Adine's Second Life

Adine's Second Life
Menceritakan



Tin.


klakson mobil terdengar, pertanda Asher sudah pulang dari kantor.


pria itu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.


baru saja ia kan membuka pintu, ternyata sudah dibuka lebih dulu dari dalam.


"Mas," ucap Adine menyambut kedatangan suaminya.


dengan senyuman yang mengembang, Adine meraih tas kerja Asher dan menyuruh sang suami untuk masuk.


Pria itu masih terdiam, tak tahu harus berkata seperti apa. senang melihat Adine yang sepertinya baik-baik saja saat ini.


Adine juga sudah menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami. Asher segera masuk kedalam kamar mandi karena ia juga sudah tak nyaman dengan badannya yang terasa lengket karena bekerja seharian ini.


"Syukurlah, dia baik-baik saja," ucap Asher dalam hati.


Beberapa menit berlalu, Asher keluar dari kamar mandi. ia tersenyum melihat pakaiannya ternyata sudah disiapkan oleh Adine.


Pria itu memakai pakaiannya dan melangkah keluar kamar untuk menemui sang istri yang ia yakini sedang menyiapkan makan malam.


"Dine, Aldin mana?"


Asher bertanya membuat Adine menoleh pada sang suami.


"Aldin tidur, mas," jawab Adine.


Asher mendudukkan dirinya dikursi dan Adine segera melayani sang suami. menuangkan nasi dan juga lauk pauk kedalam piring Asher.


Merekapun mulai menikmati makanan nya dengan keheningan.


Setelah selesai makan, Asher meminta sang istri untuk membuatkan teh manis dan dibawa ke kamar, karena setelah ini ia akan pergi ke kamar.


Cklek.


Adine menutup pintunya kembali, ia berjalan menghampiri sang suami yang kini sedang duduk di sofa yang ada dikamar itu.


"Ini, mas, teh nya."


Wanita itu meletakkan teh itu diatas meja.


"Makasih," ucap Asher seraya meraih secangkir teh itu.


"Sama-sama."


Pria itu menyesap teh manisnya, lalu meletakkan kembali dimeja.


Asher beralih menatap sang istri,"hari ini Aldin gak rewel, kan?"


"Nggak kok, mas."


Mereka terdiam sejenak, Pria itu kembali meminum tehnya, sementara Adine terus menatap sang suami, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan namun, ia ragu.


Asher yang menyadari sang istri terus menatapnya pun menatap balik sang istri.


dengan alis yang terangkat satu,"hm? ada apa?"tanyanya.


Pria itu tahu ada yang ingin Adine katakan namun, terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, cerita lah jangan terus dipendam," ucap Asher seraya menatap wajah sang istri.


"Mas gak akan memaksa jika kamu belum siap menceritakannya," sambungnya yang mana membuat Adine semakin merasa bersalah karena ia tahu Asher pasti mengkhawatirkannya.


"Mas...," panggil Adine.


Pria itu hanya berdehem karena baru saja meminum tehnya.


"Maafin aku, maaf karena sudah membuat kamu khawatir seharian ini," seru Adine sambil menundukkan kepalanya.


Terdengar helaan nafas dari Asher, pria itu menghadap sang istri.


"Jangan menunduk, lihat mas!" ucap Asher lembut namun tegas.


Mendengar itu, Adine dengan spontan menatap wajah Asher.


"jangan membuat mas semakin merasa bersalah dan khawatir dengan sikap kamu yang seperti kemarin. kalau ada masalah jangan kamu pendam sendiri, cerita lah siapa tahu mas bisa mencari solusi dari masalah itu..."


Adine tak mampu lagi menahan rasa sedihnya, terlihat dari matanya yang mulai berkaca-kaca.


Asher segera membawa Adine dalam dekapannya. entah masalah apa yang tengah dihadapi sang istri, yang pasti pria itu sangat khawatir dengan Adine yang lebih banyak melamun saat ini.


"Jika kamu belum siap, tidak usah," ucap Asher menenangkan sang istri.


Adine semakin terisak didalam pelukan Asher.


"hiks...hiks.., mas."


"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega," seru Asher seraya mengusap kepala Adine dengan lembut.


Disaat seperti ini, Asher terlihat sangat perhatian dan lembut. berbeda jika sudah kembali ke mode cool nya, sangat terlihat menyebalkan.


Walaupun begitu, inilah yang baru Adine ketahui sisi lain dari sang suami.


Setelah merasa lega, wanita itu melepaskan pelukannya. wanita itu mengusap air matanya dengan jari tangannya.


Pria itu memberikan teh miliknya kepada sang istri.


"Minum dulu," ucapnya.


Wanita itu langsung meminum tehnya tanpa protes karena, ia juga butuh air minum.


Adine meletakkan secangkir teh itu.


"Udah tenang?"


wanita itu mengangguk.


Adine menghembuskan nafasnya sebelum bercerita.


"Aku kecewa dengan bunda dan ayah, kenapa mereka bisa menyembunyikan semua itu dari aku," Adine mulai bercerita.


Asher diam mendengarkan, menunggu kelanjutan cerita Adine.


"Hubungan yang terlihat harmonis tidak seindah yang dibayangkan. bunda terluka karena ayah, ayah berkhianat dengan menikahi wanita dari masa lalunya. dia lebih memilih wanita itu dari pada bunda yang sudah menemaninya selama ini dan pada akhirnya bunda memilih berpisah dengan ayah..."


"...Mereka bercerai tanpa sepengetahuan aku, mas."


Air mata tak bisa Adine tahan lagi, ia menumpahkan tangisannya.


Asher membawa Adine dalam pelukannya. ia kini tahu, ia juga bisa merasakan apa yang sang istri rasakan. kekecewaan dan sakit hati karena perpisahan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.


Pengkhianatan yang dilakukan oleh sang ayah tentu saja membuat sang anak terluka dan sakit hati karena merasa ayahnya telah melukai hati sang ibu. begitupun yang saat ini Adine rasakan.


"kenapa? kenapa ayah tega melakukan itu?"


"hiks..hiks.."


Asher hanya diam dan mencoba menenangkan sang istri dengan mengusap-usap punggung sang istri.


Sebenarnya pria itu juga tidak menyangka, ternyata ayah mertuanya bisa berkhianat seperti itu. yang ia tahu, mereka saling mencintai dan juga terlihat romantis jika sedang bersama.


Beberapa menit berlalu, suara tangisan Adine sudah reda. pria itu berniat melepaskan pelukannya namun, saat dilihat ternyata Adine tertidur dalam pelukannya.


Asher membawa Adine ke ranjang tanpa membangunkan.


pria itu menyelimuti sang istri dan mengecup keningnya sekilas. lalu, ia membaringkan tubuhnya disamping Adine.


"Maaf belum bisa membuatmu bahagia," ucap Asher dalam hati seraya memandang wajah cantik sang istri.


Tiba-tiba pria itu mengingat sesuatu, pria itu beranjak dari ranjangnya.


mengambil ponselnya yang tadi disimpan diatas meja.


Pria itu mengirim pesan pada sang asisten untuk melakukan sesuatu.


"Sepertinya ini waktu yang tepat," ucapnya.


"Benar kata papa, kami butuh liburan dan waktu untuk berdua," ucapnya lagi.


Pria itu melirik Adine yang kini sudah terlelap diatas ranjang.


🍁🍁🍁