Adine's Second Life

Adine's Second Life
Perdebatan dimeja makan



🕛 Pukul 24.00 AM.


Asher baru saja tiba didepan rumahnya. hari ini ternyata ia memang lembur. semua orang yang berada dirumah sudah tidur, terlihat dari lampu ruangan yang sudah dimatikan.


Pria itu masuk kedalam rumah, berjalan tanpa menghidupkan lampu terlebih dahulu. ia hanya menggunakan senter handphone nya.


sesampainya dikamar, pria itu mengernyit heran melihat keadaan lampu kamarnya yang masih menyala dan juga ia tak mendapati sosok istri nya di ranjang.


Cklek.


pria itu menutup pintu kamar nya.


"Kemana Adine?" tanyanya dalam hati.


Karena sangat lelah seharian bekerja, pri itu ingin segera mengistirahatkan tubuh dan otaknya. ia tak mencari keberadaan sang istri, karena saat ini dirinya sangat butuh istirahat.


Lagi pula istrinya itu mungkin tidur dikamar sang anak, jadi ia tak perlu khawatir, pikir Asher.


Asher segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. setelah selesai berganti pakaian, ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan segera merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan mata menuju alam mimpi.


sementara dikamar sebelah, Adine tidur bersama sang anak. ia tak bisa meninggalkan sang anak disaat sakit seperti ini. setelah pulang dari rumah sakit, bayi tampan itu tertidur cukup pulas. namun, entah mengapa malam harinya Aldin menjadi rewel, bayi itu tak bisa tidur dengan nyenyak karena suhu tubuhnya yang naik kembali.


hingga pukul sepuluh malam, Aldin baru bisa tidur dan Adine bisa bernafas dengan lega.


Awalnya, wanita itu akan menunggu kedatangan sang suami dari kantor. namun, setelah menunggu hingga jam 11 lewat, Asher belum juga menampakkan batang hidungnya. pada akhirnya Adine memutuskan untuk tidur terlebih dahulu saja dikamar sang anak.


Tak terasa pagi menyapa, Adine terbangun dari tidurnya. wanita itu mengucek matanya, ia bangkit menuju box bayi.


wanita itu mengecek suhu tubuh sang anak.


"Syukurlah, Aldin sudah mendingan," ujarnya tersenyum lega.


"Oh iya, mas Asher semalam pulang gak ya?" monolognya.


Adine keluar dari kamar sang anak, ia kembali ke kamarnya untuk memastikan bahwa sang suami pulang atau tidak semalam.


Cklek.


pintu kamar terbuka, Adine masuk kedalam kamar.


Ia menghela nafas melihat Asher yang masih tertidur pulas. nampaknya suaminya itu sedang lelah, wanita itu tidak membangunkan Asher.


Adine segera membersihkan diri, setelah selesai ia memakai pakaian santainya, hari ini ia tak akan kemana-mana.


bergegas ke dapur untuk memasak bersama bi Sumi.


"Pagi, bi," sapa Adine.


"pagi juga, nyonya." balas bi Sumi


Adine mendekat dan bertanya kepada bi Sumi,"pagi ini bibi masak apa?"


bi Sumi yang sedang membuat nasi goreng itupun menoleh pada majikannya.


"ini nyonya, saya masak nasi goreng," jawab nya.


Adine mengalihkan pandangannya ketika melihat Risa yang baru saja muncul.


"Risa," panggilnya.


gadis muda itu mendekat,"iya, nyonya. ada apa?"


"Saya minta tolong, nanti kalau Aldin bangun kamu usap badannya pakai air hangat saja, jangan dimandikan, ya," ucap Adine meminta tolong.


"Baik, nyonya." Risa mengangguk


Didalam kamar, Asher mulai membuka matanya. pria itu bangkit dan segera membersihkan diri.


Tak membutuhkan waktu lama, pria itu kini sudah rapih dengan pakaian santainya. Niatnya, hari ini ia tak akan ke kantor.


Asher keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan.


Sesampainya diruang makan, sudah ada nasi goreng dan telur mata sapi yang tersedia di sana.


"Pagi, mas," ucap Adine menyapa sang suami seraya menuangkan air kedalam gelas.


"pagi," jawab Asher singkat.


Adine mendudukan dirinya dikursi yang berhadapan dengan Asher.


Pria itu mulai menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


Sebenarnya Adine ingin bertanya-tanya, namun ia tahan karena saat ini mereka sedang makan. nanti saja setelah selesai makan, baru ia bicarakan, pikirnya.


Tak.


bunyi gelas yang diletakkan dimeja.


Asher mengelap area mulutnya dengan tisu, ia sudah selesai makan.


"Semalam, mas pulang jam berapa?" tanya Adine.


"Jam 12."


Adine mengangguk,"oh. kamu lembur ternyata."


Adine kembali teringat, saat Aldin dibawa ke rumah sakit, Asher sulit untuk dihubungi. ia menjadi kesal kembali.


"kenapa kemarin gak angkat telpon aku?" tanya Adine.


"Oh itu, lagi rapat. jadi, gak mungkin aku angkat telpon dari kamu, gak enak sama klien,"jawabnya jujur.


"Tadinya mau telpon balik, eh malah ada meeting dadakan, gak jadi deh,"sambungnya.


"benar seperti itu," seru Adine dengan tatapan menyelidik.


"iyalah, ngapain bohong."


Adine terus menatap sang suami dengan menyelidik.


"ngapain kamu natap aku kayak gitu? kamu mikir yang enggak-enggak ya, soal aku yang gak angkat telpon kamu?" ucap Asher curiga.


"iya, bisa aja kan kamu cuma alesan padahal lagi berduaan sama cewek lain," sahut Adine yang seolah masih tak percaya.


Asher merasa seperti dituduh bermain belakang, padahal ia sudah mengatakan yang sejujurnya.


pria itu menatap Adine dengan datar,"gak usah aneh-aneh, aku sibuk kerja bukan berduaan apalagi menemui wanita lain."


Adine mengangguk,"oke. aku percaya."


Asher berdiri dan mulai melangkah pergi namun, pertanyaan Adine membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Oh iya, kemarin aku bawa bekal makan siang buat kamu, terus sekarang rantangnya mana?"


Pria itu bingung harus menjawab apa, ia takut sang istri tersinggung atau marah karena bekalnya ia kasih kepada asistennya itu.


"Ee, itu ada. ada kok di kantor aku lupa gak dibawa lagi," jawabnya seraya mengusap leher belakangnya.


"oh."


Asher mulai melanjutkan langkahnya namun, Adine bertanya kembali.


"kamu makan, kan?"


Entah mengapa wanita itu seperti curiga jika bekal yang dibawakan olehnya tidak dimakan.


"M-makan kok," jawabnya terbata.


"baguslah kalau gitu, awas aja kalau gak dimakan," ucap Adine agak ketus.


Glek!


pria itu menelan ludah nya kasar, entah mengapa ia menjadi takut seperti ini.


🍁🍁🍁