Adine's Second Life

Adine's Second Life
Di rumah bunda Andini



Disebuah rumah berlantai dua, nampak sepi dari luar terlihat tak berpenghuni.


Seorang wanita paruh baya menatap sebuah figura foto dengan wajah sendunya. sorot mata penuh kerinduan namun juga ada setitik rasa benci.


Wanita itu mengepalkan tangannya, mengingat semua kenangan-kenangan kebersamaan yang terlihat bahagia namun, hancur begitu saja oleh kenyataan yang tak pernah terbayangkan kian menerpa hidupnya.


Tanpa sadar cairan bening menetes di pipi yang tampak masih mulus itu. wanita itu dengan segera menghapusnya.


"Hufft, semua telah berubah," gumamnya.


Wanita itu memasukkan figura foto itu kedalam laci lemari.


Sementara diluar rumah besar itu, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah itu.


Tak lama keluar seorang wanita dengan menggendong seorang anak dan disusul oleh pria yang tak lain adalah suami dari wanita itu.


"Pak Edy, apa kabar?" sapa wanita itu dengan ramah pada seorang pria paruh baya yang tak lain pekerja di rumah itu.


"Wah non Adine sudah lama tidak ke sini, kabar saya baik non," jawab satpam rumah itu yang bernama Edy.


"Syukurlah kalau begitu."


"Oh ya, bunda ada kan didalam?" tanyanya pada pak Edy.


"Ada non, nyonya ada didalam."


Pak Edy melirik pria yang berdiri disamping anak majikannya dengan memberikan senyuman ramahnya.


Asher, pria itu juga membalas senyuman pak Edy dengan tersenyum tipis.


Setelah berbasa-basi dengan pekerja dirumah orang tuanya. Adine dan Asher menunggu diluar dengan memencet bel terlebih dahulu agar orang rumah tahu bahwa ada tamu yang datang.


Ting...nong.


"Sini Aldin nya," pinta Asher sambil mengambil sang anak dari gendongan Adine.


Adine memencet bel nya lagi, karena orang rumah belum membukanya.


Ting...nong.


"Iya, sebentar,"


Terdengar suara dari dalam.


Cklek.


Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya kisaran 40 tahunan membukakan pintu.


"Non Adine, silahkan masuk," ucap wanita paruh baya itu mempersilahkan anak majikannya masuk.


"Terimakasih, Bi Darmi," balas Adine ramah.


Mereka masuk kedalam rumah itu.


Kini mereka sedang berada diruang tamu. Asher mendudukkan dirinya dengan Aldin yang masih berada digendongnya. bayi tampan itu nampak anteng bersama papanya.


"Nona dan tuan mau minum apa?" tanya bi Darmi.


"Apa saja, bi," jawab Asher yang sedari tadi hanya diam.


Setelah mendengar jawaban dari suami nona nya, bi Sumi segera berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.


Adine celingak-celinguk mencari keberadaan bunda nya.


"Bunda kayaknya ada di kamar deh," ujarnya.


"Mungkin," timpal Asher.


"Kalau gitu aku mau ke bunda dulu, ya," kata Adine bangkit dari duduknya.


"Iya."


Adine melangkah menaiki anak tangga menuju kamar sang bunda.


Sesampainya dikamar sang bunda, wanita itu mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok..tok..tok.


"bunda, ini Adine," ucapnya seraya menyebutkan namanya.


Wanita paruh baya yang berada didalam itu tersadar dari lamunannya, saat mendengar bahwa putri semata wayangnya kini sedang berada dirumahnya.


Ia membuka pintunya.


Cklek.


"Adine," seru bunda Andini seraya tersenyum senang mendapati sang anak yang saat ini sedang berkunjung ke rumahnya.


Adine segera menghambur ke pelukan bundanya. wanita itu sangat merindukan bundanya. bunda Andini pun membalas pelukan sang anak dengan erat.


Tak lama Adine melepaskan pelukannya,"bunda gimana kabarnya?" tanya Adine.


"Baik, kamu sendiri?"


"Seperti yang bunda lihat, aku baik."


Bunda Andini hanya melihat Adine yang datang membuatnya bertanya-tanya kemana menantunya itu.


"Kamu sendiri kesini?" tanya bunda Andini.


"Nggak, Bun. sama mas Asher sama Aldin juga kok, mereka ada dibawah," jawab Adine.


"Oh, kirain bunda kamu sendiri kesini nya,"


"Nggak, Bun."


"Ah, bunda udah kangen banget sama cucu bunda itu," ucap bunda Andini sangat bersemangat mendengar sang cucu juga berada dirumahnya.


Mereka berlalu pergi menuju lantai satu.


Diruang tamu, terlihat Asher yang tengah mengajak Aldin berceloteh. sehingga bayi tampan itu tertawa riang.


"Wah, gak kerasa cucu Oma udah besar," Seru Bunda Andini yang baru saja sampai diruang tamu.


Segera saja wanita paruh baya itu menghampiri cucu dan menantunya.


Asher segera mencium tangan mertuanya itu.


"Bunda, maaf. Asher dan Adine baru bisa kesini," ucapnya berbasa-basi.


"Tidak papa, bunda tahu kalian sama-sama sibuk. bunda minta kalian kalaupun sibuk harus bisa meluangkan waktu untuk Aldin dan juga untuk hubungan kalian kedepannya," balas bunda Andini.


"Iya, bunda," seru Adine dan Asher bersamaan.


Kini, Aldin berada ditangan sang Oma. bayi itu terus memperhatikan wajah Omanya. lalu, ia tertawa saat diajak berbicara, seolah mengerti.


Mereka membicarakan apa saja, entah itu tentang perkembangan Aldin, entah itu tentang pernikahan anaknya yang bunda Andini harapkan, hubungan anak dan menantunya baik-baik saja.


"Oh iya, Bun. ayah kemana, ya? udah lama loh ayah jarang banget bareng sama bunda. biasanya, ayah sama bunda lengket banget. sesibuk apapun, ayah pasti meluangkan waktunya untuk bunda," cerocos Adine tanpa menyadari perubahan raut wajah sang bunda saat membahas sang ayah.


Semua itu tak luput dari perhatian Asher, pria itu menyadari ada sesuatu yang telah terjadi diantara ibu mertuanya dan juga ayah mertuanya.


"Bunda, ayah keluar kota lagi?" tanya Adine yang masih belum menyadari perubahan dari bundanya.


"Iya." jawab bunda Andini singkat dan terkesan datar.


Adine mengernyit heran, ia merasa bundanya itu berbeda saat ia membahas sang ayah.


"Bunda kenapa?" Batinnya bertanya-tanya.


Wanita itu melirik sang suami, mereka saling menatap dengan penuh arti dan juga penasaran.


Asher yang paham akan situasi, ia izin keluar sebentar dengan membawa Aldin. pria itu membiarkan ibu dan anak itu berbicara dengan leluasa.


Setelah kepergian Asher, Adine mendekat dan duduk disamping sang bunda.


"Bunda?" ucap Adine seraya memegang tangan sang bunda.


Ia melihat bahwa bunda nya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Bunda Andini menghembuskan nafasnya sejenak sebelum berbicara.


"Mungkin ini saatnya kamu tahu..."


Seketika perasaan Adine menjadi tak enak, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan bunda dan ayahnya.


"Sebenarnya..."


🍁🍁🍁