Adine's Second Life

Adine's Second Life
Selalu salah



Sejak kemarin siang, Adine nampak cuek pada suaminya. hingga hari esoknya Adine masih mendiamkan Asher, wanita itu bersikap acuh tak acuh. berbicara saat ditanya dan selebihnya memilih diam, ini sungguh membuat Asher tak tenang. mengingatkan nya pada awal-awal pernikahan mereka. Adine tak menanggapi permintaan maaf sang suami, karena menurutnya sekali-kali Asher harus diberi pelajaran.


Mungkin, terlihat berlebihan karena memang hal yang sepele. tapi, jika mengingat-ingat kejadian dimasa lalu, Adine merasa suaminya itu memang harus diberi pelajaran.


Asher harus tahu bagaimana caranya menghargai. jika diingat-ingat, pria itu terkadang memang semaunya sendiri, justru Adine yang banyak mengalah dan memilih diam seolah tak peduli disaat awal-awal pernikahan.


Memang, saat ini pria itu mulai terlihat berbeda. contohnya, lebih banyak berbicara tidak sekaku dulu. dan kini, ia juga tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan bisa meluangkan waktu.


Adine senang, namun ada satu hal yang masih mengusik pemikiran nya. Prihal perselingkuhan Asher dimasa lalu, benarkah pria itu selingkuh? pikirnya.


Jika dilihat-lihat Asher yang sekarang, nampaknya tidak ada tanda-tanda pria itu berselingkuh. Namun, mengapa saat itu Adine melihat kebersamaan Asher dengan wanita itu seperti sepasang kekasih yang saling merindu. apakah semua itu hanya menjadi mimpi belaka? namun, mengapa terasa begitu nyata.


Adine yakin jika semua itu adalah nyata, tapi mengapa setelah mengulang waktu semuanya terasa berbeda.


Tak terasa Adine mulai memasuki bulan ketiga dikehidupan keduanya. dan sampai saat ini hidupnya masih aman-aman saja.


Terkadang Adine berpikir, bukankah seharusnya ia melihat Asher bersama wanita itu dalam waktu sekitar dua Minggu lagi dan bertepatan saat Aldin diculik.


Namun, apa yang terjadi sekarang?


Asher sudah bertemu dengan wanita itu, bahkan pria itu mengatakan tidak mengenalinya. Aneh, mengapa sangat berbeda dengan yang dulu.


Adine tak sadar sedang melamun sedari tadi, ia tersadar saat Asher menyentuh bahunya. wanita itu mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunan.


Asher masih berusaha membujuk Adine yang sedang marah, ia tak ingin istrinya bersikap cuek kepada dirinya.


Itu sangat menyebalkan menurut Asher.


Pria itu tak sadar bahwa dulu sikapnya lebih cuek dari pada Adine.


"Dine, saya minta maaf," ucap Asher untuk kesekian kalinya meminta maaf pada sang istri yang saat ini sedang berbaring membelakangi dirinya.


sementara Adine pura-pura tidur, sekali-kali pria itu memang harus diberi pelajaran agar kedepannya ia tahu bahwa sikapnya itu sama saja dengan tidak menghargai orang lain.


Sikap Asher yang seperti itu sama saja dengan tidak menghargai Adine yang sudah memasak makanan kesukaan asher, tapi pria itu malah memberikannya kepada asistennya.


Adine tidak mempermasalahkan itu sebenarnya, ia hanya ingin suaminya itu tahu bagaimana caranya menghargai seseorang.


"Ayolah, Dine. masa karena masalah sepele begitu doang kamu marah."


Ucapan Asher yang ini membuat Adine berpikir bahwa suaminya itu tidak benar-benar meminta maaf.


Adine berbalik menghadap suaminya yang mana membuat Asher tersenyum senang dan berpikir bahwa sang istri sudah memaafkan nya.


"Nah, gitu dong. kamu udah maafin aku, kan?" ucap Asher dengan percaya dirinya.


Wanita itu menaikkan sebelah alisnya,"kata siapa aku udah maafin kamu? jangan ge'er!"


"Apa tadi? kamu bilang, sepele? ya emang sih sepele. tapi satu hal yang harus kamu tahu, dengan sikap kamu yang seperti itu sama saja kamu tidak menghargai aku," sambungnya.


Asher terdiam, nampaknya pria itu mulai sadar akan sikapnya sejak dulu.


Mereka kini sama-sama terdiam.


"Aku tahu, aku banyak salah. mungkin kesalahan di masa lalu itu, sangat sulit kamu maafkan dan mungkin tak akan pernah bisa dilupakan. tapi, aku ingin memperbaiki nya sekarang," ucap Asher dengan pandangan kedepan.


"Tolong jangan mengungkit masa lalu, yang ada kita hanya akan saling menyalahkan, walau sebenarnya aku dan kamu sama-sama salah," sambungnya.


Suara pria itu terdengar sendu mengatakan itu. Adine tak bisa berkata-kata, ia tak sengaja mengungkit masa lalu, dan kini ia juga merasa tertampar akan sikapnya yang tak jauh berbeda dengan Asher.


Pria itu merasa semua yang ia lakukan memang selalu salah dimata Adine.


Ya, Asher benar. jika terus mengingat masa lalu, memang terasa menyakitkan, pikir Adine.


Dan pada akhirnya mereka tertidur dengan saling memunggungi.


***


Pagi harinya, Asher sudah siap dengan baju kantornya. pria itu berangkat lebih awal dari biasanya, Asher tidak sarapan terlebih dahulu. ia langsung pergi begitu saja tanpa menoleh pada Adine yang sedang menata makanan.


Pria itu terlihat terburu-buru, nampaknya Asher sedang mengangkat panggilan telpon dari seseorang sambil berjalan keluar rumah.


Entah mengapa Adine merasa bahwa Asher berusaha menghindari nya, sejak bangun tidur pria itu lebih banyak diam.


Puk!


Tepukan di bahu membuat Adine tersadar.


wanita itu menoleh pada bi Sumi.


"Maaf nyonya, saya tepuk bahunya. saya lihat nyonya melamun dari tadi," ucap bi Sumi.


"Iya, gapapa bi," sahut Adine.


Adine menarik kursi untuk ia duduki.


"Oh ya, bi. bibi makan disini saja, temani saya makan. gak enak kalau makan sendirian," ucap Adine meminta bi Sumi untuk makan bersama dimeja itu.


"Tapi nyonya--"


"Gak papa bi, duduk aja, saya senang kalau makan ada temannya," ucap Adine menyela.


Akhirnya bi Sumi hanya bisa menurut kepada majikannya itu.


🍁🍁🍁