Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 30



Hyuji berdiri menatap kedatangan seseorang yang sudah hampir tiga puluh menit lalu lewat dari jam yang ia tentukan. Berfikir tidak akan terwujud, nyatanya dia datang. Ya, Joana—ibu John, menyanggupi permintaan Hyuji untuk bertemu. Meskipun beberapa waktu lalu Hyuji sempat tidak yakin jika dia akan diterima kembali.


Tersenyum hangat, membungkuk sebagai salam hormat, Hyuji bahkan sudah memesan dua gelas minuman untuk mereka.


“Selamat pagi bibi!” sapa Hyuji, namun Joana bergeming, hanya menajamkan tatapan pada Hyuji.


Perlahan, senyuman itu memudar. Namun Hyuji tetap berusaha membuat suasana diantara mereka berdua tidak canggung.


“Maaf mengganggu bibi!” tutur Hyuji, meremat jemarinya penuh cemas dibawah meja. “Tapi saya ingin bertanya pada bibi.” helaan nafas khawatir Hyuji menguar bersama kalimatnya yang sengaja ia jeda. “Satu hal yang mungkin tidak akan bibi sukai saat mendengarnya dari saya!”


Joana menatap tanpa minat kepada Hyuji, membuat gadis itu tertunduk lesu dengan raut penuh kecewa.


“Kau Putri Song MinJu 'kan?”


Tentu saja pertanyaan itu membuat Hyuji kembali mengangkat dagu untuk membalas tatapan ibu John dihadapannya. Seperti sudah menduga, Joana tidak ingin Hyuji berbelit-belit.


“I-iya!”


Ternyata benar ucapan mamanya, jika ibu John adalah orang ketiga yang hadir diantara mereka. Hyuji gugup, tubuhnya bergetar takut menerima kenyataan yang beberapa hari ini mencoba ia sangkal.


“Jauhi putraku!”


Manik Hyuji berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika jalan yang harus ia tempuh terasa menyedihkan seperti ini. Permintaan ibu John terasa lebih menakutkan daripada melihat kebawah dari gedung pencakar langit. Membuat Hyuji takut seketika.


“Tidak seharusnya kalian bersama seperti ini! Dan aku harap, kau sudah mendengarnya dari HyeJin, tentang apa yang seharusnya kau tau sejak dulu!”


Hyuji mempertaruhkan sisa hatinya untuk yang terakhir kali. Dan kini bagian rapuh itu sudah benar-benar hancur, tak mungkin dapat ia susun kembali setelah beberapa waktu lalu ia pikir semuanya sudah membaik. Namun badai datang lebih kencang menghantam setiap inci bagian dirinya.


Hyuji bungkam, tak sanggup menimpali apapun hingga suara ibu John kembali terdengar.


“Kau sekarang pasti tau jika John adalah saudaramu! Jadi aku mohon jauhi dia tanpa menyakiti perasaannya!”


Hyuji akan mewujudkan itu. Tapi bagaimana dengan dirinya? Hyuji bahkan terasa tak lagi memiliki tenaga hanya untuk sekedar berbicara. Hyuji mengangguk pasrah, lalu meraih gelas berisi teh matcha yang sudah dingin, kemudian meneguknya sebagai pengalihan rasa kecewa dan putus asa yang tiba-tiba muncul ke permukaan, menyeruak dan mengepul seperti asap pekat didalam otaknya.


“Saya akan menjauhinya diam-diam!” jawab Hyuji setelah tegukan teh itu berhasil membasahi tenggorokannya yang tercekat. Hyuji bahkan tak tau lagi bagaimana cara kerja dunia mempermainkan dirinya. Dia terpuruk dan dibantai habis oleh kenyataan yang ia jalani.


Ibu John terlihat lega mendengarnya, bahkan raut wajahnya tak sedatar ketika pertama kali melihat Hyuji tadi, sorot matanya pun melembut.


“Tapi tolong, rahasiakan pertemuan kita dari dia,” lanjut Hyuji menarik atensi dari ibu John untuk kembali memperhatikan Hyuji yang sedang tersenyum miris. “Dan juga, biarkan saya bertemu John sekali saja! Untuk yang terakhir kali! Saya berjanji tidak akan mengatakan apapun tentang semua kenyataan ini!”


Sungguh miris, hatinya serasa diiris. Joana bahkan tak sanggup mendengar suara parau Hyuji saat meminta padanya dengan wajah tertunduk pilu dan derai airmata yang terlihat meluncur deras. Merasa kesal, bersalah dan iba dalam satu waktu yang sama.


“Saya mohon! Ibu...”


...***...


Setelah pertemuannya dengan Hyuji di pantai Haeundae hari itu, John berubah kacau. Dia bahkan tak menduga jika Hyuji adalah gadis didalam foto masa kecilnya. Dan sekarang, dia harus menerima kenyataan bahwa Hyuji tak menginginkan dirinya. Dia terlalu percaya diri ketika pertama kali bertemu dulu. Dia bahkan berfikir akan berakhir bahagia bersama Hyuji.


