
John dapat merangkum dengan jelas bagaimana kedua presensi didalam sana saling melempar senyum satu sama lain dengan telapak saling tertaut. Dan tidak tau mengapa, itu membuat hatinya sedikit tersakiti. Akan tetapi, John tidak bisa berbuat apapun, sebab mereka memang sudah pernah kenal sebelumnya.
Seingat John, dia tidak akan peduli pada apapun yang menurutnya itu tidak begitu penting. Tapi entah, jika itu ada sangkut pautnya dengan Hyuji, John seperti tidak ingin berpaling sedikitpun. Menghela nafas cukup dalam, menata ekspresi, John kembali membawa langkahnya memasuki toko. Berusaha tak melihat pada kedua sosok yang masih menautkan jemari mereka.
“Aku pergi! Hubungi aku, Okey?”
John dapat mendengar suara permintaan itu samar-samar, tapi dia tidak mau ikut campur. Hingga ketukan langkah dalam balutan pantofel mengkilat itu semakin dekat padanya John hanya menilik dari ekor mata.
“Baik-baik dan jaga sikap pada bosmu!”
John menoleh sinis, dengan senyuman asimetris yang menunjukkan rasa tidak sukanya, dia menjawab pernyataan yang dilontarkan Jimmy padanya. “Urusi saja urusanmu sendiri, tuan super sibuk! Dan aku tidak seburuk yang kau kira!!”
—
Suara dengung berdesir lembut menyambut dan menyentuh permukaan kulit putih milik sang pemuda, seiring udara yang tertiup dari bibir pendingin ruangan didalam toko bunga milik Hyuji. John melewati pintu kaca dengan dentingan lonceng yang menarik perhatian Hyuji, melenggang menuju salah satu rak bunga kesukaannya, dragon flower.
Hyuji sempat memperhatikan John tadi, saat dia meninggalkan ruangan ketika Jimmy datang.
“Makanlah dulu Gimbab mu!” ucap Hyuji, menarik atensi John untuk memerhatikan gadis yang sedang berjalan menuju meja kerjanya.
Tanpa banyak bicara, John berjalan kearah dimana dia meletakkan kantong berisi Gimbab dan juga air mineral yang ia beli di mini market bibi Jung beberapa saat lalu. Membuka kemudian mengeluarkan dua bungkus Gimbab—untuknya dan untuk Hyuji, kemudian mengulurkan lengan menjangkau tatapan si gadis.
Hyuji tersenyum lembut, memperhatikan John yang sekarang sedang sibuk membuka pembungkus gimbab.
“Apa ibumu sibuk akhir pekan ini?” tanya Hyuji, memecah keheningan.
“Aku tidak tau, kenapa?” jawab John, sambil membuka mulut dan melahap serta menggigit besar ujung gimbab.
“Tidak! Aku hanya ingin mampir dan berkunjung! Ah, jika itu tidak merepotkan sih?”
Sontak John membolakan kedua manik rusanya demi mematri sosok Hyuji. Kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang, Hyuji hanya memperhatikan sambil menggigit gimbab miliknya.
Terdengar jelas bunyi beep dari speaker ponsel milik John, sebab pemuda itu menggunakan pengeras suara. Hingga sebuah suara lembut menyapa diseberang sana.
“Ada apa nak?”
Terkejut?
Tentu saja sebab Hyuji tak mengira jika John akan menghubungi ibunya sesaat setelah pertanyaan itu ia ajukan.
“Ibu, apa ibu sibuk akhir pekan ini?”
“Sepertinya tidak terlalu sibuk! Ada apa? Apa kau mau mengajak ibumu ini berkencan?”
Hyuji terkekeh, dan John berdecak kesal karena malu.
“Katakan, ada apa?!” tanya sang ibu sekali lagi.
John meraih tengkuk leher dan mengusapnya pelan, menatap Hyuji sekilas dengan rona merah dikedua pipinya. “Hyuji noona mau menemui ibu!”
Oh, wow... terdengar seperti seorang menantu yang sedang merindukan ibu mertuanya. Dan kini, wajah Hyuji turut memanas karena pemuda John itu menatapnya seolah membenarkan presepsi Hyuji.
“Benarkah?” tanya sang ibu antusias. “Kalau begitu katakan padanya jika ibu tidak sibuk!”
John sedikit gugup, sebab saat ini Hyuji sedang mendengarnya sendiri. “Eoh!” jawab John singkat, membuat tawa sang ibu terdengar begitu bahagia.
“Ibu akan memasak enak untuknya! Bilang juga untuk menginap saja, ibu sangat merindukan boss cantikmu itu!”
John terkejut, tak menyangka jika sang ibu akan berkata demikian. Kemudian buru-buru mematikan loudspeaker dan menempelkan persegi pipih itu ditelinga.
“Ah, baiklah kalau begitu! Aku harus kembali bekerja bu! Sampai jumpa!”
Bersamaan dengan berakhirnya penggilan tersebut, lonceng pintu berbunyi dan seorang pelanggan melenggang masuk.
Tiba-tiba saja John terpaku, dia bahkan tidak ingin bergerak untuk menyambut sang pelanggan, hingga suara Hyuji yang deselingi tawa lembut menyapa rungunya.
“Katakan juga pada ibumu, agar tidak perlu repot-repot! Aku hanya berniat mampir!”
Namun menyadari ekspresi John yang tidak teralih sedikitpun dari sosok yang berdiri diambang pintu dan mengabaikan ucapannya, Hyuji turut mengarahkan pandang. Seorang gadis belia yang sangat cantik dan fashionable. Keduanya saling terpaku dalam tatapan yang masih berlangsung lama itu, membuat Hyuji menyadari sesuatu. Mereka saling mengenal, dan mungkin, memiliki sebuah hubungan yang tidak biasa.
Hyuji tersenyum kaku, kemudian menyapa lembut dengan senyum. Namun saat hendak melangkah, jemari John menahan pergelangan tangannya hingga tanpa sadar Hyuji melihat kearah pergelangan tangan dalam genggaman telapak besar pemuda John tersebut.
“Tidak, ibu minta kau menginap dirumah kami!” sahut John tanpa memutus kontak mata pada gadis didepan sana, hingga membuat Hyuji mau tak mau harus kembali mengarahkan pandangan bergantian pada kedua presensi didalam toko bunganya itu, saat mendadak John berkata informal padanya.
Gadis disana meremat tali sling bag didepan dada dengan wajah datar seperti sedang tak percaya akan sesuatu yang sedang didengarnya.
“O-okey!” jawab Hyuji gugup.
Mendengar itu, gadis diambang pintu itu memutar langkah dan kembali keluar. Sedangkan Hyuji, menatap fitur John yang saat ini sedang meremat pergelangan tangan yang semakin terasa ngilu, seperti peredaran darahnya dihentikan secara paksa. John menggenggamnya terlalu kuat.
“J-john, bisa kau lepaskan aku sekarang?”
Seperti baru saja kembali ditarik dalam sebuah kenyataan, John mengedip cepat, kemudian melepas genggaman yang sudah membuat pergelangan sigadis memerah.
“Ah, maaf!” ucapnya, merasa bersalah. Hyuji bahkan meringis samar dan mengusap tepat pada pergelangannya yang memerah, namun masih mampu menyematkan sebuah senyuman ringan untuk John yang masih memandangnya penuh khawatir.
“Tidak apa,” celetuknya, mengambil nafas sekilas dengan dengusan samar, sebelum melanjutkan. “—kau bisa menceritakan tentang gadis itu kepadaku, jika kau sudah siap!”[]