Adine's Second Life

Adine's Second Life
Kesempatan dalam kesempitan



Tengah malam, Aldin menangis dengan kencang. membuat Adine dan Asher terbangun dari mimpi indah mereka.


dengan nyawa yang belum terkumpul, mereka turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar menuju kamar sebelah.


Oek...oek..oek.


Cklek.


Adine masuk dan Asher mengikuti sang istri dari belakang.


Wanita itu mengucek matanya sebelum mengangkat Aldin dari box bayinya.


sementara Asher malah mendudukkan dirinya di ranjang, pria itu terlihat memejamkan matanya. ia masih mengantuk namun, terpaksa harus bangun.


Adine mengecek popok Aldin dan benar saja Aldin menangis karena merasa tidak nyaman dengan keadaan popok nya yang sudah penuh.


Oek...oek..


"Cup...cup, iya sayang kita ganti popok nya dulu," ucap Adine menenangkan sang anak.


Adine membaringkan tubuh sang anak di kasur, wanita itu dengan sigap mengganti popok sang anak.


Setelah diganti, Aldin tampak anteng dengan mainannya.


Wanita itu menyentuh pundak sang suami.


"Mas~" panggil Adine dengan lembut.


"Hm, eh iya, kenapa?" jawab Asher setengah sadar seraya membuka matanya.


"Kita tidur disini saja, ya?"


"Yasudah," jawab Asher seraya membaringkan tubuhnya diatas kasur yang kini ditengahnya sudah terdapat Aldin.


Adine pun membaringkan tubuhnya disebelah kanan, sementara Asher disebelah kiri.


Pria itu mulai memejamkan matanya kembali, sepertinya pria itu benar-benar mengantuk.


Adine menguap beberapa kali namun, tampaknya sang anak masih ingin bermain.


Aldin memainkan mainan bolanya ke mulut mungilnya. bayi itu tampak anteng dengan dunianya sendiri, tanpa menghiraukan kedua orangtuanya.


Adine sudah terlelap kembali, ia sudah tak bisa lagi menahan kantuknya.


bayi tampan itu tampaknya menyadari bahwa sang mama sudah tertidur, ia mulai merengek.


Oek..oek


Wanita itu kembali terbangun, ia mendekat ke anaknya. Adine pikir anaknya itu haus, ia langsung memberi Asi sang anak, tanpa menghiraukan rasa malunya karena keberadaan sang suami.


Aldin langsung melahap sumber kehidupannya. wanita itu memilih memejamkan matanya kembali, ia membiarkan sang anak menyesap sumber kehidupannya.


Sementara Asher berganti posisi, pria itu kini menghadap kearah istri dan anaknya.


***


Langit gelap menjadi cerah, pertanda pagi mulai menyapa.


terdengar lenguhan seseorang terbangun dari tidurnya. Asher membuka matanya, matanya tanpa sengaja melihat belahan dada sang istri. tiga kancing terbuka, sehingga terlihat jelas sebagian bentuknya. sepertinya wanita itu lupa mengancingkan pakaiannya kembali sehabis menyusui Aldin.


bangun tidur sudah disuguhkan pemandangan yang membuat sesuatu dibawah sana menegang. pria itu menelan salivanya, ingin rasanya memegang namun itu tak mungkin, karena ia takut sang istri malah mengamuk.


Adine melenguh, ia membuka matanya perlahan. pertama kali yang Adine lihat adalah wajah tampan suaminya yang ternyata sudah bangun.


tatapan mereka bertemu, wanita itu belum menyadari sesuatu.


pria itu tersenyum aneh menatap sang istri.


"Dine~" panggil Asher dengan iseng.


"Hem," wanita itu hanya berdehem.


tatapan Asher beralih kearah dada sang istri.


"Itu," ucapnya yang membuat Adine tak paham.


wanita itu mengernyit,"apa?" tanyanya.


Adine melihat tatapan Asher yang tertuju pada dadanya, membuat Adine melihat apa yang Asher lihat.


Wanita itu langsung melotot kaget.


"Aaaaaa..., dasar mesum!" pekik Adine seraya menutupi dadanya dengan bantal dan tak lupa melempar bantal yang satunya lagi kearah Asher.


pria itu langsung meloncat dengan reflek.


"Dasar mencari kesempatan dalam kesempitan!" pekik Adine lagi.


"Salah kamu sendiri toh, kenapa gak dikancingin," elak Asher.


"Lagian aku juga udah pernah liat, udah ngerasain pula," sambungnya.


Mendengar itu Adine melotot,"Diam!" sentaknya.


Wajah wanita itu terlihat memerah karena malu. Asher benar-benar membuat Adine malu.


pria itu memilih pergi sebelum sang istri mengamuk.


Adine merutuki kecerobohannya, ia lupa mengancingkan pakaiannya, sehabis menyusui Aldin semalam.


🍁🍁🍁