
Waktu cepat sekali berlalu. Bahkan John sudah bekerja di perusahaan yang didatanginya untuk interview satu musim, ah, tidak, lebih tepatnya hampir dua musim yang lalu.
Tidak hanya bermodal wajah tampan, John juga menunjukkan bahwa dirinya pantas mendapatkan jabatan yang saat ini ia duduki—Kepala devisi. John tak pernah membiarkan dirinya hanya duduk berleha-leha dan menandatangani pekerjaan dari anak buahnya. Dia pekerja aktif, bahkan dia sendiri yang sering mengerjakan naskah-naskah ataupun materi penting untuk meeting dengan pemilik perusahaan ataupun klien.
Dan hari ini, dia akan bertemu dengan salah satu pemegang saham di perusahaan tempatnya bekerja. John sudah mempersiapkan semua meteri presentasi sejak beberapa hari yang lalu. Dia tidak ingin mengecewakan siapapun, termasuk dirinya sendiri.
Sejenak melupakan peliknya perasaan tentang seseorang, John berjalan menuju ruang dimana meeting tersebut akan di lakukan.
Kaki jenjang dalam balutan celana bahan gelap berikut pantofel mengkilat itu sudah berhasil mencapai tempat tujuan. Menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan kasar, John mendorong pintu kaca tebal dan kedap suara itu, kemudian berjalan melewati beberapa orang pimpinan dari masing-masing devisi. Duduk pada salah satu kursi dengan papan yang menyematkan namanya diatas meja.
Tidak bisa dipungkiri jika dia terasa begitu gugup, membuat darahnya terasa dingin saat mengalir pada nadi didalam tubuhnya.
Hingga pintu itu kembali terbuka dan seluruh penghuni ruangan bangkit untuk memberikan salam hormat pada beberapa orang yang muncul dari balik pintu tersebut, tak terkecuali John. Namun kini pandangan pemuda itu terkunci pada salah satu sosok pria yang terlihat tidak asing baginya.
Pria berambut klimis penuh uban, tubuhnya tinggi jangkung dan ada guratan yang terlihat jelas pada wajah, serta jas hitam dan kemeja rapi yang memeluk tubuh pria tersebut, bahkan aroma yang jelas pernah John hirup. Akan tetapi sialnya, dia tak bisa mengingat apapun tentang pria tersebut. Dia benar-benar berfikir keras, hingga manik mereka bersinggungan saat pria itu berjalan dibelakang melewati John.
Lampu ruangan dimatikan dan sinar proyektor mulai menyorot pada layar putih yang berada dibaris paling depan ruangan. Sejenak microfon dari salah satu orang yang tengah duduk di meja depan itu berdenging, membuat beberapa orang mengernyit bahkan menutup telinga. Akan tetapi, John tak sedikitpun melepas pandangan pada pria berusia Kisaran enam puluh tahun itu.
Dan, Bang!
Satu ingatan tentang kenangan buruk merangsek dalam kepalanya. Song MinJu. Dia pernah melihat wajah pria ini, dan dia mendengar namanya dari sang ibu.
Bahkan pria tersebut juga tak melepas sedikitpun tautan matanya untuk John yang saat ini masih saja melihat dengan ekspresi datar. Namun pria berusia lebih dari separuh abad itu membalas tatapan tersebut dengan lembut hingga membuat John semakin tidak mengerti, apa maksud dari semua itu.
***
Meeting berakhir dua jam setelahnya. Lalu ketika para peserta satu persatu meninggalkan tempat, pria yang setau John bernama Song MinJu itu berhenti tepat disebelah John, tersenyum hangat sembari berkata, “Agaknya, kita perlu bicara!”.
Kalimat tersebut mampu menarik perhatian siapapun, termasuk dua orang dibelakang Minju, dan satu orang lainnya yakni pemilik perusahaan tempat John bekerja. Demi apapun dia tidak ingin bertatap muka dengan orang yang pernah menyakiti hati ibunya itu.
