
Sebenarnya, bukan hal ini yang aku inginkan. Lari dari masalah bukanlah sosok diriku.
Jika definisi kata 'Pergi' itu diwujudkan dalam dua bentuk dan makna yang berbeda, aku akan lebih memilih pilihan yang lainnya. Bukan malah bersikap seperti pecundang dan bersembunyi seperti ini.
Aku tidak menyukai diriku yang seperti ini.
Hyuji memandang pantulan dirinya sendiri pada cermin yang berdiri tak jauh dari jangkauan penglihatan. Menatap lekat disana, mencari makna mengapa ia terlihat begitu dan amat sangat menyedihkan.
Disela itu semua, tiba-tiba saja ingatannya kembali pada lima jam yang lalu. Lima jam dimana dia bertemu dengan sosok John yang selama ini ia hindari. Dan ya, hanya dia satu-satunya alasan Hyuji lebih memilih opsi yang memalukan. John adalah pelakunya.
Tertawa sendu, Hyuji tertunduk lesu menatap jemarinya yang saling tertaut saat menyadari kenyataan bahwa dia belum bisa mengesampingkan perasaannya pada John. “Kenapa dia harus datang lagi?” gumamnya, mengingat-ingat bagaimana caranya kembali dipertemukan dengan John, pemuda yang bahkan tidak ia inginkan. “Apa aku salah mengambil keputusan? Harusnya aku memilih opsi lainnya bukan?”
Hyuji merasa dirinya benar-benar tidak ingin John membawanya kembali. Dia terlalu lelah hidup di Busan, rasa takut dan khawatir selalu saja menjadi hal yang menghantuinya. Perlahan, tautan jemari itu melenggang, dan telapaknya terulur guna meraih gawai di atas nakas.
Sebuah perasaan ragu merangsek memenuhi isi kepalanya, dan tanpa terasa satu lelehan airmata membasahi sisi wajah Hyuji. Mungkin dirinya terlihat baik-baik saja saat ini, tapi semua berbanding terbalik dengan hatinya.
“Aku harus bagaimana? Aku sama sekali tidak ingin kembali?”
Bisa saja dia menolak tegas tawaran John untuk membawanya kembali, namun sikap yang di tunjukkan John saat mengatakan bahwa dia ingin membawa Hyuji kembali adalah alasan utama Hyuji goyah. Pemuda itu terlalu lembut dan tulus.
Hyuji meremat pakaian tepat didadanya, merasakan sesak memenuhi rongga dada.
Kembalilah sebagai kakakku.
Ah, Hyuji harus kembali tergugu dalam tangis. Sudah lama dia menahan, bahkan dengan sengaja tidak menangis selama dua tahun terakhir. Menyiksa diri sendiri agar pemuda tersebut tidak lebih sakit dari dirinya.
Semua kesedihan yang biru itu mendadak sirna saat pintu kamarnya berderit pelan. Sesosok gadis belia muncul dari balik bentang kayu berwarna coklat tua itu dengan senyuman mengembang yang terlihat cantik.
“Kak, apa aku boleh masuk?”
Hyuji mengesat pipinya yang basah perlahan, berharap tidak terlambat dan gadis tersebut melihatnya yang sedang rapuh.
“Tentu saja, kemarilah!” jawab Hyuji sembari menyuguhkan senyum dalam raut wajah sedih yang bisa ia sembunyikan hanya dalam hitungan seperdetik saja.
Gadis itu membuka sempurna daun pintu, berjalan masuk dan kembali merapatkan kayu tebal itu agar kembali mengatup.
“Ada apa El?”
Jika kalian menebak gadis itu adalah Elliotte, kalian benar. Elliotte adalah cucu dari wanita yang membawa Hyuji untuk tinggal satu atap bersama mereka. Hyuji tidak akan pernah melupakan jasa berharga dari nenek El.
“Kakak dulu berasal dari Busan 'kan?” tanya El sembari membawa bobot tubuhnya untuk terpantul diatas ranjang Hyuji.
