
Hyuji sempat berfikir tempat yang dibahas John sepanjang perjalanan mereka tadi adalah sebuah restoran enak dengan banyak pengunjung yang juga terlihat bersih dan nyaman.
Pada kenyataannya, kini dia dan John duduk berhadapan didalam sebuah kedai dengan penutup transparan, pengunjungnya banyak sih, tapi Hyuji tidak terbiasa makan dikedai pinggir jalan seperti ini.
John juga sudah terlanjur memesan satu porsi besar kaki ayam pedas dengan tiga botol soju.
Dilihatnya John bersemangat sekali mengenakan sarung tangan plastik pada telapak berkulit putih dan besar itu. Sedangkan Hyuji, hanya menahan pundaknya agar tak bergidik—jijik.
"Tunggu apa lagi? Ayo pakai sarung tanganmu dan kita makan kaki ay—"
"John! Sepertinya aku tidak bisa makan ditempat seperti ini!" sahut Hyuji cepat dengan ekspresi geli dan... entahlah, apa yang sedang ia fikirkan tentang kebersihan makanan itu.
John mengerut dahi, rautnya penuh tanya. Dia juga melihat posisi duduk Hyuji terlihat tidak nyaman. "Aih... jangan menilai sesuatu dari penampilannya saja!" John meraih sebuah kaki ayam tanpa tulang, lalu mengarahkan kemulut Hyuji. "Buka mulutmu! A'.... " pinta John bersiap memberikan sesuap pada Hyuji. Akan tetapi Hyuji menarik punggung kebelakang, menjauh.
"Cobalah sesuap! Ini enak Hyu! Kau tidak akan mati hanya karena memakan makanan pinggir jalan seperti ini! Ayo! Buka mulutmu!"
John terus memaksa, hingga akhirnya Hyuji membuka mulut dan menerima suapan John sambil memejam. Kemudian perlahan mengunyah, mencoba menyesuaikan rasa didalam mulutnya. Namun sesaat kemudian, Hyuji membuka kedua matanya lebar-lebar saat merasakan rasa yang berbeda didalam mulutnya.
"Bagaimana?"
"Tidak buruk!" jawab Hyuji singkat sambil memasang sarung tangan plastik dan kembali melahap kaki ayam pedas yang sedari tadi berusaha ia tolak. John tersenyum senang melihat Hyuji makan selahap itu.
Sesaat kemudian, satu botol soju sudah kosong. Botol kedua sudah dibuka penutupnya, dan Hyuji kembali menenggak minuman itu, memaksanya masuk melewati kerongkongan. Wajahnya sedikit memerah dikedua sisi pipi.
"Jika aku berkata aneh-aneh nanti, jangan didengar! Anggap saja aku sedang tidak waras dalam pengaruh alkohol!"
John hanya mengangguk, kembali menuang kedalam gelasnya sendiri. Sebenarnya, John memiliki tingkat toleransi rendah terhadap minuman beralkohol, dengan kata lain dia lebih cepat terpengaruh dan linglung. Untuk itulah dia membatasi minumannya malam ini. Takut kelewat batas dan malah merepotkan Hyuji.
"Lalu kenapa? Anggap saja dunia ini milikmu sendiri, dan kau bebas melakukan apapun!"
Hyuji tersenyum tipis, tipis sekali karena merasa konyol atas jawaban yang diberikan John. Dia bahkan tak pernah merasakan kebebasan yang dimaksud. Keluar dari jalur adalah bukan seorang Hyuji. Sebab, pastinya sesuatu akan menunggu untuk kembali meleburkan jiwanya kedalam kelam.
"Tidak semudah itu John! Mereka tidak akan membiarkan aku mendapatkan semua itu!"
Mereka?
Lagi?
Sebenarnya siapa mereka?
Semua pertanyaan itu seolah berputar didalam kepala John. Memperhatikan Hyuji yang sepertinya memang tak bergurau, John terdiam, merangkum bagaimana wanita dihadapannya itu memerah, dalam tangis. Kedua maniknya meneteskan beberapa liquid bening yang ia coba sembunyikan.
