatap Asher dengan tatapan polosnya.
"loh, kok nyalahin Aldin sih. orang dia masih kecil, ya mana dia ngerti." ucap Adine tak terima anaknya disalahkan.
"Pokoknya, ini semua gara-gara dia! saya gak jadi meeting sama klien hari ini, terpaksa saya undur." seru Asher
"Masih kecil aja udah bisa bikin kesal, apa lagi nanti." sambungnya sambil berjalan didepan Adine.
Adine menggeleng kepala, suaminya itu memang tak sadar diri. padahal dirinya lah yang paling bisa membuat orang kesal.
Setibanya diruang tamu, ternyata sudah ada Mama Ambar dan bunda Andini.
pasutri itu menghampiri Oma dan grandma Aldin.
"Mama, bunda. gimana kabarnya?" Tanya Adine basa-basi.
"baik. wah cucu Oma tambah chubby ya." sahut Mama Ambar seraya mencubit pelan pipi Aldin.
bunda Andini pun tak kalah gemasnya melihat pertumbuhan Aldin, yang kini terlihat sehat dan berisi, apalagi pipinya yang chubby.
Cup
cup.
bunda Andini mencium kedua pipi sang susu.
Mama Ambar mengalihkan pandangannya, ia menatap putranya dengan heran.
"loh, kamu gak ke kantor, sher?" tanya Mama Ambar.
"lah iya, tumben kamu masih dirumah." timpal bunda Andini.
"Iya. Asher gak ke kantor, dan ini semua gara-gara Aldin." seru Asher dengan wajah datarnya.
"kok gara-gara cucu mama sih. orang Aldin masih kecil gini," ucap Mama Ambar.
"Suami kamu kenapa, Dine? pasti terjadi sesuatu, kan?" tanya bunda Andini penasaran
Adine tersenyum,"Iya, Bun. tadi Aldin pup di kemejanya Asher. makanya dia dari tadi kesal sama Aldin." jawab nya.
Sontak saja kedua wanita paruh baya itu tertawa mendengar jawaban Adine.
Apalagi mama Ambar, ia yang tertawa paling keras.
"hahaha... aduh, Asher, Asher. baru juga di pup pin ekspresi nya udah kayak gitu." Ucap Mama Ambar.
Sementara diruang kerja, pria itu tahu bahwa ketiga wanita itu sedang membicarakan dirinya. membuat mood pria itu semakin buruk saja.
***
Jam menunjukkan pukul 12.00, Asher berjalan mengendap-endap, melirik kanan kiri. setelah memastikan aman, pria itu masuk kedalam kamar sang anak.
Asher menutup pintu dengan pelan.
Ia melangkah mendekati box bayi, di dalam box terlihat Aldin yang sedang tidur terlelap, karena memang ini sudah waktunya bayi tampan itu tidur siang.
"Hai, bayi ngeselin. nyenyak banget ya tidurnya." ucap pria itu memandang wajah sang anak.
Dengan iseng tangan Asher mencubit pipi chubby sang anak.
awalnya hanya pelan, namun lama kelamaan Asher menekan cubitannya yang mana membuat sang anak terbangun dari tidurnya.
Anehnya, Aldin tak menangis. bayi itu hanya membuka matanya.
"loh, kok dia gak nangis sih, harusnya kan nangis." gumam Asher menatap Aldin dengan heran.
Pria itu mencubit pipi sang anak kembali, namun Aldin tetap diam.
Bayi itu menatap polos sang papa.
"hey, harusnya kamu itu nangis." ucap Asher
"Dasar bakpao!" sambungnya.
Melihat pipi Aldin membuat pria itu mengingat kue bakpao yang berbentuk bulat, persis seperti pipi Aldin yang bulat.
Asher berdecak kesal, ingin sekali rasanya ia mencubit kedua pipi sang anak sampai menangis. karena tujuannya memang itu, membuat Aldin menangis.
sungguh, Asher adalah papa yang tak berperasaan.
"Ck, kenapa sih gak nangis-nangis?"
pria itu berniat meninggalkan kamar sang anak.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar tangisan Aldin.
Misinya ternyata berhasil.
ia tersenyum senang, lalu memilih mengabaikan tangisan Aldin.
🍁🍁🍁