Adine's Second Life

Adine's Second Life
Selingkuh?



Asher tersenyum hangat melihat sang istri menyambut kepulangannya. sang istri mencium tangannya dan mengambil tas kerja miliknya.


"Mas, mau aku buatin teh atau kopi?" Ucap Adine menawarkan minuman kepada Asher.


"Kopi saja," jawab Asher.


Adine mengikuti langkah kaki suaminya menuju kamar mereka. Asher berlalu ke kamar mandi, sementara Adine menyimpan tas kerja milik Asher di meja. Ia kembali keluar dari kamar akan membuatkan kopi untuk sang suami.


Tak lama Asher keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang diusapkan ke kepalanya. pria itu terlihat lebih fresh setelah mandi.


Asher hanya menggunakan kaos putih polos dengan celana training, ia tetap terlihat tampan dengan stelan santainya.


Cklek.


pintu kamar terbuka, ternyata sang istri lah yang masuk kedalam kamar dengan membawa secangkir kopi untuk dirinya.


"Ini mas kopinya," seru Adine seraya memberikan kopi itu kepada Asher.


"Makasih," sahut Asher menerima kopi itu.


Pria itu mulai menyesap kopinya yang masih terlihat panas itu.


Adine mendudukan dirinya disamping sang suami.


"Mm, mas. kamu pernah dekat sama seseorang gak?" tanya nya dengan ragu.


Asher yang mendengar pertanyaan itupun langsung menoleh.


"pernah," jawabnya santai.


Adine menjadi penasaran,"siapa?" tanyanya.


"Kamu," jawab Asher singkat.


Adine mencebik kesal,"ish, maksud aku bukan itu. sebelum dekat sama aku, kamu pernah dekat sama siapa?"


Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri, ia menyesap kopinya kembali.


Asher mengernyit, seingatnya dirinya memang tak pernah dekat dengan wanita lain, selain dengan sang istri.


Pria itu menggeleng,"nggak pernah, Dine. kamu wanita pertama yang dekat dengan saya," sambungnya.


"Memangnya ada apa? tumben kamu nanya kayak gitu, hm?" tanya Asher menatap sang istri dengan heran.


Adine menggeleng,"nggak. gak ada apa-apa kok, mas."


wanita itu tersenyum.


Asher menatap manik sang istri, ia tahu bahwa sang istri sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Ada apa? cerita aja gak usah sungkan, aku suami kamu, Dine." ucap Asher.


Adine mengalihkan perhatiannya, wanita itu menghela nafas sejenak.


"Kamu gak selingkuh, kan?"


Sontak pertanyaan Adine membuat Asher menyemburkan kopinya. pria itu sedang meminum kopi, mendengar pertanyaan sang istri yang secara tidak langsung menuduhnya berselingkuh, membuat Asher tersedak.


"Astaga, Dine. dari mana kamu dapat pemikiran seperti itu," ujarnya menggeleng tak percaya dengan pertanyaan sang istri.


"Mana mungkin aku selingkuh, dari dulu aku selalu sibuk kerja, kamu tahu itu. gak ada waktu buat mikirin soal wanita, apalagi aku menikah juga karena--" ucapan Asher terhenti karena Adine lebih dulu menyela.


"Terpaksa. Iya, kan?"


"Iya--"


Adine menyela kembali seraya mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Oh, jadi gitu. Selama ini kamu terpaksa nikah sama aku, iya?" seru Adine menatap tajam Asher.


Asher menelan salivanya,"I-iya, tapi itu dulu sebelum--"


"Oke fine. pantas aja dari awal kita menikah kamu gak pernah anggap aku ada," ucap Adine.


Pria itu memegang lengan sang istri namun, tampaknya Adine tak mau dipegang.


"Ayolah Dine, kenapa jadi gini sih. kamu tahu sendiri kan, kalau kita memang awalnya saling terpaksa menerima pernikahan ini," ucap Asher.


"nggak tuh, aku gak terpaksa. aku memang menerima pernikahan ini sejak awal kita menikah," sahut Adine mengelak.


Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. ia baru tahu bahwa Adine memang sudah menerima pernikahan ini sejak awal, tapi sepenglihatannya Adine terlihat acuh tak acuh, bukankah itu pertanda bahwa wanita itu terpaksa menjalani pernikahan ini, pikir Asher.


"Tapi yang aku lihat, kamu terlihat terpaksa menjalani pernikahan ini," seru Asher.


Adine tersenyum, ia menjadi teringat kembali sikapnya di masa lalu,"kamu menilai dari luarnya saja, mungkin sebagian orang juga berpikiran yang sama dengan kamu. karena aku juga sadar, sikap yang aku tunjukkan kepada kamu itu terlihat acuh tak acuh."


"Kita tinggal di atap yang sama namun, seperti orang asing. Asal kamu tahu, mas. aku bersikap seperti itu karena aku berusaha untuk tidak terlalu berharap pada seseorang, yaitu kamu, mas. karena terlalu berharap pada seseorang itu hanya akan membuat kita sakit, sakit hati yang disengaja," ucap Adine mengungkapkan isi hatinya.


Asher termangu, ia terus menatap sang istri.


selama ini, pria itu memang tak pernah melihat sisi lain dari sang istri. yang ia lihat istri nya itu adalah sosok wanita yang cuek dan tak pedulian sama persis seperti dirinya.


ternyata dibalik kecuekannya, Adine menahan perasaannya agar tak terlalu berharap pada dirinya yang memang tak pernah menganggap Adine sebagai seorang istri.


"Kamu itu gak pernah peduli sama aku, kamu itu cuek, saat aku hamil pun kamu tetap seperti itu. Awalnya aku berharap saat aku melahirkan nanti kamu akan datang dan menemani aku di sana. tapi nyatanya... Hufft, kamu gak datang. rasanya sakit banget, mas. ya memang kita tak saling mencintai, tapi apakah kamu tak punya rasa peduli sedikitpun sama aku. a-aku--" ucapan Adine terhenti saat Asher langsung mendekap tubuhnya.


Wanita itu menumpahkan tangisan nya di pelukan sang suami.


"Syutt, gak usah dilanjut." ucap Asher


"Hiks...hiks, kamu jahat mas." seru Adine terisak.


"Iya, aku jahat banget sama kamu. maaf, maafin aku," ujar Asher seraya menahan tangisnya.


Pria itu mengeratkan pelukannya.


Asher akui bahwa dirinya memang sudah sangat keterlaluan kepada sang istri. Ia menyesal, sangat menyesal.


jika waktu bisa diputar kembali, mungkin ia tak akan menyia-nyiakan kehadiran wanita sebaik Adine.


wanita itu tetap bertahan dalam pernikahan yang secara tidak langsung menyiksa batinnya. Adine menutupi kelemahannya dengan bersikap cuek dan seolah tak peduli.


🍁🍁🍁