John stagnan, dia hanya terpaku karena tak pernah melihat Hyuji seperti ini.
"Kau tau, rumah itu seperti neraka bagiku!"
Ah, dia mulai bercerita.
John menurunkan kedua lengannya dibawah meja. Menanti kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Hyuji. Entah mengapa John turut dirundung gelisah saat ini.
"Rasanya aku ingin pergi dari sana! Entah untuk sementara, atau selamanya!"
Dia mulai tidak sadar ya?
"Kakak dan mama selalu saja memperlakukan aku seperti—" Hyuji mengehentikan ucapannya sampai di kalimat itu. Terputus tanpa kalimat lanjutan, sebab tiba-tiba saja dia sadar tak harus mengatakannya.
Hyuji turut menurunkan kedua lengannya dibawah meja, mencoba mendongak demi melihat seseorang dihadapannya. John menatap dengan pandangan iba, dan Hyuji tak suka dikasihani. Sungguh dia tak suka jika terlihat menyedihkan.
"Ah, aku mulai berkata yang tidak-tidak! Lupakan! Jangan didengar!" tuturnya beberapa saat kemudian sembari mengusap airmata yang membasahi pipinya.
Masalah keluarga?
Batin John tak pernah berhenti menerka saat bagaimana Hyuji mengungkapnya dibawah alam sadarnya. Dan suara itu terdengar tulus. Dia tertekan.
Diam.
Suasana berubah hening, hanya deru nafas besar yang sesekali Hyuji hembuskan kemudian menenggak kembali minuman didalam gelasnya. Sesekali Hyuji tersedak, terbatuk dan menagis. Dan dia bilang, dia menangis sebab tenggorokannya sakit akibat tersedak. Akan tetapi John tau, bukan itu penyebabnya. Jadi dia hanya membiarkan Hyuji seperti itu, berharap beban berat yang ia pikul perlahan luruh.
Dibawah temaram penerangan lampu malam disepanjang jalan menuju rumah, Hyuji terlelap dipunggungnya. Kedua lengan wanita itu terjun bebas menggantung diudara, nafasnya berhembus teratur diantara ceruk leher John. Sesekali John berhenti untuk menaikkan Hyuji pada posisi yang nyaman.
John membawa Hyuji pulang kerumahnya, karena tidak tau harus membawanya kemana. John tidak berani lancang dengan mengganggu privasi Hyuji dengan membuka isi tas dan juga dompet gadis itu. Tentang traktiran, lupakan saja. John harus merelakan uang sisa yang diberikan sang ibu beberapa waktu lalu melayang demi makanan dan minuman yang bahkan bukan dia yang menghabiskan.
John tersenyum tipis, berhenti sejenak demi menaikkan Hyuji kembali.
"Dia tidak seberat yang aku kira! Tapi jika berjalan sejauh ini, aku yakin besok lenganku akan sakit!" gumam John sedikit kesal karena tidak punya uang hanya untuk sekedar menghentikan taxi yang mengantar mereka pulang. "Ah... Jika tau berakhir seperti ini, aku sudah menolak ajakanmu tadi!"
Hingga akhirnya, setelah melewati beberapa gang dan tanjakan yang lumayan terjal, John sampai didepan rumahnya. Lengan kekarnya susah payah membunyikan bel dan menahan keseimbangan agar Hyuji tidak terjatuh.
"Kenapa nafasmu seperti itu? Kau minum?" tanya sang ibu, sudah siap meledak dan menghancurkan putranya itu jika berani menyentuh minuman beralkohol itu lagi.
"Tolonglah bu, buka saja pintunya! Aku sudah hampir pingsan!"
"Baiklah! Tunggu ibu diluar!" teriak kesal sang ibu.
Dan tak lama kemudian pintu gerbang terbuka. John dapat melihat sang ibu sudah bersiap dengan gagang sapu ditangannya.
