Adine's Second Life

Adine's Second Life
Keluar kota



Disebuah rumah sakit ternama, tepatnya berada di kota B.


Disalah satu ruangan UGD, seorang gadis berwajah pucat terbaring dengan dibantu alat-alat medis.


gadis itu terbaring koma hampir lima bulan lamanya. ia adalah korban tabrak mobil pengusaha muda yang saat itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, kebetulan gadis itu akan menyebrang jalan namun, nahasnya gadis itu tertabrak oleh mobil yang dikendarai pengusaha muda itu.


Identitas gadis itu sudah diketahui namun sayangnya, ia adalah gadis sebatang kara. kedua orangtuanya sudah meninggal, sementara gadis itu adalah anak satu-satunya.


seorang pria berkemeja hitam tengah menunggu diluar, pria itu tampak sedang menghubungi seseorang.


"Halo, tuan," sapanya pada seseorang lewat telpon.


Setelah mendapat jawaban dari orang yang ditelpon nya, pria itu melanjutkan pembicaraan nya.


"Saya ingin memberitahu, gadis itu sudah menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar dari koma nya," ucapnya.


Seseorang disebrang sana menjawab dan langsung mematikan panggilannya sepihak.


Pria berpakaian kemeja hitam itu berlalu pergi entah kemana.


Sore harinya, Asher dalam perjalanan pulang. pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia berhenti disebuah minimarket.


Niatnya, pulang dari kantor ia ingin segera berbaikan dengan sang istri. apalagi besok sepertinya ia akan pergi keluar kota karena ada suatu masalah.


setelah selesai membeli makanan ringan dan lainnya. pria itu kembali melajukan mobilnya menuju rumah.


Sesampainya dirumah, Asher masuk kedalam langsung disuguhkan tangisan Aldin.


"Aldin kenapa?" tanya nya seraya menghampiri sang istri yang saat ini tengah menenangkan sang anak.


"Gak tahu, mas. dari tadi Aldin nangis terus," jawab Adine.


Asher meletakkan belanjaannya itu ke meja. pria itu mengambil alih sang anak dari gendongan Adine.


Setelah berada di dekapan papa nya, tangisan Aldin tampak reda. bayi itu menatap wajah sang papa.


"Kayaknya Aldin lagi kangen sama papa nya deh," ucap Adine.


"Apalagi akhir-akhir ini kamu selalu sibuk," sambungnya.


Pria itu menatap sang istri,"maaf, kalau beberapa hari ini saya mengabaikan kalian," ucapnya dengan tulus.


Adine tersenyum,"iya, gapapa. aku kira kamu marah sama aku, mas."


"Sebenarnya bukan marah sih. cuma, aku mau kita gak usah ungkit-ungkit kejadian yang lalu," ucap Asher.


Wanita itu hanya mengangguk.


"Maaf, aku yang mulai duluan," ucap Adine meminta maaf.


"yasudah, gak usah dibahas lagi."


Pria itu duduk di sofa dengan Aldin yang ada di pangkuannya.


"Oh iya, sampe lupa kamu habis kerja pasti cape. Mau aku buatin teh atau kopi," ucap Adine menawarkan minuman.


"Teh aja, Dine. jangan terlalu manis, ya," seru Asher.


"Iya, mas."


Adine pergi ke dapur untuk membuatkan teh.


pria itu mengajak Aldin berceloteh, sekarang ia tak sekaku dulu saat bersama sang anak.


Pria itu malah semakin gemas dengan pipi chubby anaknya itu.


"Ternyata kamu semakin bulat," ujarnya yang mana langsung mendapat tabokan dari tangan kecil Aldin.


Puk!


Nampaknya, bayi itu tak terima dikatakan bulat oleh sang papa.


"Udah berani ya, sekarang, hm?"


Asher mendekatkan hidungnya ke hidung Aldin yang kecil namun agak mancung itu.


Aldin tertawa diperlakukan seperti itu.


"Dasar pesek," ledek Asher.


bayi itu malah semakin tertawa, Adine yang baru saja datang tersenyum senang melihat kedekatan mereka.


"Wah, Aldin seneng banget kayaknya," ucap Adine seraya meletakkan secangkir teh.


"Iya dong, kan sama papa nya," sahut Asher dengan bangganya.


"Iya deh."


"Sini mas, aldin nya. kamu minum dulu teh nya tuh," ujar Adine sambil mengambil alih sang anak.


Asher meminum tehnya, lalu ia kembali meletakkan cangkirnya.


"Dine, besok saya mau keluar kota. nanti kamu siapin pakaiannya ya," ucap Asher memberitahu.


"berapa hari, mas. di sana nya?"


"gak lama kok, dua hari saja."


Adine mengangguk,"oke, nanti aku siapin."


Sebenarnya pria itu tak ingin meninggalkan istri dan anaknya namun, ada sesuatu yang harus ia pastikan keadaannya di sana.


***


Sesuai dengan perkataannya kemarin, hari ini Asher bersiap-siap untuk berangkat keluar kota.


Pria itu mencium sang anak terlebih dahulu sebelum berangkat. Lalu, pandangannya beralih pada sang istri.


pria itu memberikan senyuman manis nya, dengan secepat kilat, ia mengecup dahi sang istri.


Adine mematung di tempat, ia tak menyangka dengan tindakan Asher yang tiba-tiba itu.


Asher berdehem, menetralkan detak jantungnya.


"Kalau gitu, saya berangkat sekarang," ucapnya sebelum masuk mobil.


"I-iya, mas."


Asher masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.


🍁🍁🍁