John tersenyum hambar, kepalanya sudah berdenyut nyeri dan gejolak mual terasa memenuhi dirinya. Lalu, dengan tatapan yang menajam, John memperhatikan Song Minju yang masih saja melihatnya dengan lembut. “Ada yang ingin aku beritahukan padamu!”
Bukankah itu terasa konyol? John sendiri bahkan muak saat mendengar ajakan pria bernama Song Minju ini. Entah lingkaran setan apa yang sedang dililitkan pada lehernya, John berdecak sebal. “Memangnya apa lagi tuan? Bukankah anda sudah memenangkan semuanya? Kami sudah bahagia! Jadi jangan pernah ganggu kami lagi!”
Dengan satu arahan lengannya yang menunjuk arah pintu, seluruh pasang mata yang tersisa disana menurut begitu saja. Dia memang memiliki kuasa yang besar dan tidak dapat di pungkiri siapapun.
Ruangan dingin dengan suhu rendah tersebut hanya menyisakan dua presensi disana. John hanya diam sembari memperhatikan pria tua penuh kuasa itu dengan lamat. Detik jam terdengar begitu menggema, hingga waktu seolah berjalan dengan sangat lambat.
John menaikkan sedikit dagu, lalu dengan tajam ia bertanya. “Apa hubungan anda dengan Hyuji Noona? Ayah dan anak?”
MinJu tak mengedipkan matanya sedikitpun, dia sama sekali tidak ingin melewatkan fitur wajah yang selama ini hanya bisa ia lihat secara diam-diam. “Lalu—” John menjeda, mengambil alih dominasi hingga MinJu benar-benar hanya terdiam diatas kedua kakinya. “—tujuan anda menjadi salah satu pemegang saham diperusahaan ini karena ingin menemui saya?” lanjutnya dengan penuh penekanan meskipun masih dalam konteks kesopanan yang wajar.
MinJu tersenyum, dia sama sekali tidak mengelak. “Kau benar!”
Seketika itu juga, kedua manik John melebar. Apa yang dikatakan ibunya tentang pria ini benar. Song MinJu itu menakutkan. “Lama tidak berjumpa, nak!”
Demi udara yang terasa semakin menyakitkan, paru-paru John seolah tak ingin lagi menghirup salah satu komponen yang membuatnya tetap hidup. Nafasnya terasa berat, dan kenyataan terasa begitu memilukan.
Nak? Panggilan itu terasa asing, bahkan John tidak pernah membayangkan pria itu akan memanggilnya segamblang ini.
“Tuan, bukankah anda tidak pernah mengharapkan apapun dalam hidup anda?! Kecuali kekuasaan?”
“Apa ibumu yang berkata demikian?”
John tercekat. Dia hanya membual, ibunya tak pernah berkata apapun tentang sosok pria yang tak pernah menampakkan diri sejak dirinya lahir itu.
“Lalu dari mana kau tau jika aku—”
“Anda hanya perlu menjawab pertanyaan saya!” tegas John, memotong begitu saja kalimat MinJu yang belum sepenuhnya terucap.
Pria itu menunduk, mengangguk dengan manik yang menatap lurus pada meja lebar yang ada dihadapannya. “Baiklah! Katakan saja apa yang ingin kau tau dan dengar dariku!”
John menghela nafas dalam, kepalanya terasa berputar, nafasnya memberat, dan telapaknya begitu dingin saat ini. “Mengapa anda meninggalkan ibu?”
Sungguh, dalam batin MinJu, dia ingin sekali mengelak hal tersebut. Dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Joana, wanita itu menjadi salah satu alasannya bertahan hidup hingga saat ini.
“Aku tidak pernah meninggalkan ibumu!”
“Omong kosong!” cebik John dengan seringai tajam disudut bibirnya. Muak sekali dengan alasan pria tua dihadapannya yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri. “Anda ingin bertanya darimana saya tau anda adalah ayah saya bukan?”
