Adine's Second Life

Adine's Second Life
Perubahan adine



Pagi telah menyapa, mentari bersinar dengan terangnya.


Wanita beranak satu itu membuka gorden jendela kamarnya, cahaya mentari masuk dan itu membuat seseorang yang sedang tertidur dengan nyamannya terusik.


"Eungh."


Pria berwajah tampan itu membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah seorang wanita berambut panjang yang tengah berdiri didepan jendela seraya membuka gorden.


"Adine!"


Wanita itu reflek menoleh mendengar namanya disebutkan.


Asher, bangkit dan memposisikan diri dengan duduk.


"Hai, sudah bangun?"


Suara lembut Adine menyapa Asher.


Pria itu mengernyitkan dahinya, heran akan Adine yang menyapanya, biasanya juga wanita itu tidak suka berbasa-basi.


"Masih tidur," pria itu menjawab dengan ketusnya, lalu melangkah menuju kamar mandi.


Adine mendengus kesal mendengar jawaban Asher.


"Dih, ditanya baik-baik jawabnya malah begitu." Gerutunya


Adine segera merapihkan ranjang yang sudah berantakan itu.


Mendengar suara tangisan Aldin, ia bergegas menuju kamar sebelah.


Cklek.


Adine menghampiri Risa yang tengah menimang Aldin.


"Kenapa, Ris?"


"Tuan muda sepertinya haus, nyonya."


"Oh, iya. Sudah waktunya ternyata," ujarnya.


Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi, waktunya Adine memberi Asi kepada sang anak.


Wanita itu segera mengambil alih Aldin. Ia mendudukkan dirinya di ranjang, tak lupa mengambil bantal sebagai penghalang, agar kejadian kemarin tak terulang lagi.


"Nyonya. Kalau begitu saja mau ke belakang dulu," ujar Risa berpamitan.


"Iya, silahkan."


Setelah Risa pergi, wanita itu fokus kembali pada sang anak. Aldin terlihat sangat kuat menyusu.


"Anak mama udah wangi," celoteh Adine.


"Ganteng banget anak siapa sih, ini? Hm?"


Jarinya dengan gemas memegang pipi gembul sang anak.


"Yang pasti anak mama Adine sama papa Asher."


Adine terus berceloteh, mengajak anaknya berbicara. Kadang ia bertanya, ia juga yang menjawab.


Hari ini adalah hari Minggu, Asher sudah rapih dengan pakaian santainya. Pria itu menutup pintu kamar, berjalan menuruni anak tangga.


Asher terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu dan itu membuat Risa yang melihat sang tuan sedang mencari sesuatu pun bertanya.


"Tuan sedang mencari apa?" Tanya Risa kebetulan berada dibelakang Asher.


Pria itu sedikit tersentak, membalikkan badannya kebelakang.


"Tidak. Saya tidak sedang mencari apa-apa." Ujar Asher dengan tegasnya.


"Oh, kirain saya tuan sedang mencari nyonya." Seru Risa seraya mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Hem. Memangnya dia ada dimana?" Pria itu bertanya tanpa sadar secara tidak langsung dirinya memang sedang mencari keberadaan sang istri, namun ia terlalu gengsi untuk mengakui.


"Tuh, kan. Benarkan dugaan saya, tuan sedang mencari nyonya. Hayo ngaku," ujar Risa antusias karena dugaannya benar.


"Apaan sih, kamu. Ngapain saya cari dia, gak penting!" Ucap Asher dengan sinis nya.


Pria itu melengos pergi.


"Tuan, nyonya ada di kamar tuan muda." Teriak Risa memberitahu keberadaan Adine.


Babysitter itu merasa gemas akan tingkah pasutri yang sama-sama cuek itu. Si suami yang gengsian dan si istri yang cuek, lengkap sudah.


"Dasar tuan gengsian." Batin wanita muda itu.


"Ternyata wanita itu ada di kamar Aldin."


Ia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Ternyata dimeja makan sudah tersaji berbagai makanan yang mengunggah selera.


Ada rendang, ayam rica-rica, rolade tahu, bakwan, sambal kacang dan sayur sup.


Pria itu memakan dengan lahapnya tanpa menyadari keberadaan Adine yang memperhatikannya.


"Gimana rasa masakan aku, enak, kan?"


Pertanyaan Adine yang tiba-tiba itu membuat Asher tersedak.


Uhuk...uhuk.


Pria itu mengambil air minum dan meminumnya hingga tandas.


Menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Sedangkan sang pelaku dengan santainya mendudukan dirinya dihadapan Asher. Wanita itu tersenyum menunggu jawaban sang suami.


"Gimana rasanya?" Tanya Adine


Asher menatap sang istri dengan datar,"biasa saja."


Pria itu melanjutkan makannya.


Adine terus memperhatikan sang suami yang sedang memakan masakannya.


"Dasar pria kaku, apa susahnya sih bilang enak." Ucap Adine dalam hati.


Asher yang terus diperhatikan itupun merasa tak nyaman, ia segera menyudahi makannya.


"Eh, mau kemana?"


Adine bertanya saat melihat Asher bangkit dari duduknya.


Pria itu bukannya menjawab, ia malah memperhatikan Adine dengan intens.


Alisnya terangkat satu,"Aneh." Gumamnya.


Ia memasukan tangannya ke saku celana, melangkah pergi.


Melihat tingkah Asher membuat Adine kesal sendiri. Ia baru tahu, pria itu selain kaku dan dingin ternyata Asher manusia yang menyebalkan.


***


Pria bernama lengkap Asher Damian itu merasa heran akan perubahan istrinya. Pasalnya, sejak kemarin Adine bersikap tidak seperti biasanya.


Kemana perginya istrinya yang cuek itu?


Menyapanya saja tidak pernah, apalagi mengajaknya mengobrol.


Namun, hari ini sang istri terlihat begitu berbeda.


Mulai dari Adine yang sekarang mau memberikan Asi kepada anaknya. Lalu, wanita itu memasak sarapan untuk dirinya.


Dan apa tadi, wanita cuek itu mengajaknya mengobrol.


"Ck, aneh. Sangat mencurigakan," ujarnya seakan tak percaya akan perubahan pada istrinya itu.


Pria itu berpikir bahwa sang istri sedang kerasukan.


Drtt.


Dering ponsel membuyarkan lamunannya.


Ia meraih ponselnya yang berada diatas meja kerjanya.


Ya, saat ini Asher berada diruang kerjanya. Ruangan yang berada dilantai satu.


Ia melihat nomor yang menghubunginya, ternyata itu panggilan dari sang adik.


Pria itu langsung menolak panggilan. Ia sangat malas meladeni sang adik yang sangat cerewet itu.


Ya, Asher adalah anak pertama dan ia memiliki satu orang adik yang sangat menyebalkan dimatanya, walaupun begitu ia sangat menyayangi sang adik.


Ponselnya berdering kembali, namun ia hiraukan.


Asher membuka laptopnya, ia akan mengerjakan pekerjaan kantor nya yang belum terselesaikan.


🍁🍁🍁