"Ibu boleh memukulku nanti! Setelah aku menurunkannya!"
John melewati sang ibu begitu saja, meninggalkan wanita itu dalam kejut di sisi pintu gerbang. Aroma alkohol tercium cukup menyengat, dan dengan satu kali sentak pintu gerbang itu tertutup kembali—keras sekali, sampai John terjingkat dan Hyuji menggeliat karena sama terkejutnya. Sang ibu menghampiri John yang berjalan terseok, dengan seorang wanita dalam gendongan.
Sesampainya didalam kamar pribadi yang bahkan sang ibu tak pernah boleh memasukinya, John meletakkan Hyuji perlahan diatas ranjang kecil disisi jendela yang bahkan tirainya belum ditutup. Menaikkan selimut sebatas dada, menyalakan lampu tidur dan berniat keluar. Akan tetapi terhenti seketika karena sang ibu berada diambang pintu dengan kedua lengan terlipat didepan dada.
Ah, John merasakan aura buruk sedang berkelebat mengelilinginya. Sang ibu pasti akan murka. Alkohol, seorang wanita—Ah, John mengusak kasar surainya dengan wajah mengerut frustasi.
"Ibu ingin bicara denganmu!"
Sial! Dia akan mati malam ini—batin John.
Perlahan, John menutup pintu kamarnya dan mengikuti sang ibu keruang tengah.
Seakan ditawari pertanyaan antara hidup atau mati, John tak berani menatap kedua mata sang ibu yang sedang duduk di kursi meja makan, menatapnya galak tepat dihadapannya.
"Apa yang ingin ibu tanyakan!" tutur John membuka suara.
"Siapa wanita itu?"
"Dia pemilik toko bunga tempatku bekerja!"
"Pemilik toko? Lalu bagaimana bisa kalian pulang bersama dengan keadaan seperti itu?"
"Dia bilang mentraktirku kaki ayam pedas, tapi berakhir aku yang membayar karena dia mabuk berat!"
"Kau sudah tau ibu tidak suka kau minum! Kenapa tidak menolak saja!"
"Aku tidak enak bu, kalau menolak aku takut dipecat!"
Alasan. John hanya membual.
Sang ibu bisa menerima alasan tersebut. John sedikit lega, karena tubuhnya tidak jadi menerima pukulan telak dari gagang sapu.
"Asal ibu tau, aku tidak punya uang untuk menghentikan taxi! Lalu aku menggendongnya pulang karena tidak tau rumahnya dimana!" protesnya kesal dengan bibir mengerucut kedepan.
"Kau bisa melihat itu dikartu pengenalnya bukan?"
"Itu bukan hakku! Aku tidak mau mengganggu privasinya!" jawab John sambil memijat bahunya yang mulai terasa sakit dan berat.
"Baiklah! Jangan ulangi lagi kejadian seperti ini! Bisa jadi sekarang orang tuanya sedang khawatir pada—"
"Tidak! Tidak akan ada yang mengkhawatirkannya!"
Sang ibu mengerut dahi, tak mengerti maksud perkataan John. "Apa maksudmu?"
"Ceritanya panjang! Dan intinya dia sedang bermasalah dengan keluarganya!"
Bibir ibunya terkatup rapat saat mendengar jawaban John memirsa wajah lelah sang putra yang memicing.
"Dia cantik!"
John mengehentikan telapaknya yang sedang sibuk memijat bahunya yang sakit, menatap sang ibu dengan kedua manik terbuka lebar.
"A-apa maksud ibu?"
"Tidak ada! Ibu hanya melihat jika bossmu itu cantik!"
"Ah, begitu ya...?"
"Bersikaplah baik besok pagi! Ibu tidak ingin terlihat buruk didepannya!"
John menggeleng tak percaya, diiringi sebuah senyuman khas yang ia miliki. Bunny smile yang menggemaskan.
"Ibu ingin aku memilikinya?"[]