
Terkadang, hidup manusia itu tak selalu sejalan dengan apa yang sudah mereka susun dengan baik. Kendati demikian, kadang kala sebuah keajaiban selalu menjadi harapan. Entah itu akan berbuah manis atau bahkan pahit.
Begitu pula dengan Joana, dia hanya berharap kedatangannya itu tidak berujung dengan hal buruk seperti yang pernah ia terima saat itu.
Hanya berbekal sebuah keberanian, dia mendatangi unit megah di kawasan elite itu setelah mendengarnya dari John. Pakaiannya sederhana, dan juga sebuah tas selempang usang yang menggantung di bahunya, Joana memangkas jarak. Pintu gerbang besar berwarna coklat itu tertutup rapat.
Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya bergetar kala mengingat nama Song Minju. Ia pun mencoba mencari celah dengan melongok kekanan dan kekiri. Akan tetapi, tiba-tiba pintu kecil disisi gerbang itu terbuka. Seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu, berjalan mendekat pada sosok Joana yang kini terpaku diatas tumpuan kakinya yang sedikit bergemeretak sambil meremat jemarinya.
“Mencari siapa?!” tanya sipria bertubuh gempal itu dengan suara tegas.
“A-apa benar ini r-rumah tuan Song M-minju?”
Tergagap, bahkan lidahnya terasa kelu saat menyebut nama itu secara gamblang didepan orang lain, lantas Joana memutar pandangan saat pria itu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Dia melihat pria itu bergegas masuk dan mendorong pintu gerbang utama.
Sebuah mobil mewah hampir memasuki area rumah, namun tiba-tiba saja berhenti hingga membuat Joana khawatir. Ia hanya berharap tidak Minsu, tidak juga HyeJin. Keduanya adalah hal yang paling tidak ingin dilihatnya lagi dimuka bumi. Kedatangannya kesini hanya untuk memastikan, bukan untuk kembali bertemu seperti reuni akbar.
Namun agaknya keberuntungan tidak sedang berpihak kepadanya. Seorang wanita dalam balutan pakaian mewah, sepatu dan tas mahal, serta kacamata hitam itu turun dari mobil. Berjalan mendekat dengan wajah pongah, lalu berhenti tepat didepan Joana.
Dunia mendadak seperti berhenti berputar saat wanita yang ia kenal bernama HyeJin itu melepas kacamata hitamnya dan kedua manik mereka bersirobok. Joana seolah menjadi tawanan diantara kumpulan serigala yang kelaparan saat senyuman lebar dari bibir merah merekah ditujukan wanita itu kepadanya.
“Lama tidak bertemu?! Bagaimana kabarmu, Joana-ssi?”
Lidah Joana benar-benar kelu. Bahkan tenggorokannya terasa kering dan tak sanggup untuk mengeluarkan suara untuk menyahuti pertanyaan HyeJin. Dia hanya diam, menatap cemas dengan tubuh yang sudah menegang sempurna.
“Kenapa? Santai saja, aku tidak akan membunuhmu!”
Bagaimanapun, dipikir ribuan kalipun, HyeJin memang pantas membencinya. Dan Joana tau, dia memang pantas mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan ini dari nyonya besar keluarga ini. Karena Joana bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah orang lain yang tiba-tiba hadir sebagai pengacau di dalam bidak rumah tangga wanita itu. Ya, Joana hanya diam karena ditenggelamkan oleh rasa bersalah yang begitu dalam dan pekat.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar putramu? Aku harap dia juga tumbuh dengan baik!” tanya HyeJin masih dengan wajah pongah dan senyuman asimetris di bibirnya.
Mungkin itu hanya sebuah kata, namun mengandung banyak sekali makna. Diantaranya mungkin mengartikan kata 'baik' untuk cerminan perilaku yang benar-benar baik.
Sejenak membuang muka, Joana memberanikan diri untuk kembali menautkan mata pada HyeJin. “Dia tumbuh dengan baik, meskipun tanpa ayah!”
Mendengar ucapan itu, mendadak wajah HyeJin menegang, rahangnya mengeras dengan tatapan nyalang setajam ujung pedang.
“Kau masih bisa berkata demikian? Padahal aku mengira jika kau akan malu dan pergi dari hadapanku!”
Memang, mulut HyeJin bisa berubah menjadi neraka jika dia sedang digulat oleh amarah. Namun Joana masih menguatkan diri, tetap pada tujuan utamanya, yakni ingin tau jika Song MinJu memang tinggal disini, dan Song Hyuji adalah salah satu dari ketiga putrinya.
“Song Hyuji, apa dia Putri kalian?”
HyeJin memutar bola mata sebal, lalu merogoh tas branded dan mengeluarkan lembaran cek kosong yang kemudian ia sodorkan kepada Joana.
“Tulis berapapun yang kau inginkan! Dan jangan mengganggu keluargaku lagi! Aku muak melihat wajahmu!” sarkas Hyejin dengan wajah yang sudah sepenuhnya penuh angkara. Ada sedikit rasa takut jika tiba-tiba Minsu datang dan bertemu dengan Joana.