John meraih botol hijau dihadapannya, dan kembali menuang cairan memabukkan itu kedalam gelas, lalu menenggaknya sekali lagi. Memicing karena merasa tenggorokannya seperti terbakar.


“Lalu apa alasannya pergi sampai menghilang seperti ini?” gumamnya pelan.


John terlihat begitu frustasi saat minuman itu sudah kosong bersamaan ingatan tentang Hyuji kembali muncul. Bahkan seharian ini dia duduk didepan toko bunga sembari memperhatikan bunga-bunga yang mulai layu didalamnya, berharap Hyuji akan datang, menyapa dengan senyuman dipagi hari seperti biasanya, kemudian menghabiskan waktu seharian bersama di tempat yang sama.


Mendesah frustasi sambil mencengkeram surainya, John mengeratkan bibir dan memejamkan mata rapat-rapat. Ketakutan akan sebuah kata kehilangan datang diantara kesadarannya yang mulai menipis.


“Aku harus bagaimana...”


Mungkin, saat ini orang sedang memandang iba kepada John. Dia terlihat menyedihkan.


Setelah membayar, John berjalan keluar dari kedai, berjalan sedikit terhuyung sebab kesadaran diri yang semakin menurun. Berfikir sejenak, kemudian merogoh saku jaket denim hitam yang memeluk tubuh, John berfikir dirinya memanglah seorang pecundang.


“Kak, tolong jemput aku! Aku tidak ingin ibu memukuliku dengan gagang sapu!”


Sedang diseberang telepon, YoonKi sudah bersungut-sungut ingin marah, bahkan mengumpat keras saat John berkata meminta dijemput karena mabuk. Namun dirinya memang tak akan pernah mengabaikan pemuda yang selama ini ia anggap seperti saudara itu.


“Bocah tengik!” gumamnya sembari meraih kunci mobil diatas meja dan menyambar jaket kulit hitam dari gantungan didalam lemari pakaian yang cukup besar, walk in closet.


...***...


Nafas John semakin memberat, perutnya juga bergolak hebat meskipun dia sudah memuntahkan hampir semua soju yang ia tenggak. Memilih meringkuk di tepian jalan, lebih tepatnya didekat sebuah pohon pinggir jalan, John menunggu YoonKi datang menjemputnya.


Ah, dia bahkan masih terus berfikir jika Hyuji sedang tidak baik-baik saja, dengan kondisinya yang hampir tumbang saat ini.


John memejam sejenak saat udara dingin berhembus menyapa permukaan kulit wajahnya, membuat gejolak mual itu datang kembali. Bibirnya mulai bergetar karena tenaganya yang bahkan terasa seperti sirna begitu saja. Lalu, sebuah mobil SUV hitam mengkilat berhenti didepannya.


John mendongak, dan harapannya untuk aman terasa nyata. Dia aman karena YoonKi benar-benar berdiri dihadapannya, meraih sebelah tangannya, kemudian menuntun dirinya untuk masuk kedalam mobil meskipun sempat mendengar pria itu mengolok dan mengumpatinya terang-terangan.


“Terima kasih sudah datang kak Yoon!” ucapnya saat YoonKi berhasil membaringkan tubuhnya di kursi penumpang. John menghela nafas dalam lalu memejam sekali lagi sebab kepalanya berputar-putar. Ia mendengar pintu mobil ditutup, kemudian merasa mobil sedang bergerak. Disusul suara tenang dan berat yang dimiliki YoonKi mengudara penuh tanya.


“Kenapa kau lakukan ini jika dirimu saja tidak bisa mengatasi akibatnya?!” tutur YoonKi, terdengar biasa saja meskipun tersirat makna kekesalan didalamnya. “Kau selalu menyeretku dalam masalah yang kau buat!”


Jelas John mendengarnya, meskipun ia tak sanggup untuk memberikan pembelaan pada dirinya sendiri. Dia hanya mendengar YoonKi sesekali berdecak sebal dan menggumam jika akan memukulnya habis-habisan jika sudah sadar nanti.


“Jika punya masalah, selesaikan! Jangan membuat orang lain kesulitan seperti ini!”


Ya, seharusnya seperti itu. John tau betul, akan tetapi masalahnya kali ini terasa begitu rumit hingga dia sendiri tak sanggup untuk mencari jalan keluar. Semuanya terasa diam ditempat. Jalan buntu.


“Kau itu bodoh! Hyuji terlihat tidak ada minat padamu, tapi kau tetap saja memaksakan dirimu sendiri untuk bersamanya!”


YoonKi masih saja mengoceh dibalik kursi kemudi. Dan tepat saat mobil YoonKi berhenti karena lampu merah sedang menyala, John bergumam pelan dengan suara parau yang terdengar begitu hancur. “Dia pergi tanpa kabar kak, dan aku sangat merindukannya!”[]