Hyuji menatap pada paras rupawan Elliotte yang terlihat begitu antusias, lalu meraih pucuk kepala gadis itu dengan lembut dan sebuah senyuman hangat. “Benar, kenapa? Apa kau ingin mengunjungi Busan?”
“El ingin kesana...” katanya dengan suara yang terdengar seperti sebuah rayuan.
“Mengapa kau tiba-tiba ingin kesana? Apa seseorang menunggumu di Busan?”
Terlihat sedikit raut sedih saat El menggelengkan kepala. Gadis yang duduk di semester akhir Sekolah Menengah Atas itu menunduk dengan bibir mengerucut kedepan, kemudian memainkan ujung kuku dan terlihat seperti gadis remaja yang sedang kasmaran. Terlihat menggemaskan dimata Hyuji.
“Kau berbohong? Kakak bisa melihat dirimu sedang tidak berkata sesungguhnya—”
“Bukan begitu,” sahut Elliotte cepat sebelum Hyuji menyelesaikan kalimat yang hendak ia sampaikan.
“Lalu?” desaknya, menuntut Elliotte untuk mengangkat pandangan dan manik mereka agar saling bertemu.
“Dia datang dan berasal dari Busan!”
Hyuji mengerutkan kening. Tak mengerti maksud ucapan Elliotte. “Siapa?!”
Sebuah cengiran manis yang menampakkan dua lesung pipi miliknya, Elliotte menjawab Hyuji dengan ringan. “Paman John!”
...***...
Satu hal yang membuat John seolah diombang ambing oleh kenyataan, lalu dihempaskan di tempat yang masih sama, yakni penantian.
SUV itu memasuki basement hotel dimana dia menginap beberapa hari ini, dan ya, dia tidak akan kembali ke Busan tanpa Hyuji.
John adalah pemuda yang bisa saja berubah menjadi keras kepala jika memiliki sebuah keinginan. Dia akan gigih dan berjuang untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya berharap selama ini. Mengesampingkan semua perasaan yang mungkin saja masih belum bisa hilang atau berbalik begitu saja. Jujur, perasaan lain untuk Hyuji masihlah ada, meskipun John sudah menepis dan meyakinkan dirinya sendiri jika hal itu sangatlah salah.
John masih duduk dibalik kemudi, merenung bagaimana pertemuannya dengan Hyuji hari ini. Dia sangat merindukan gadis yang sempat mengisi hatinya, lalu dihancurkan oleh kenyataan bahwa mereka adalah saudara.
“Bagaimana jika ayahnya tau dia kembali ke Busan?” gumamnya, masih belum bisa menerima jika mereka terlahir dari sosok ayah yang sama.
John menarik nafas dalam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya sembari memejam erat kedua kelopaknya yang terasa berat. Perlahan bibirnya terbuka, mengingat kembali wajah sendu Hyuji yang ia lihat beberapa saat yang lalu. “Apa yang akan aku lakukan jika ayahnya memaksa Hyuji untuk kembali kerumahnya yang jelas tidak ia harapkan!”
John mengusap kasar wajahnya, mencari-cari cara agar semuanya tetap menjadi rahasia. Agar keluarga Hyuji tak tau jika Hyuji kembali ke Busan.
Lalu, pada detik lain dimana otaknya sedang berfikir keras, ponsel yang ia letakkan disamping tuas gigi transmisi mobil itu berdenyar. Nama Hyuji muncul dan membuyarkan semua yang sedang ia susun didalam kepala. Dan tanpa menunggu lama sampai display itu padam, John menggeser tombol hijau yang melompat-lompat dan membawanya mendekat pada pendengar. Tentu saja raut terkejutnya kali ini timbul dari suara yang mengalun lembut dari seberang. Tak menyangka jika Hyuji akan mengambil keputusan secepat ini, padahal dia sudah mengatakan jika Hyuji tak perlu terburu-buru.
John menelan semua serpihan rasa bahagianya dalam rasa kejut saat Hyuji berkata,
“John, ayo kembali ke Busan!”[]