Song MinJu mengangkat pandangan, maniknya bergetar dan memanas dalam satu waktu. Begitu perih saat mendengar ungkapan dari bibir John. “Saya melihat anda dan ibu saya berbicara saat di Haeundae dua puluh tahun silam! Dan yang membuat saya selalu mengingat wajah anda adalah, saat anda menyebut saya sebagai putra anda!”
Entah harus merasa lega atau bahkan sesak, MinJu hanya bisa mengangguk sembari mengenang pertemuannya dengan ibu John dua puluh tahun silam lamanya. “Jadi, kau mendengarnya? Itu sebabnya kau tau siapa aku?”
Tak menjawab, John hanya meneguk salivanya susah payah sebab kenyataan lain harus ia telan bulat-bulat. Kenyataan pahit yang mencoba ia sangkal seorang diri, kenyataan yang bahkan baru ia ketahui setelah presensi yang dirindukannya itu menghilang bak ditelan bumi.
“Iya,” jawab John singkat, sengaja menjeda agar pria itu kembali mengatakan hal yang ingin diketahui John. Akan tetapi, MinJu masih saja diam diantara dengung pendingin ruangan yang terdengar samar. Lalu John dapat melihat saat pria itu merogoh saku dibalik jas licin dan rapi yang ia kenakan. Sebuah lembaran usang ia letakkan diatas meja, mendorongnya pelan hingga sampai di tempat yang tak jauh dari pemuda John berdiri.
Manik John membola seketika. Foto kenangannya bersama Hyuji saat di Haeundae, mengapa bisa berada ditangan MinJu?
“Aku tidak pernah meninggalkan dirimu, atau bahkan ibumu! Aku hanya terlalu takut untuk memperlihatkan diriku didepan kalian! Aku tidak ingin kehilangan dirimu untuk kedua kalinya, anakkku!”
Mustahil. Alih-alih mendengar suara MinJu yang sendu, John lebih terluka akan satu kenyataan yang sedari tadi membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Hyuji adalah kakaknya.
John menggeleng dengan manik rusa yang meredup. Jantungnya serasa dikoyak habis saat harus dipaksa menerima keadaan. Hyuji adalah kakaknya, dengan perasaan yang selama ini tumbuh. Apa yang harus ia lakukan?
Lengan John terulur menggapai foto tersebut. Tubuh dan bibirnya bergetar hebat.
“Hyuji adalah kakakmu!”
Suara MinJu terasa seperti sebuah peluru yang menembus jantungnya. Pandangan John memburam, dan gambar tersebut seperti sebuah hal yang sangat tidak ia harapkan. Dan kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir MinJu adalah sebuah gada yang memporak-porandakan setiap inci diri John. “Aku yang memisahkan kalian, sebab aku tidak ingin kalian memiliki hubungan Cinta sedarah!”
Benar. John tau itu akan menjadi hal yang salah. Akan tetapi, tidak adakah cara lain untuk menjabarkan semuanya? Atau lebih tepatnya, tidak adakah cara lain untuk menjauhkan keduanya? Semuanya terasa begitu menyakitkan.
“Hyuji pergi begitu saja dari rumah saat mengetahui kenyataan ini! Dan aku belum bisa menemukannya hingga saat ini!”
Airmata lolos begitu saja dari kelopak mata John. Gadis malang itu tak lain adalah kakaknya sendiri.
Dua tahun.
Ya, dua tahun lamanya Hyuji menghilang dan bahkan hingga saat ini belum kembali.
“Aku—”
“Patutkah seorang ayah bersikap demikian pada anaknya?” sergah John. “Anda memperlakukan Hyuji Noona dengan sangat buruk!”
MinJu sendiri sudah tak bisa mengelak. Lalu, pada detik yang terus merubah kearah menit, MinJu tercekat hebat saat mendengar John berkata dengan nada suara datar dan pilu sebelum berlalu dari hadapannya.
“Aku yang akan mencari dan menemukannya!”[]