Adine's Second Life

Adine's Second Life
Kedatangan papa mertua



Selama tiga hari mereka masih saling mendiamkan. belum ada yang mau mengalah untuk memulai pembicaraan.


Lagipula akhir-akhir ini Asher selalu sibuk, ia pulang setelah Adine tertidur tak ada waktu untuk mereka berbicara ataupun berbaikan.


Asher mulai sibuk kembali dengan pekerjaannya, jika sudah begitu ia akan lupa waktu.


Seperti saat ini, pria itu sedang sibuk dengan berkas-berkas penting yang akan dibawa meeting nanti.


Saking fokusnya, Asher tak menyadari kedatangan seseorang kedalam ruangannya.


Hingga seseorang itu berdehem agar menyadarkan Asher.


"Khem."


Asher tersadar saat mendengar suara deheman itu. ia pun mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Sesaat Asher terpaku, ia tak menyangka pria paruh baya itu datang ke kantornya.


"Papa," ucapnya.


Ya, pria paruh baya itu adalah papa Asher, Serkan Damian.


Pria itu mendekati meja kerja sang anak, ia duduk saling berhadapan.


"Kenapa? gak senang liat papa datang ke kantor?" tanya Papa Serkan.


"Biasa saja. lagipula, tumben papa ke kantor Asher, ada apa?" ucap Asher seraya bertanya.


"Tidak ada, hanya gabut saja," jawab pria itu dengan santainya.


Asher memutar bola matanya malas.


"Oh ya, bagaimana kabar menantu sama cucu papa?" tanyanya.


Asher berdehem sejenak,"Ehm, mereka baik."


"baguslah kalau begitu," seru Papa Serkan seraya mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Papa kapan pulangnya?" tanya Asher.


"Kemarin, pekerjaan nya juga sudah selesai di sana," jawab papa Serkan.


Papa Serkan bangkit dari duduknya.


"Sekarang papa mau ke rumah kamu, mau jengukin cucu udah lama gak ketemu," ucapnya.


Asher hanya berdehem, pria itu mulai melanjutkan pekerjaannya.


"Jangan terlalu sibuk bekerja, kamu sudah punya istri dan anak, luangkan waktu untuk mereka," ucap papa Serkan menasehati putranya itu.


"Oh ya, kapan kalian menghabiskan waktu berdua? misalnya, bulan madu gitu? kalian kan bulan pernah jalan-jalan berdua, apalagi sekarang sudah ada anak," sambungnya.


Asher menghentikan kegiatannya, perkataan papa nya ada benarnya juga. Selama menikah mereka belum pernah bulan madu ataupun jalan-jalan bersama.


Papa Serkan menepuk pundak sang anak dua kali.


"Papa pergi dulu," pamitnya berlalu pergi.


Setelah kepergian papa Serkan, Asher memikirkan perkataan sang papa tentang bulan madu, apakah harus disaat-saat seperti ini, pikirnya.


Sudah tiga hari ia mendiamkan istri nya begitupun sebaliknya. Sebenarnya ia ingin segera berbaikan namun, keadaan membuat pria itu menunda-nunda. pekerjaan kantor yang tak ada habisnya membuat pria itu sering lembur.


"Nanti pulang dari kantor harus dibicarakan dengan Adine," tekadnya.


"Semoga Adine gak marah lagi," sambungnya.


***


Adine membukakan pintu saat mendengar bel rumah berbunyi.


"Papa," ucap Adine menatap pria paruh baya yang saat ini berada dihadapannya.


Papa Serkan tersenyum melihat menantunya itu.


Ia kebelakang sebentar untuk membuatkan minuman dan juga kue untuk disuguhkan.


"Ada tamu, nyonya?" tanya Risa yang kebetulan berada di dapur.


"Iya, Ris. Papa mertua datang," jawab Adine yang sibuk membuatkan minuman.


"Tuan besar sendiri saja, nyonya?" tanyanya lagi.


"Iya."


"Ris, nanti bawa Aldin ke bawah ya," pinta Adine.


"Siap, nyonya."


Adine berlalu pergi dengan membawa nampan berisi minuman dan juga kue.


"Silahkan diminum, Pa." ucap Adine.


Papa Serkan tersenyum,"terimakasih."


Pria paruh baya itu meminum jus buatan menantunya.


Tak lama Risa datang dengan Aldin yang berada digendongnya.


Terlihat sekali papa Serkan berbinar menatap sang cucu.


"Wah, cucu opa sudah besar aja, ya," ujarnya seraya mengambil alih cucu kesayangannya dari gendongan babysitter.


Pria itu mencium pipi chubby sang cucu saking gemasnya.


"Aldin mirip banget sama papanya, tapi papa harap sifatnya jangan sampai mirip," ucap Papa Serkan.


Adine mengangguk mengiyakan perkataan papa mertuanya itu.


"Iya, pa. jangan sampai sifatnya mirip kayak papa nya."


Pria itu duduk kembali di sofa dengan Aldin yang masih berada ditangannya.


"Gimana sama anak papa? dia memperlakukan kamu dengan baik, kan?" Tanyanya.


Adine tersenyum, tak lama ia menjawab.


"Sejauh ini mas Asher baik kok, pa. gak pernah macam-macam."


mendengar kata mas dari mulut menantunya itu, membuat papa Serkan sedikit terkejut.


"Wah, kalian sudah mengganti panggilan masing-masing ternyata," ujar papa Serkan.


Adine menunduk malu, ia keceplosan menyebut Asher dengan sebutan Mas.


"Syukurlah, Papa senang mendengarnya," ucap papa Serkan.


Di lain sisi, Asher mendapat panggilan telpon dari nomor seseorang yang sudah lama tidak menghubunginya.


Pria itu mengangkat panggilannya.


"Ada, apa?" ucapnya to the poin.


Entah mengapa perasaan pria itu menjadi tak tenang saat mengangkat panggilan itu.


Entah apa yang orang itu katakan sehingga membuat Asher terlihat menegang.


"Pantau terus perkembangannya, nanti saya ke sana," ucapnya lalu langsung mematikan panggilan nya sepihak.


Tut.


Pria itu menghembuskan nafas kasar, memijat pelipisnya.


Sepertinya, ia harus menunda bulan madu yang ia rencanakan.


🍁🍁🍁