Adine's Second Life

Adine's Second Life
Merasa bersalah



Suara air turun dari langit terdengar begitu deras. membuat suasana sejuk dan sangat nyaman untuk terus terlelap.


Seperti saat ini, terlihat sepasang suami istri masih terlelap diatas ranjang dengan saling berpelukan. Asher membuka matanya terlebih dahulu, seutas senyum terbit di wajahnya saat menatap wajah cantik sang istri yang masih memejamkan matanya. nampaknya, Adine sangat nyaman berada dalam pelukan Asher.


sehingga tidurnya pun begitu nyenyak. apalagi cuaca pagi ini sangat mendukung untuk bermalas-malasan dan kebetulan hari ini adalah hari weekend.


Pria itu tak kunjung bangkit, ia masih nyaman dengan posisi seperti ini. ia memainkan rambut sang istri, menghirup aroma sampo yang harum dan menenangkan dari rambut itu.


"Eungh..." suara lenguhan terdengar pertanda Adine mulai membuka matanya.


Pria itu aktivitas nya dan memejamkan matanya kembali, berpura-pura masih tidur.


Adine mengerjapkan matanya, pertama kali yang ia lihat adalah dada bidang sang suami. wanita itu sedikit mendongak saat ingin menatap wajah sang suami.


tanpa sadar wanita itu tersenyum dan bergumam pelan.


"sedang tidur saja masih terlihat tampan..." gumamnya pelan namun sayangnya masih bisa didengar oleh Asher, karena pria itu memang sudah bangun sedari tadi.


Pria itu masih berpura-pura tidur, menahan senyum saat sang istri menyebut dirinya tampan.


"Baru sadar kamu?"


Suara Asher yang tiba-tiba membuat Adine sedikit tersentak. Adine pikir, Asher masih tidur nyatanya pria itu sudah bangun sedari tadi.


"Kamu udah bangun dari tadi, ya?" tanya Adine sedikit kesal.


"Menurut mu?"


Adine mengerucutkan bibirnya, ia nampak sebal dengan suaminya itu.


"Ish, nyebelin!" Adine memukul pelan dada bidang Asher.


Pria itu terkekeh.


"Jam berapa sekarang?" tanya Asher mengalihkan pembicaraan.


"Mm, gak tau. tapi, kayaknya udah siang deh," jawab Adine dengan malas, ia masih nyaman berada dalam pelukan suaminya.


Tangan Asher meraih handphone yang berada diatas nakas. pria itu melihat jam yang ada di handphonenya.


"Masih jam 7," ucapnya dan menyimpan handphonenya kembali.


"Ini udah siang tapi, aku masih ngantuk," seru Adine suara manjanya.


Wanita itu semakin merapatkan tubuhnya memeluk sang suami.


"Manja," cibir Asher.


"Biarin," balas Adine.


"Dingin tau, enaknya tuh dipeluk kayak gini," ucap Adine.


Asher tersenyum melihat Adine yang bermanja-manja dengannya. baru kali ini, wanita itu terlihat manja.


Adine mendusel-duselkan wajahnya ke dada bidang Asher, membuat pria itu geli dan tak nyaman.


"Geli, jangan begitu," tegur Asher berusaha menghentikan tingkah sang istri.


Adine menghentikan aksinya, ia ingin memejamkan matanya kembali.


Asher bernafas lega namun, ada sesuatu yang sedari tadi membuatnya tak nyaman. berdekatan dengan Adine membuat sesuatu dibawah sana menegang, pria itu berusaha menahannya.


Melihat Adine yang sudah memejamkan matanya kembali, Asher berusaha melepaskan pelukannya.


Tak disangka, tangan Adine menyentuh sesuatu yang sedari tadi menegang. Asher menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu.


Wanita itu bukan hanya menyentuh namun, juga memegangnya. walaupun matanya terpejam, tapi tangannya tak mau diam. Adine terlihat mengernyit saat memegang benda itu. ia sama sekali tidak membuka matanya.


