
Siang harinya, Sheira datang ke rumah sang kakak. Gadis itu masih menggunakan seragam sekolahnya. Asher nampak heran dengan kedatangan adiknya yang tiba-tiba, mengingat jarak rumah ini dengan sekolah sang adik cukup jauh dan lebih dekat dengan rumah kedua orangtua mereka.
Pria itu curiga jika sang adik sedang ada masalah.
"Ngapain kamu kesini, masih pake baju sekolah lagi, pasti belum bilang ke mama kan, kalau kamu ke rumah kakak," ucap Asher kepada Sheira yang baru saja datang.
Sheira mendengus sebal, sang kakak selalu saja begitu jika ia berkunjung.
"Ish, kakak! harusnya kalau ada tamu itu dijamu, bukan malah dituduh," kesal Sheira seraya langsung mendudukkan dirinya di sofa.
"Lagian kak Asher aneh, adiknya datang harusnya tuh senang," sambungnya seraya melipat tangannya.
pria itu hanya memutar bola matanya malas. Asher melengos pergi tak menanggapi ucapan sang adik.
Sheira yang melihat itupun mencebik kesal,"kok ditinggal sih!"
gadis itu memilih memainkan handphonenya, berbalas pesan dengan teman sekolahnya.
"Sheira, kamu disini," ucap Adine yang baru saja tiba diruang tamu.
Sheira yang sedang asyik berbalas pesan itupun mengalihkan pandangannya saat mendengar suara kakak iparnya.
"Eh, kakak ipar. iya kak, aku baru aja datang," seru Sheira tersenyum lebar.
gadis itu bangkit dan menghampiri kakak iparnya untuk bersalaman.
"kamu pulang sekolah langsung ke sini? udah izin belum sama mama?"
Adine duduk disebelah adik iparnya.
Gadis berseragam SMA itu hanya cengengesan saat ditanya oleh sang kakak ipar.
"Hehehe, belum sih," cicitnya.
"loh, kenapa? nanti mama khawatir nyariin kamu loh," seru Adine.
"Iya kak, nanti aku kabarin mama kok. aku lagi males aja dirumah," ucap Sheira beralasan.
Adine sedikit peka, sepertinya adik iparnya itu sedang menghindari sang mama.
"Yaudah, kamu pasti lapar kan, ayo makan," ucap Adine mengajak Sheira makan.
"Aaaa, kakak ipar tahu aja deh aku lagi lapar," seru Sheira tersenyum senang seraya mengusap perutnya yang rata itu.
Gadis itu berjalan membuntuti kakak iparnya menuju ruang makan.
Sheira berbinar menatap makanan yang sudah tersedia di sana. memang benar, tak salah ia datang ke rumah kakaknya itu, pikirnya.
"Silahkan kamu pilih mau makan apa," ucap Adine.
"Maaf ya, makanan nya cuma seadanya, soalnya kakak gak tahu kamu bakal ke sini," sambungnya takut adik iparnya itu tidak menyukai makanan rumahan yang ia buat.
"Kakak ipar ini kayak sama siapa aja, tenang aja kak, aku suka makan apa aja kok gak pilih-pilih," ucap Sheira.
"Udah ada didepan mata kok nyari yang gak ada," sambungnya sambil menarik kursi untuk ia duduki.
Adine hanya tersenyum menanggapi ucapan adik iparnya itu. wanita itu akan menuangkan nasi ke piring Sheira namun, Sheira lebih dulu mencegahnya.
"Eh, gak usah kak. aku aja," tolak Sheira tak enak hati kepada kakak iparnya itu.
Adine tak jadi melayani Sheira, karena adik iparnya itu tak ingin dilayani.
"wah kayaknya enak nih, gak sabar buat eksekusi," ucap gadis itu berbinar menatap makanan itu.
Adine menggeleng kepala,"ada-ada saja kamu."
"Ternyata kamu ke rumah kakak mau numpang makan toh," kata Asher menjahili sang adik.
Pria itu sangat senang melihat wajah kesal adiknya.
"Mas, jangan gitu," tegur Adine.
Adine sangat tahu suaminya itu memang suka memancing kemarahan sang adik.
"tuh, dengerin," ucap Sheira.
Pria itu nampak tak peduli, ia malah menatap sang istri dengan tersenyum.
"Dine~" panggilnya.
wanita itu hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa menyahuti, karena ia sedang mengunyah makanan.
"Kamu gak mau layanin aku?" tanyanya agak kesal melihat sang istri yang tak peka itu.
Sheira mendelik,"dih manja! punya tangan ambil sendiri."
Asher melotot,"Diam kamu! kakak gak lagi ngomong sama kamu," ucapnya.
Adine menghela nafas melihat kakak dan adik yang selalu saja berdebat setiap bertemu.
"Iya, kamu mau lauk apa?" tanya Adine setelah menuangkan nasi di piring sang suami.
"Terserah," jawab Asher.
Adine dengan sabar menghadapi sikap Asher yang terlihat menyebalkan saat ini.
setelah itu mereka memakan dengan tenang.
tiba-tiba dering handphone berbunyi, membuat Adine dan Sheira menatap Asher. handphone milik Asher yang berbunyi.
"Angkat, mas," ucap Adine.
"iya."
Pria itu menatap layar kotak itu yang tertera nama Romi, asistennya.
"Romi, ada apa dia nelpon?" gumamnya.
pria itu menekan tombol hijau.
"Iya, halo. ada apa, Rom?" tanyanya pada asistennya itu.
Entah apa yang Romi katakan, Asher terlihat biasa saja.
"Yasudah, sekarang kamu ke rumah saya, bawa berkasnya," kata Asher.
Tut.
Pria itu selalu saja mematikan panggilan nya sepihak.
Disisi lain, Asisten Romi menggerutu kesal karena tuannya itu sangat menyebalkan karena memutuskan panggilannya sepihak, padahal ia belum selesai berbicara.
"Selalu saja begitu," gerutunya.
"yasudah lah, sekalian saja aku bawa rantangnya," gumamnya.
Pria itu bergegas menuju rumah tuannya.
🍁🍁🍁