
Setelah kejadian tadi pagi, Asher terlihat biasa saja. Ia tak marah pada sang istri, ia hanya merasa kesal karena dirinya yang tak bisa menahan diri.
Saat ini mereka sedang sarapan bersama, ada Asher, Adine, Sheira dan tak lupa si kecil Aldin. bayi lima bulan itu sedang disuapi bubur oleh sang mama.
Setelah selesai makan, Asher berlalu pergi ke ruang kerjanya. berbeda dengan sang istri dan adiknya yang kini sedang bersantai diruang keluarga sambil menonton televisi.
Diruang kerja.
Pria itu kini tengah berkutat dengan laptopnya, memeriksa email yang dikirim oleh sang asisten.
disaat ia sedang fokus menatap layar didepannya, suara pintu terbuka membuat ia mengalihkan pandangannya.
Cklek.
Pintu terbuka, ternyata sang istrilah yang masuk kedalam ruangannya. wanita beranak satu itu membawa secangkir kopi untuk sang suami.
"Ini mas, kopinya," ujarnya seraya menyimpan kopi itu diatas meja kerja sang suami.
Asher kembali fokus berkutat dengan laptopnya, pria itu terlihat serius.
"Hem."
hanya deheman saja yang terdengar, sehingga Adine merasa bahwa Asher sebenarnya sedang marah kepadanya.
Adine melihat sang suami yang sepertinya tidak memperdulikan kehadirannya, ia memilih berlalu begitu saja dari ruangan Asher.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar, seraya mendudukan dirinya di sofa sebelah Sheira.
Sheira menatap heran sang kakak ipar.
"Kenapa, kak?" tanyanya.
"Gak papa," Adine tersenyum sekilas.
Sheira mengedikkan bahunya, ia menyadari sepertinya kakak dan kakak iparnya itu sedang ada masalah. namun, ia bersikap seolah tidak tahu apa-apa. lagipula ia tak ingin ikut campur.
Gadis itu memainkan handphonenya saat mendapat pesan dari seseorang.
"Kak, Aku mau pulang sekarang. kak Asher mana?" ucap Sheira seraya menanyakan sang kakak.
"Diruang kerja, kamu kesana aja," balas Adine.
Sheira bangkit,"oh, yaudah. aku kesana dulu kak."
"Iya."
Adine termenung sambil menatap layar didepannya.
Sheira mengetuk pintu ruang kerja Asher.
Tok.. tok..tok..
"Kak, ini Sheira," ucapnya.
"Masuk aja,"
Terdengar suara sang kakak yang menyuruhnya untuk masuk.
Sheira membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu.
"Kak, aku mau pulang,"
Asher melirik Sheira sekilas, lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Yaudah, pulang sana."
gadis itu tersenyum paksa mendengar jawaban sang kakak. Sheira mengulurkan satu tangannya membuat sang kakak mengernyit heran namun, setelahnya pria itu seolah paham dengan segera menyodorkan satu tangannya, karena ia pikir sang adik ingin bersalaman.
Sheira mendengus sebal karena kakaknya yang tidak peka itu menurutnya.
"Ish, dasar gak peka!" kesalnya.
"Apa sih," kata Asher heran.
"Oh, bilang dong kalau mau duit," timpal Asher.
Pria itu dengan segera mengeluarkan dompetnya dan memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada sang adik.
"Udah," ucap Asher seraya memasukkan kembali dompetnya kedalam saku celana.
"Hehehe, terimakasih kakakku yang tampan, adikmu yang cantik ini mau pulang dulu. jangan kangen ya, Babay," cerocos Sheira seraya melambaikan tangannya.
Pria itu tersenyum tipis melihat tingkah sang adik.
Sheira menutup pintu kembali namun, tiba-tiba gadis itu membukakan pintunya kembali.
"Apalagi?" tanya Asher.
Sheira seperti ingin mengatakan sesuatu namun, gadis itu tak jadi mengatakan nya.
"Mm, gak jadi kak."
setelah mengatakan itu, Sheira menutup pintu dan ia benar-benar sudah berlalu pergi.
Asher menggeleng kepala, ia berfokus kembali pada laptopnya.
Sheira menuju kamar tamu terlebih dahulu, ia ingin mengambil tas selempang nya. setelah mengambil tasnya, ia menghampiri sang kakak ipar yang saat ini sedang menemani Aldin bermain.
"Kak, aku pulang ya," pamit Sheira seraya menyalami kakak iparnya itu.
"Iya, hati-hati," ucap Adine tersenyum.
Sheira mencubit pelan pipi Aldin dan menciumnya sebelum ia melangkah pergi keluar rumah.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan nya, Asher keluar dari ruangan. ia berjalan menghampiri sang istri yang sepertinya sedang melamun.
"Bunda gimana ya, kabarnya? udah lama gak ketemu, jadi kangen deh,"
"Ayah apa lagi, gak pernah ngasih kabar. sebenarnya ayah kemana? jarang sekali bersama bunda,"
Gumaman Adine terdengar oleh Asher yang sedang berada dibelakangnya. Asher paham, saat ini sang istri sedang merindukan kedua orangtuanya.
"Gimana kalau hari ini kita ke rumah bunda?" ucap Asher tiba-tiba, membuat Adine tersadar dari lamunannya.
"Eh, mas Asher."
Wanita itu menoleh dan mendapati sang suami.
"Kamu kangen sama bunda, kan? yaudah, ayo kita ke rumah bunda. udah lama juga kita gak ke sana," ucap Asher.
"Bunda juga pasti kangen sama anak dan cucunya," sambungnya.
"Beneran gak papa kita ke rumah bunda sekarang?" Tanya Adine memastikan.
Asher tersenyum,"iya gak papa, gak ada yang ngelarang kok."
Adine menunduk,"aku liat kamu sibuk terus, gak mungkin juga aku kesana sendiri. nanti bunda pikir kita lagi ada masalah."
Setelah mengulang waktu, Adine belum pernah mengunjungi kediaman kedua orangtuanya. beberapa bulan ini ia juga sedang memperbaiki hubungan nya dengan sang suami agar lebih dekat.
Adine mendongak untuk menatap wajah suaminya,"tapi, kamu gak lagi marah sama aku, kan?"tanyanya.
Pria itu memegang kedua bahu Adine,"kenapa harus marah? lagian itu salah aku sendiri yang gak bisa nahan. aku tahu kamu belum siap jadi, gak usah dipikirin lagi ya," ucapnya menyakinkan sang istri bahwa ia tidak marah sama sekali hanya karena kejadian waktu pagi itu.
Asher mendekat dan mengajak sang istri,"udah, sekarang kita siap-siap ke rumah bunda."
Wanita itu hanya bisa tersenyum, ternyata pria yang dulu terlihat kaku itu bisa bersikap hangat juga mampu membuat ia nyaman.
"Kasihan nanti kamu melamun terus," celetuk Asher yang mana langsung dihadiahi pukulan oleh Adine.
"siapa juga yang melamun," elak Adine dengan ketus.
Pria itu tertawa kecil melihat wajah sang istri yang mulai cemberut. sedangkan si kecil Aldin kini berada digendong sang papa, menatap kedua orangtuanya dengan wajah polosnya.
🍁🍁🍁