Sementara Asher mengeram tertahan, wajahnya memerah. pria itu terlihat sudah tak tahan.


"Adine, kamu harus tanggung jawab," bisiknya ditelinga sang istri.


Wanita itu membuka matanya saat mendengar bisikan di telinganya.


Adine menatap heran sang suami.


"Tanggung jawab apa? emangnya aku ngelakuin apa?" tanyanya dengan wajah polosnya.


"Tangan kamu nakal, hm?" bisik Asher kembali.


Pria itu dengan perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada sang istri. Adine hanya bisa menahan nafas, entah mengapa ia tak bisa bergerak.


Tiba-tiba mata Adine melotot saat menyadari sesuatu. tangannya segera melepaskan sesuatu yang ia pegang tadi.


"Minggir, mas!" ucap Adine meminta sang suami untuk menyingkir.


"Dine, saya mau kamu," ucap Asher dengan suara yang terdengar berbeda.


Pria itu mulai mengungkung Adine, wanita itu hanya bisa menelan salivanya susah payah. ini salahnya, pikir Adine.


Adine tiba-tiba menjadi merinding, ia harus segera bangun sebelum Asher benar-benar melakukan 'itu'.


Entah mengapa suasana mendadak panas padahal diluar sedang hujan.


Tok...tok...tok..


Ketukan pintu disertai suara tangisan membuyarkan aksi Asher.


"Kak Adine, kak Asher. buka pintunya! anak kalian nangis nih,"


terdengar suara Sheira berteriak dibalik pintu yang masih tertutup rapat.


Adine bernafas lega mendengar suara Sheira yang memberitahukan bahwa sang anak tengah menangis. berbeda dengan Asher, pria merasa amat kesal, ia segera menyingkir dari atas tubuh sang istri. tanpa sepatah katapun, Asher berlalu pergi ke kamar mandi.


Adine bangkit dan segera membukakan pintu.


Cklek.


"Maaf shei, kakak baru bangun. kenapa Aldin nangis?" ucap Adine seraya mengambil alih sang anak kedalam gendongan nya.


"Iya gak papa, kak. kayaknya dia haus deh, kak," balas Sheira.


Setelah mengatakan itu Sheira berlalu pergi menuju kamarnya kembali, ia akan melanjutkan acara rebahannya.


Adine menutup pintunya kembali.


ia berjalan menuju ranjang, Adine membuka tiga kancing piyamanya untuk menyusui sang anak.


Disisi lain, Adine senang Asher tidak jadi menyentuhnya karena ia belum siap. namun, ia juga merasa kasihan melihat Asher yang sepertinya tersiksa karena tidak tersalurkan.


"kasihan mas Asher, tapi aku juga belum siap, gimana dong?" batinnya.


Adine sadar, mereka sudah sangat lama tidak melakukan hubungan suami istri. ia menjadi merasa bersalah karena sikapnya tadi secara tidak langsung menolak keinginan Asher.


20 menit kemudian, Aldin terlihat sudah tertidur kembali. Asher belum juga keluar dari kamar mandi.


Baru saja akan mengetuk pintu kamar mandi, pintu itu terbuka dari dalam.


Cklek.


Asher keluar dari kamar mandi, pria itu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek.


Pria itu mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Ngapain di pintu?" tanya nya pada sang istri yang berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Maaf," cicit Adine menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Untuk?"


"yang tadi," ucap Adine tak berani menatap Asher.


Asher menghembuskan nafasnya sejenak.


"Gak papa," balasnya.


Pria itu melangkah menuju ranjang untuk melihat sang anak yang sudah terlelap.


Adine masih merasa tak enak hati, berjalan menghampiri Asher.


"Mas, kamu marah?" tanyanya


"Nggak."


"Kamu masih mau tidur atau mau mandi?" tanya Asher mengalihkan pembicaraan.


"Ini aku mau mandi kok," jawabnya.


"Yaudah sana cepet mandi," titah Asher.


"Iya."


Adine masuk kedalam kamar mandi.


🍁🍁🍁