Adine's Second Life

Adine's Second Life
Awal mula



Pernikahan berlandaskan perjodohan, membuat pernikahan yang dijalani oleh Adine dan Asher terasa hambar.


Keduanya memiliki sifat yang sama-sama cuek, sehingga membuat keduanya tak seperti suami istri pada umumnya.


Adine yang sibuk dengan butiknya dan Asher yang sibuk dengan pekerjaan kantornya, yang mana membuat keduanya jarang berinteraksi. Seatap namun terasa asing.


Satu tahun pernikahan namun tak ada peningkatan sama sekali dari hubungan keduanya. Tidurpun masih terpisah.


Keluarga Adine maupun Asher tak mengetahui bahwa mereka tidur terpisah, karena memang kedua orangtua Adine maupun Asher tidak pernah menginap, mereka hanya berkunjung saja untuk memastikan bagaimana hubungan sang anak.


Di Tahun kedua, kedua orang tua mereka mulai mencurigai bahwa Adine dan Asher tidaklah tidur dalam satu kamar. Karena selama satu tahun mereka menikah, namun belum juga terlihat tanda-tanda kehadiran sang cucu. Sehingga membuat kedua orangtua mereka membuat rencana agar hubungan Adine dan Asher semakin meningkat.


Andini, sang ibunda Adine berencana menginap dirumah anak dan menantunya itu. Ia sudah berkompromi dengan besannya yang tak lain ibunda Asher.


Kedua wanita paruh baya itu sangat menantikan kehadiran seorang cucu. Namun tampaknya kedua anaknya belum pernah melakukan hubungan suami istri.


Dan terjadilah malam pertama bagi Adine dan Asher. Mama Andini begitu senang dan memberitahu kepada besannya, mereka sudah hafal dengan watak anaknya masing-masing yang sama-sama cuek. Mereka berharap hubungan Adine dan Asher semakin erat setelah mereka melakukan hubungan suami-istri.


Sayangnya, semua itu hanyalah menjadi harapan. Kenyataannya, Adine maupun Asher sama sekali tak ada perubahan, mereka tetap dengan ego masing-masing.


Satu bulan setelah kejadian itu, Adine dinyatakan hamil. Kabar gembira yang sudah dinantikan akhirnya terjadi. Kedua orangtua dan mertua Adine begitu senang mendapat kabar itu. Berbeda dengan Asher, ia tampak biasa saja tak terlihat binar bahagia dimatanya, tatapannya tetap sama dan itu membuat Adine merasa sedih entah kenapa.


Adine merasa kehamilannya ini tidak diinginkan oleh sang suami. Dimasa mengidam pun ia lakukan sendiri, ia tak enak hati mengganggu Asher yang nampaknya selalu sibuk. Hingga tibalah dimana Adine melahirkan, namun sayangnya sang suami tidak bisa menemani dirinya, karena Asher sedang berada di luar kota.


Aldino Damian, itulah nama anak yang diberikan oleh papa mertuanya, yaitu ayah Asher, Serkan.


Bayi mungil itu sangat mirip dengan sang ayah, membuat Adine selalu mengingat Asher jika menatap wajah bayi itu. Ia tidak membenci darah dagingnya sendiri, namun rasa kesal dan kecewa pada Asher yang tak pernah memperdulikannya membuat Adine enggan mengurus sang anak.


Ia juga tidak pernah memberikan Asi pada anaknya, bayi mungil itu hanya diberi susu formula.


Keegoisan keduanya membuat hubungan mereka semakin renggang. Asher yang sudah jarang pulang, ia memilih menghabiskan waktunya di kantor dengan setumpuk berkas yang bisa membuat kepala pusing.


Sementara Adine sibuk dengan butik miliknya, dan sang anak hanya diasuh oleh babysitter atau kedua orangtua mereka.


***


Wanita berusia 25 tahun itu tampak sibuk dengan kertas dan alat tulis yang ia gunakan. Ia sedang menggambar berbagai model pakaian, namun entah mengapa ia tak bisa fokus.


Hatinya terasa tak tenang, ia gelisah tak karuan. Pikirannya terus tertuju pada seseorang yang sedang berada dirumah.


Entah mengapa ia ingin melihat keadaan orang itu. Siapa lagi jika bukan bayi mungil yang tak pernah ia pedulikan.


