
Sejak pulang dari kantor, Asher menatap sang istri dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan, lalu memalingkan wajahnya.
seketika bayangan istrinya yang sedang tertawa bersama pria lain, membuat pria itu kesal sendiri.
pria itu berdecih dalam hati.
padahal sebelumnya dia tak pernah merasakan seperti saat ini. sungguh rasa ini sangat membuatnya tak nyaman. ingin rasanya menanyakan siapa pria itu, namun setelah dipikir-pikir tak penting juga.
untuk apa ia menanyakan itu, seperti orang yang sedang cemburu saja, pikirnya.
memang dasarnya Asher yang terlalu gengsi. tidak menerima bahwa dirinya memang sedang cemburu.
pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"argh!" tanpa sadar dirinya berteriak, membuat Adine yang ada didepan pintu kamar menatap Asher dengan heran.
"ada apa dengan pria itu?" tanyanya dalam hati.
Asher yang menyadari keberadaan sang istri, ia menoleh dan menatap tajam istrinya itu.
"Apa liat-liat!" ujar Asher dengan galaknya seraya melototkan matanya.
Adine tersentak melihat kegalakan sang suami,"galaknya," ucapnya seraya memegang dadanya.
wanita itu memilih berlalu dari pada menghadapi suaminya yang berubah jadi singa itu.
Asher menghempaskan tubuhnya ke kasur. menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan matanya.
tak lama ia membuka matanya kembali, tiba-tiba saja bayangan itu terlintas kembali. pria itu mengacak rambutnya, sepertinya malam ini ia tak akan bisa tidur dengan tenang, pikirnya.
Drtt
suara panggilan dari ponselnya, ia meraih ponselnya dengan malas. lalu menekan tombol hijau.
"hallo," ucapnya dengan malas.
📞:"kenapa Lo, lemes amat jawabnya?" tanya seseorang disebrang sana.
"Lo yang kenapa nelpon gue?" Asher bertanya dengan ketusnya.
📞:"buset dah, ketus amat. ya, gak kenapa-kenapa sih, kangen aja sama Lo." ujar Ran disebrang sana.
Ya, pria yang menghubungi Asher adalah Ran.
"cih, Najis! gue normal ya." pria itu bergidik mendengar kata 'kangen' dari sahabatnya itu.
📞:"yaelah sher, Lo kira gue gak normal. emangnya kenapa kalo cowok bilang kangen sama sesama cowok. gue bilang kangen karena Lo sahabat gue."
Asher bangkit dan berjalan menuju balkon.
"ya geli aja gue dengernya. kayak pasangan gay aja Lo-"
📞:"sembarang aja Lo kalo ngomong, gue cowok tulen ya." Ran menyela perkataan Asher.
"Lo fikir deh, emang ada cowok bilang ganteng sama cowok lainnya? gak ada kan?" ucap Asher.
📞:"gak ada sih," sahut Ran.
"Nah, itu. gak pantes aja gitu kalo cowok bilang ganteng sama cowok lain, malah dikiranya gay." jelas Asher.
📞:"iya, iya. udah ah, kenapa jadi bahas itu sih."
"ya, Lo ada apa nelpon gue?" tanya Asher.
📞:"gak ada apa-apa sih, gabut aja."
wajah pria itu menjadi datar.
"gak penting, kan? gue tutup telpon nya."
Tut.
benar saja, Asher langsung memutuskan panggilan nya sepihak.
pria itu kembali masuk kedalam, karena cuaca malam yang semakin dingin.
terlihat Adine yang baru saja masuk dan menutup pintu kamar.
wanita itu berjalan santai menaiki ranjang.
melihat wajah sang istri, pria itu menjadi kesal kembali.
entah mengapa ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menanyakan tentang pria yang di restoran itu.
"siapa pria itu?" Ceplosnya.
"sial, keceplosan lagi." rutuk Asher dalam hati.
Adine yang sedang merebahkan tubuhnya pun menegakkan tubuhnya kembali.
"hah?" ucap Adine bingung.
bagaimana tidak bingung, pria itu bertanya yang kurang Adine pahami.
Asher berdecak,"ck, lupakan!" ujarnya seraya berjalan kearah ranjang.
pria itu ikut merebahkan dirinya di ranjang sebelah Adine.
"dia kenapa sih?" tanya Adine dalam hati.
sungguh, pria yang menjadi suaminya itu benar-benar tak bisa ditebak. kadang ramah, kadang dingin, ketus, kadang marah-marah tidak jelas.
Adine menggeleng kepala, pusing jika terus memikirkan itu. ia memilih memejamkan matanya.
sementara Asher, ia tak bisa tidur ia terus membolak balikan badannya. sehingga membuat Adine yang baru saja memejamkan matanya menjadi terusik.
"kenapa sih?" kesal Adine membalikkan badannya menghadap sang suami.
pria itu terlihat berbeda tidak seperti biasanya. apakah dia sedang ada masalah dikantornya, pikir Adine.
Asher menghembuskan nafasnya kasar.
"saya juga gak tau, Dine." ucap Asher entah sadar atau tidak ia menyebutkan nama sang istri.
Adine termangu, untuk pertama kalinya sang suami menyebutkan namanya.
"tadi kamu sebut nama aku," ujar Adine seraya mengerjapkan matanya.
antara percaya dan tidak percaya.
"hah?" Asher menoleh
"ya emang kenapa?" tanyanya menatap sang istri.
"kamu sebut nama aku untuk pertama kalinya selama kita menikah." ucap Adine.
"Masa sih?" pria itu malah balik bertanya seakan tak percaya.
"Iya." Adine mengangguk mantap.
Mereka sama-sama terdiam, Asher memandang langit-langit kamar. ia jadi teringat dengan perkataan Ran.
"Gini ya, sher. Lo itu kan, cowok. harusnya Lo duluan dong yang pendekatan. gimana mau maju hubungan kalian, kalo Lo sama istri Lo aja sama-sama gak peduli."
Ucapan Ran diwaktu itu masih terngiang-ngiang. memang benar yang dikatakan Ran, sebagai pria sejati dia seharusnya yang memulai pendekatan, pikir Asher.
"Apakah ini waktunya?" batin Asher sesekali melirik sang istri yang sama-sama masih terdiam.
"khem, Adine." ucap Asher berdehem.
Adine tersadar dan balik menatap sang suami,"Iya."
suami istri itu saling bersitatap.
"Maaf." ucap Asher di keheningan.
Adine mengernyit,"untuk?"
"Semuanya," kata Asher.
Wanita itu mengangguk,"iya aku maafin. aku juga minta maaf, kalau selama ini aku juga banyak salah." ujarnya
Apakah ini sudah waktunya untuk memulai semuanya dari awal, pikir Adine.
Mereka sama-sama menatap langit-langit kamar.
"Dine," panggil Asher.
"Ya."
"Sa-saya mau kita memulai semuanya dari awal," ucap Asher sedikit gugup.
Kini, Adine menatap sang suami dengan tatapan mencurigakan.
Apakah benar ini suaminya? benarkah Asher mulai menerima pernikahan ini?
pertanyaan itu muncul dibenak Adine.
🍁🍁🍁