Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 26.



Wilson, nama yang ia selipkan diakhir nama putra semata wayangnya sebagai nama keluarga. Bahkan ia memilih nama John karena ia anggap hanya dirinya yang berhak atas putranya itu. Joana menatap keluar jendela dengan hati diremat. Dia mengingat ucapan John, teringat ketika putranya itu berkata melihat sosok yang tak asing, bahkan ia anggap jika itu adalah pria sama yang hadir dua puluh enam tahun lalu dalam hidupnya, dirumah Hyuji. Gadis yang selama ini begitu menyentuh dan berhasil menarik perhatiannya.


Satu terkaan lain muncul begitu saja dalam angan Joana. “Apa Hyuji adalah salah satu dari tiga putrinya?” gumamnya, dengan suara parau.


Hingga kenangan kelam malam itu kembali menyapa. Joana tertunduk lemah saat hatinya kini benar-benar terasa sakit. Telapaknya terkepal didepan dada, kelopak matanya penuh dengan air mata yang siap meluncur turun kapan saja.


“Jika iya, itu artinya Song Min...”


Belum sempurna kalimat itu terucap dari bibirnya, suara madu John yang memanggil namanya itu menarik atensi Joana sepenuhnya. Menarik kembali untuk masuk ke dalam kenyataan dimana kakinya menapak saat ini—sadar, setelah hampir dua puluh enam tahun berlalu.


“Ibu kenapa?”


Joana tak menoleh, hanya perlahan menurunkan kepalan tangan didadanya sembari menata ekspresi saat mendengar langkah John semakin mendekat.


Dan ketika berbalik, pikiran Joana semakin membuncah kala mendapati kehadiran Hyuji dirumah ini tanpa sepengetahuan dirinya. Sukses kedua maniknya membola, rahang Joana sedikit mengetat, menatap nyalang pada sosok Hyuji yang kali ini memandang segan, atau bahkan merasa tidak enak sebab ekspresi ibu John itu berubah seketika saat melihat kehadiran dirinya di kediaman mereka sepagi ini.


“Kenapa dia ada disini?”


Dia?


Hyuji semakin merasa tak enak akan kehadirannya. Joana terlihat tak suka.


“Ah, ada sedikit masalah dirumahnya bu! Jadi dia menginap disini semalam!”


“Kenapa kau tidak mengatakan ini pada ibu? Kau tau resiko dari perbuatanmu ini?” sentak Joana dengan nada membumbung tinggi. Pikirannya sudah kacau, apalagi saat melihat Hyuji yang kini terlihat mempunyai kemiripan dengan Song Minju, mantan suami sirihnya.


Bahkan John sendiri terkejut dengan perkataan yang tidak ia duga sama sekali dilontarkan oleh sang ibu. Terlalu tinggi hingga membuat pribadi John harus memastikan keadaan Hyuji yang mendengarnya.


“Bu, dia—”


“Berangkatlah! Dan cepat pulang jika sudah selesai nanti! Ibu ingin bicara denganmu!” tegas Joana setelah itu pergi meninggalkan mereka berdua dengan tubuh kaku, terlebih Hyuji.


***


Waktu hampir menunjuk angka delapan malam. Itu artinya, John akan segera pulang dan mereka akan berbicara sesuai keinginannya tadi pagi. Joana terlihat cemas meskipun selama ini sedikitpun dia tak pernah merasa sekhawatir ini kepada putra semata wayangnya itu.


Sesuatu bergemuruh dalam dadanya. Joana bahkan saat ini sedang sibuk memilah kata untuk ia pergunakan saat berhadapan dengan John nanti. Atau lebih tepatnya membicarakan kehadiran pria yang tiba-tiba saja muncul seperti hantu setelah menghilang selama lebih dari dua puluh tahun dari kehidupannya.


Sesaat kemudian, bel rumah berbunyi. Joana bergegas membuka pintu, dan benar saja, John datang tepat waktu. Namun wajah yang tersirat pada ekspresi putranya itu terlihat tidak begitu bersahabat.