Sedari berangkat dari rumah ke butik, ia sudah merasakan firasat yang tak mengenakan, bayang-bayang bayi mungil itu selalu ada dipikiran nya.


Entah mengapa hari ini ia tak tenang meninggalkan sang anak.


Ia meletakkan alat tulisnya, menggeleng kepala dan menghembuskan nafasnya.


"Hufft, kenapa aku teringat dengan Aldin dirumah ya. Perasaan apa ini, ada apa dengan Aldin?"


Wanita itu bermonolog, pikirannya tertuju pada sang anak.


Drrtt


Handphone nya berdering, ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Iya, ada apa?" Tanya nya


Adine mencerna apa yang dibicarakan oleh sang pengasuh anaknya.


"APA?!" Pekiknya syok mendapat kabar bahwa sang anak diculik.


Ia bergegas keluar dari ruangannya, ada beberapa karyawan yang melihatnya dan menyapa dirinya, namun tak ia hiraukan. Adine keluar dengan raut paniknya, menuju parkiran dan dengan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kali ini ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri, yang ada dipikirannya hanya keselamatan sang anak.


"Aldin, tunggu mama nak." Gumamnya.


Adine tiba-tiba teringat dengan Asher, ya Asher adalah ayah dari anaknya ia harus tahu.


Ia meraih handphone nya, namun ia urungkan.


"Lebih baik, aku ke kantornya saja."


Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai diparkiran perusahaan sang suami.


Dengan segera ia memasuki gedung itu. Karena ini baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kantor sang suami.


Adine menanyakan ruangan Asher kepada resepsionis.


Setelah mengetahui ruangan Asher, ia langsung masuk keruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Adine tak menyangka kedatangannya ke kantor sang suami mendapat kenyataan yang entah mengapa membuatnya sakit hati.


Ia berdiri mematung ditempatnya, pemandangan didepannya ini sangat menyesakkan. Terlihat pria dan wanita yang tengah berpelukan, meluapkan kerinduan.


"Aku merindukanmu," ucap pria yang sedang membelakangi Adine, yang tak lain adalah Asher, suami Adine.


"Aku juga merindukanmu, Asher Damian." Balas wanita berambut bergelombang itu.


Nyut.


Adine memegang dadanya yang terasa sesak, air mata mengalir begitu saja. Dihari yang sama ia mendapat kenyataan yang menyakitkan.


Sang anak yang masih berusia 5 bulan itu tengah diculik dan kini, Asher mengatakan rindu pada sosok yang ada di pelukannya itu.


"Adine!"


Asher terkejut dengan keberadaan sang istri. Ia segera melepaskan pelukannya.


Adine tersadar saat Asher menyadari keberadaannya. Ia segera menghapus air matanya dan berlalu pergi.


Adine kira, Asher tak akan berselingkuh darinya walaupun ia tahu hubungan keduanya tidaklah ada kemajuan. Ternyata ia salah menilai, sang suami yang kaku dan dingin itu dengan teganya berselingkuh darinya.


Ia menoleh kebelakang, berharap Asher akan menyusulnya. Namun nyatanya, pria itu tak terlihat batang hidungnya.


Kini, Adin sadar. Bahwa dirinya dan sang anak tidaklah berarti bagi Asher.


Kedatangannya ke kantor Asher, ialah untuk memberitahukan bahwa sang anak tengah diculik, namun apa yang ia lihat, Asher malah mengatakan kerinduannya pada wanita lain.


"Hiks...hiks..."


Adine berlari memasuki mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


"Sadar Adine, kamu dan Aldin memang tidak penting bagi Asher." Monolognya.


"Aldin, maafkan mama nak."


"Mama menyesal tidak pernah memperhatikan mu."


Penyesalan memang selalu datang diakhir, Adine menyesali sikapnya selama ini. Ke cuekannya itu membuat hubungan keduanya tak berkembang.


Rumah tangganya hancur dan kini sang anakpun tak tahu keberadaannya dimana.


Egonya yang tinggi membuat Adine menyesal.


Ia menyetir dengan tak fokus, dengan air mata yang terus mengalir dipeluk matanya, sehingga memudarkan penglihatannya.


Adine tak melihat bahwa didepannya ada sebuah mobil truk yang melaju dengan kencang, hingga mobil yang dikendarai Adine menabrak mobil truk itu, sehingga kecelakaan maut itu tak bisa dihindari.


🍁🍁🍁