
Asher berdehem, melanjutkan langkahnya mengabaikan rasa malunya seolah tak terjadi apa-apa.
Pria itu mengambil baju, lalu masuk ke kamar mandi tanpa sepatah katapun.
Pria itu sebenarnya merasa heran, setahunya Adine tidak memberi Asi kepada anaknya. Namun, hari ini entah ada apa dengan istrinya itu sehingga dengan berbaik hati mau menyusui sang anak.
Adine merutuki kecerobohannya yang tak mengunci pintu terlebih dahulu, agar tak ada yang masuk.
Kini ia malu berhadapan dengan Asher. Ya, setelah mereka memiliki anak mereka tidur dikamar yang sama. Namun, karena Asher yang jarang pulang membuat Adine selalu tidur sendiri dikamar besar itu.
Setelah selesai menyusui Aldin, ia keluar dari kamar menuju lantai satu.
"Ceroboh banget sih, kenapa coba tadi gak dikunci pintunya."
Adine merutuki kecerobohannya.
"Lagian tumben sekali dia pulang siang?" Monolognya.
Ia sejenak melupakan kejadian memalukan itu, mengajak berbicara bayi nya, namun Aldin seolah mengerti sedang diajak berbicara, bayi itu hanya tersenyum.
Tanpa Adine sadari, sang suami memperhatikan tingkahnya sedari tadi.
Asher berbelok menuju dapur. Sesampainya di meja makan, ia melihat berbagai macam makanan yang sudah tersaji di sana.
Pria itu mendudukan dirinya dikursi, lalu menuangkan nasi ke piring. Ia juga mencicipi satu persatu makanan yang terlihat enak itu.
"Enak, tidak seperti biasanya." Batin pria itu.
Asher memakan dengan lahap, tanpa ia ketahui semua masakan enak itu istrinya lah yang membuat.
Tak lama bi sumi menghampiri tuan Asher untuk membereskan piring kotor.
"Bi Sumi, siapa yang masak hari ini?" Tanya Asher penasaran, karena rasa masakan kali ini berbeda dari biasanya.
"Nyonya, tuan. Yang masak," jawab bi Sumi.
Asher mengernyit heran, setahunya sang istri tidak bisa memasak. Jangankan memasak, masuk ke dapur saja tak pernah. Setahunya Adine sangat sibuk dengan butiknya itu dan tak akan ada waktu untuk memasak.
"Bukankah dia tidak bisa memasak?" Monolognya dalam hati.
Rasanya sangat aneh, benarkah istrinya itu berubah, pikir Asher.
"Benarkah?" Tanyanya tak percaya
"Iya, tuan. Ini semua nyonya yang masak," jawab bi Sumi mantap, meyakinkan sang tuan.
Entahlah, Asher harus percaya atau tidak. Namun, tak mungkin bi Sumi membohonginya, bukan?
Entah perasaan saja, atau memang hari ini terasa berbeda. Sikap Adine terlihat asing dimatanya.
Tiba-tiba saja pria itu teringat dengan kejadian yang tadi. Wajahnya terasa panas seketika.
Asher berdehem menetralkan raut wajahnya.
Bi Sumi yang sedang membereskan piring itupun sesekali melirik tuannya.
"Wajah tuan merah, tuan demam?" Kata bi Sumi cemas
Asher memegang wajahnya,"ah, ya. Saya memang sedang tak enak badan." Ujarnya.
Pria itu berdiri dan bersiap melangkah.
"Tuan, mau saya buatkan teh hangat?" Bi Sumi menawarkan.
Bi Sumi segera membuatkan teh manis.
Pria itu kembali ke kamarnya, namun saat melewati kamar Aldin. Entah mengapa ia menghentikan langkahnya. Melihat pintu kamar yang tak tertutup rapat, membuat pria itu menutupkan pintu bercat putih itu dengan rapat.
Tangannya masih memegang handle pintu, sebenarnya ia ingin masuk namun ragu.
Asher menghembuskan nafas sejenak, lalu ia dengan hati-hati membuka pintu agar tak menimbulkan suara.
Setelah pintu terbuka, ia melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya.
Melihat sepasang ibu dan anak itu tertidur, seutas senyum terbit di wajah kakunya itu.
Entah mengapa ia senang melihat pemandangan itu.
Tanpa sadar, kakinya melangkah mendekati ranjang.
Kini Asher bisa melihat dengan jelas wajah dari anaknya itu.
Deg
"Wajahnya sangat mirip denganku," batinnya.
Tangannya terulur mengelus kepala sang anak dengan kaku.
Ini adalah pertama kalinya Asher dapat melihat wajah sang anak dengan jelas. Selama ini ia tak pernah memikirkan keadaan anaknya, tak pernah tahu bagaimana wajahnya. Hanya bisa mendengar dari orang-orang yang ada di rumahnya itu, banyak yang mengatakan bahwa sang anak sangat mirip dengannya.
Dan benar saja, ternyata anaknya memang sangatlah mirip dengannya. Tak ada satupun yang mirip dengan Adine, sepertinya anaknya ini ingin diakui oleh sang papa.
"Papa?" Gumamnya memandangi wajah sang anak.
Entah mengapa hatinya merasa hangat, mendengar panggilan itu untuknya. Tak menyangka sekarang ia sudah menjadi seorang ayah.
Pria itu mencium kening bayi tampan itu, bertepatan dengan Adine yang melenguh seraya membuka matanya.
Adine mengerjapkan matanya, menajamkan penglihatannya. Rasanya seperti mimpi, pria itu mencium kening sang anak.
"Ini pasti mimpi, gak mungkin si pria kaku itu mau melihat anaknya." Gumam Adine pelan namun masih terdengar ditelinga Asher, yang mana membuat Asher tersadar bahwa Adine sudah bangun.
Pria itu segera berdiri, ia seperti kepergok mencuri sesuatu. Mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah.
Adine pun mendudukkan dirinya, ternyata yang tadi itu nyata. Asher mencium Aldin.
"Asher, kenapa kamu ada disini?" Setelah mengatakan itu Adine segera membekap mulutnya, ia keceplosan.
Pria itu mengangkat sebelah alisnya,"kenapa? Gak boleh? Terserah saya dong, inikan rumah saya."
Asher melengos pergi membuat Adine
Melongo ditempatnya.
"Waw, ternyata dia bisa ngomong juga." Ucap Adine.
Pertama kalinya Adine mendengar Asher berbicara lebih dari dua kata. Yang Adine tahu suaminya itu adalah orang yang sangat irit bicara, satu atau dua kata yang keluar dari mulutnya saat berbicara dengan Adine. Menurut Adine, Asher adalah pria yang pelit mengeluarkan suara. Secuek-cueknya Adine, ia tak irit dalam berbicara.
Setelah keluar dari kamar itu, Asher menggerutu kesal.
"Pria kaku? Cih, tidak sadar diri!" Gerutunya.
🍁🍁🍁