
Setelah selesai makan siang, mereka kini berkumpul diruang keluarga sambil menonton televisi.
Terdengar bel rumah berbunyi, Asher sangat malas untuk membuka pintu, pria itu menyuruh sang adik untuk membukakan pintu.
"Sheira, bukain pintunya," titah Asher kepada sang adik yang sedang memainkan ponselnya.
Gadis itu berdecak namun, ia tetap melakukan titah kakaknya itu.
Dengan setengah hati, gadis itu membukakan pintu untuk tamu yang tak lain adalah asisten Romi.
"Eh, Om Romi," ujarnya saat tahu bahwa yang datang adalah asisten kakaknya.
Pria itu menatap adik tuannya itu dengan datar saat Sheira memanggilnya dengan sebutan 'Om'. sudah berapa kali asisten Romi mengingatkan adik dari tuannya itu untuk memanggilnya 'kak' saja. Namun, gadis itu tetap memanggilnya dengan sebutan Om. padahal umurnya tidak setua itu, hanya beda satu tahun saja dengan Asher, tentu ia yang lebih tua.
Adik dan kakak sama saja, sama-sama menyebalkan, pikir Romi.
"Mohon maaf, nona. tolang jangan panggil saya om, karena saya tidak setua itu," seru asisten Romi mengingatkan adik dari tuannya itu, ia tak terima disebut 'om'.
Pria itu mengatakan dengan raut datarnya.
Sheira malah terkekeh, gadis itu sangat senang bisa menjahili asisten dari kakaknya yang kaku itu.
"Gak mau! aku pokoknya akan terus panggil Om," bantah Sheira.
Romi hanya bisa menahan kekesalannya.
"Om Romi yang ganteng, silahkan masuk!" ucap Sheira dengan senyuman yang menyebalkan dimata Romi.
Pria itu masuk kedalam sementara Sheira menutup pintu terlebih dahulu.
Gadis remaja SMA itu dengan tak tahu malunya langsung menggandeng sebelah tangan Romi yang sedang menganggur itu.
Romi terkejut, tanpa aba-aba adik dari tuannya itu menggandeng tangannya.
Pria itu nampak tak nyaman dan berniat melepaskan namun, Sheira langsung mempererat.
"Nona Sheira, tolang lepaskan!" pinta Romi.
Gadis itu tak menghiraukan, sementara Romi hanya bisa pasrah.
Sesampainya diruang keluarga, Terlihat sang tuan sedang bermanja dengan sang istri. saat ini Asher menyenderkan kepalanya ke bahu Adine, tangan pria itu tak tinggal diam. tangan Asher menelusup masuk kedalam pakaian sang istri, ia mengusap-usap perut rata istrinya itu.
Nampaknya Adine mulai risih karena tangan nakal suaminya itu.
Wanita itu memukul lengan suaminya.
Puk!
"Apa sih, mas. tangannya tolong kondisi kan," tegur Adine jengah dengan tingkah Asher.
Pria itu mencebik kesal,"ish, gak bisa liat suami senang sedikit."
"Udah tua, gak usah banyak tingkah."
Perkataan sang istri membuat wajah Asher yang keruh menjadi tambah keruh.
Gelak tawa terdengar dari belakang, dengan reflek suami istri itu menoleh kebelakang.
"Kalian!" ucap Adine dan Asher bersamaan.
Sheira yang menyaksikan kelakuan sang kakak, membuat gadis itu tertawa. apalagi sang kakak ipar menyebut suami sendiri dengan sebutan tua.
Sementara asisten Romi mengalihkan pandangannya, pura-pura tak melihat. pria itu berusaha menahan tawanya.
wajah Adine bersemu merah karena malu, sedangkan Asher mencoba terlihat biasa saja, walau sebenarnya ia juga malu.
"Hahaha..., dengerin tuh. udah tua gak usah banyak tingkah," Sheira begitu puas menertawakan sang kakak.
"Diam!" sentak Asher kesal mendengar suara tawa sang adik.
Pria itu baru sadar saat matanya tak sengaja melirik tangan Sheira yang sedang menggandeng tangan Romi.
"Romi, Sheira. kalian..." ucapan Asher menggantung.
Pria itu menelisik keduanya.
Romi segera tersadar, ia segera melepaskan tangan Sheira dengan paksa.
Sheira menggaruk kepalanya yang tak gatal, menatap sang kakak dengan tertawa garing.
"Tidak tuan. saya tidak ada apa-apa dengan adik anda, tuan," ucap Romi menjelaskan, ia tak ingin tuannya itu salah paham.
Asher hanya berdehem.