“Simpan saja cek mu! Aku tidak ada niat sedikitpun meminta itu padamu!”
“Omong kosong sialan!” sahut HyeJin cepat. Joana jelas mendengar umpatan keluar dari mulut HyeJin yang saat ini menambah langkah mendekat, lalu berhenti di salah satu sisi wajah dan membisikkan sesuatu ditelinganya. “Jadi kau menginginkan putriku itu?” tanya HyeJin pelan penuh intimidasi, mampu membuat bulu kuduk Joana seketika berdiri karena takut. “Ambil saja! Aku tidak menginginkan dia! Gadis itu hanya pembawa sial untukku!”
Hati Joana mencelos. Dia bahkan tak menduga HyeJin mengatakan jika putrinya sendiri—Song Hyuji, adalah gadis pembawa sial untuknya. Dan saat itu juga, Joana tau alasan mengapa John membawa Hyuji menginap dirumah mereka beberapa waktu lalu. Sesak memenuhi relung hati Joana, pandangannya memburam seiring airmata yang tiba-tiba saja memenuhi kelopak mata.
HyeJin menjauhkan diri beberapa langkah, memperhatikan Joana lamat-lamat dari jarak yang tidak terlalu jauh sembari melipat kedua lengannya didepan dada.
“Apa maksudmu?” tanya Joana merasa ada yang janggal dari kalimat HyeJin.
Dahi Joana berkerut, dia bahkan tidak tau apapun tentang alasan MinJu memulai hubungan terlarang dengannya tanpa sepengetahuan HyeJin hingga John hadir ke dunia.
“Kau tidak tau?! Apa dia tidak mengatakan alasannya menidurimu?”
Okey, kata-kata itu sudah terlalu kasar. Joana memejam sejenak dan meneguk salivanya yang terasa menusuk, begitu nyeri hingga nyaris membuat emosi yang ditahan meluap bersama nafas kasar yang berhembus dari hidung.
“MinJu menginginkan seorang putra dan aku tidak bisa mengabulkannya karena dokter melarangku hamil setelah melahirkan anak sialan itu!”
Bukankah anak adalah anugrah dari Tuhan? Mengapa HyeJin sangat membenci Hyuji seperti ini?
Joana tercengang akan satu alasan yang baru ia ketahui setelah pergi dari kehidupan MinJu 26 tahun lalu.
“Dia seperti orang kurang waras saat kau membawa pergi putranya begitu saja! Dan sekarang, mengapa kau tiba-tiba muncul seperti ini? Apa kau ingin meminta hak anakmu pada suamiku?”
Joana menggeleng. Demi Tuhan dia tidak ada niatan seperti itu. Joana kehabisan kata-kata, mulutnya bak dikunci paksa oleh kenyataan pahit hidupnya yang sudah ia lalui bersama John.
“Atau—”
“CUKUP!!” ucap Joana spontan saat HyeJin hendak kembali mencercanya dengan ribuan kenyataan pahit masalalu dengan dalih yang sama sekali tidak ia ketahui. “Aku hanya ingin memastikan jika putraku tidak mencintai wanita yang salah!”
Jelas HyeJin terkejut oleh penuturan Joana yang sedikit banyak menyakiti hatinya. Bagaimanapun dia adalah seorang ibu, rela mengandung Song Hyuji selama sembilan bulan meskipun tidak menduga suatu hal yang tak ia inginkan terjadi di akhir penantian.
“Kau—”
Kalimat HyeJin kembali dipotong dengan begitu tajam oleh ucapan Joana.
“Awalnya aku hanya ingin memastikan, tapi semuanya memanglah benar!” Airmata Joana jatuh begitu saja membasahi pipi. Dia tak tau harus mengatakan apa nanti kepada John, tidak pula ingin mematahkan dan menghancurkan perasaan sang putra dengan satu pukulan telak. Semuanya berubah rumit dan juga kacau. “Aku tidak ingin putraku mencintai kakaknya sendiri! Dan perlu kau ingat!”
HyeJin mengepalkan kedua telapak tangan hingga memutih, amarahnya memuncak.
“Hyuji gadis yang baik! Dia tidak pantas kau anggap seperti itu! Bagaimanapun dia adalah putrimu!”
“DIAM KAU WANITA SIALAN!!”
Joana tersenyum miris mendengar sebutan yang sudah lama berlalu itu terlontar sekali lagi dari HyeJin. “Dan aku tidak akan membiarkan putraku memasuki kehidupan kalian, aku tidak ingin putraku hidup sulit, seperti masa lalu kelam yang kalian berikan untukku!”[]
•
•
•
Bagaimana pendapat kalian tentang bab ini?
Satu hal sudah terungkap. Lalu bagaimana kelanjutannya?
Tetap ikuti chapter selanjutnya, yang tentunya akan semakin menguras emosi!
Sider? Semoga insyaf!!!
Vi's.