“Bersihkan dirimu dulu, setelah itu makanlah! Aku sudah menyiapkannya di meja makan!” titahnya dengan nada sumbang.


Alih-alih menuruti, John tak kunjung beranjak dari ambang pintu gerbang. Joana menghentikan langkah dan berbalik untuk memandang presensi sang putra.


John menggaruk ceruk lehernya yang bahkan tidak terasa gatal sama sekali. Bibirnya ragu untuk bertanya, namun rasa ingin taunya berhasil membuat pita suaranya bergetar. “Kenapa ibu berbicara kasar seperti itu didepan Hyuji Noona!”


Ingin sekali Joana melayangkan satu tamparan di pipi John. Tapi saat ini bukanlah waktu tepat, dia ingin berbicara bersama John dengan kepala dingin. Joana menghela nafas dalam, lalu menjawab. “Makanlah dulu, setelah itu kita bicara!” pintanya sekali lagi dengan suara rendah sembari menepuk satu sisi lengan John dengan lembut.


Hingga semuanya sudah terlaksana, Joana bersama John kini duduk berdampingan di teras belakang rumah. Ditemani udara yang mulai dingin perlahan menyapa permukaan kulit, Joana membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. “Siapa nama keluarga Hyuji?”


“Song.“ jawab John singkat, namun mampu menarik seluruh atensi Joana. “Kenapa bu?” lanjut John bersamaan menautkan manik pada sang ibu.


“Beritau ibu, dimana dia tinggal!”


***


Demi apapun, John tidak pernah melihat ibunya seperti itu. Ada kilat rasa takut yang menyelimuti manik sang ibu. John bahkan ingin tau lebih jauh mengapa ibunya itu kini terlihat tak menyukai Hyuji, namun percakapan mereka berakhir begitu saja setelah ia memberitau tempat tinggal Hyuji. Ya, ibunya pergi begitu saja setelah mendengar alamat rumah Hyuji.


John merenggangkan tubuh diatas tempat tidur, melipat dua lengan kekarnya sebagai alas kepala.


“Sebenarnya ada apa dengan ibu? Kenapa hari ini terlihat aneh sekali?” gumam John, menggigit bibirnya sambil menatap langit-langit kamar. “Dia terlihat tak suka dengan kehadiran Hyuji Noona!”


Masih saja menerka, hingga satu pikiran terbesit dalam benaknya. “Apa karena aku salah mengambil keputusan saat memperbolehkan Noona masuk kedalam rumah tanpa meminta izin dulu pada ibu! Atau...” John menjeda kalimatnya sendiri, lalu buru-buru bangkit dengan kedua manik rusa yang sudah membola sempurna. “Oh, ya Tuhan! Atau ibu melihat semua yang aku lakukan semalam?”


Satu kalimat yang merujuk pada perbuatannya pada Hyuji malam itu. Berciuman. Ya, meskipun tidak yakin, John berfikir mungkin itulah alasan sang ibu terlihat penuh angkara hari ini.


“Arrgghh...” desah John penuh frustasi. “Bagaimana ini?”


John mengacak hingga meremat surai nya yang masih setengah basah, lalu merutuk perbuatannya itu sekali lagi. Benar-benar sial.


Akan tetapi semuanya tidak berlangsung lama. Ponsel John bergetar kuat diatas nakas, satu panggilan masuk dari masa lalunya, Clarisa. Ekspresi John berubah total, dia bahkan tak menyangka jika mantan kekasihnya itu kini berani menghubunginya.


Lalu, dengan ragu John menggeser tombol yang melompat-lompat pada display layar, mengarahkan pada telinga, dan mendengar sapaan lembut mengudara merangsek masuk pada pendengar nya.


“John, bagaimana kabarmu?! Bisakah kita berbicara sebentar?” []



Tidak pernah lupa untuk selalu mengingatkan. Tinggalkan Like dan komentar, serta Favorit jika tidak ingin ketinggalan bab selanjutnya.


Terima kasih.


Vi's.