Asisten Romi segera mendekat kepada tuannya, karena tujuannya datang ke sini memang untuk urusan pekerjaan.
"Ini tuan, berkas yang harus anda tanda tangani segera, kontrak kerjasama dengan perusahaan yang kemarin anda kunjungi," ujar asisten Romi dengan lugas.
Adine teringat ia belum menyediakan minuman untuk asisten suaminya itu.
wanita itu bangkit, berniat membuatkan minuman.
"Mau kemana?" ucap Asher bertanya sambil menahan sang istri.
"Ke dapur, mas. mau bikin minuman untuk asisten Romi," jawab Adine.
"Gak usah. sebentar lagi juga pulang, iya kan, Romi?"
Romi yang ditatap itupun segera menjawab,"Ah, iya benar kata tuan. tidak usah dibuatkan minum, saya hanya sebentar kok disini."
"Tuh, kan. ini berkasnya," ucap Asher sambil menyerahkan berkas itu kepada Romi.
"Iya, tuan, nona Adine. kalau begitu saya permisi," seru asisten Romi seraya berpamitan.
Adine tersenyum,"iya, hati-hati."
Sementara Sheira yang sejak tadi hanya diam, segera memakai tas gendongnya saat melihat asisten kakaknya itu akan pergi.
Romi berpikir sejenak, ia seperti melupakan sesuatu.
"Sebentar tuan, saya melupakan sesuatu," ucap Romi sambil melangkah keluar untuk mengambil sesuatu yang ia lupakan.
Sheira berlari mengejar asisten Romi,"Om Romi, tunggu! aku ikut."
Pria itu membuka mobilnya dan benar saja ia melupakan benda milik tuannya. Romi menutup mobilnya kembali.
Namun, ia terkejut dengan keberadaan Sheira dibelakangnya.
"Astaga, nona." kaget Romi.
gadis itu cengengesan,"Hehehe, Om Romi. Sheira yang cantik, baik hati dan tidak sombong, mau numpang boleh dong?"
"Ya pasti boleh lah, makasih loh," sambungnya menjawab sendiri.
Gadis itu langsung masuk kedalam mobil, tepatnya kursi belakang.
Pria itu hanya menggeleng kepala dan menghembuskan nafasnya.
Ia masuk kedalam rumah kembali dengan membawa barang yang kemarin tuannya berikan.
Sementara Asher sudah merasakan firasat tak mengenakan sedari Romi pergi.
"Sebenarnya, apa yang akan Romi berikan?" batin Asher bertanya-tanya.
Tak lama Romi datang kembali dengan membawa sebuah benda yang tak lain adalah rantang.
"Ini tuan, rantangnya. terimakasih, makanannya sangat enak. lain kali jika tuan tidak ingin lagi, berikan kepada saya saja," ucap Romi yang belum menyadari perubahan raut wajah tuannya.
Adine yang mendengar perkataan asisten Romi pun langsung menatap Asher dengan tajam.
Jadi benar dugaannya, bahwa suaminya itu memang tidak memakan makanan yang sudah dibawakan olehnya, pikir Adine.
Sungguh, Adine merasa Asher tidak menghargai dirinya yang sudah meluangkan waktu untuk memasak makanan kesukaannya.
Asher menerima rantang itu dengan menatap Romi sadis,"Romi," geramnya.
Romi yang menyadari sesuatu yang tidak mengenakan pun segera memilih pergi.
ia menatap bergantian suami istri itu,"kalau begitu, saya permisi," ucapnya berlalu pergi.
"Romi sialan! ngapain dia bawa rantang ini," umpat Asher dalam hati.
Asher melirik sang istri yang kini sedang menatapnya tajam.
Pria itu bingung harus berbuat seperti apa.
Adine mengambil rantang itu dengan kasar dari tangan Asher.
"Oh, jadi kamu gak suka aku bawain bekal? bilang dong dari awal, tau gitu aku gak bakal masak dulu waktu mau ke kantor kamu," ucap Adine santai dengan raut wajah datar.
Diluar ekspektasi Asher, ia kira Adine akan marah kepadanya. namun, istrinya itu terlihat biasa saja. Ah, iya jadi merasa lega mendengarnya.
"buang-buang waktu," ketus Adine melengos pergi.
Asher tahu bahwa Adine marah padanya namun, ia juga tak tahu harus berbuat apa.
Ia jadi pusing sendiri memikirkan bagaimana caranya membujuk Adine yang sedang marah.
"Ini semua gara-gara Romi!"
"Awas saja besok dikantor," ucapnya.
🍁🍁🍁