Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 21



Setelah melewati beberapa terminal diantara gelap yang semakin merengkuh hari, keduanya berjalan disebuah kompleks perumahan yang setau John, itu adalah perumahan elite di tengah kawasan kota.


John memperhatikan ke berbagai arah, begitu kagum dan takjub akan bangunan megah yang berjejer disisi kiri dan kanan jalan.


John mengerucutkan bibir, kemudian mendekatkan diri pada Hyuji dan berbisik pelan. “Noona, kau tinggal dikawasan mewah seperti ini? Apa kau tidak salah alamat?”


Hyuji tau John sedang bergurau. Hyuji menghentikan langkah, memutar malas bola matanya sembari mendengus kesal, membuat John turut berhenti ditengah rasa kejut.


“Iya! Aku cuma pembantu disalah satu rumah-rumah mewah itu!”Jawab Hyuji ketus, sebab entah mengapa John terlihat begitu menawan sekarang.


Sial. Hyuji bahkan tak pernah memikirkan pemuda itu selama ini, tapi kenapa dengan malam ini? Apa dia sedang berada di alam mimpi?


John menarik ujung bibirnya kikuk, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, kemudian kembali mengekori Hyuji yang sudah melangkah terlebih dahulu. “Maaf, Noona! Aku hanya bercanda!” tegasnya, takut Hyuji salah sangka.


“Aku tau...”


John berlari kecil dan berhenti disamping Hyuji, menendang kecil bahu sigadis dengan bahunya. “Kenalkan aku pada penjaga pintu gerbangnya!”


Mengernyit dahi, Hyuji tak paham maksud ucapan aneh yang dikatakan John.


“Kenapa? Apa maksudmu?”


“Agar dia mau membuka gerbangnya untukku saat aku datang untuk bertemu dengan Noona lagi!”


Tawa Hyuji meledak. Ia bahkan menyempatkan diri untuk berhenti, kemudian berjongkok agar tawanya tak semakin meledak-ledak, sebab perutnya sudah kram dan itu sangat menyakitkan.


“Hei! Kau tidak perlu melakukan itu. Cukup hubungi aku saja!”


“E-eumm!” John menggeleng, menegakkan tubuh Hyuji dengan meraih kedua bahunya. “Tidak! Aku yang akan datang menghampiri dan menemui noona, bukan sebaiknya!”


Hyuji tersentak. Kalau dipikir-pikir, John adalah laki-laki lain yang mengetahui tempat tinggalnya, selain Jimmy. Dan ia harap ini bukanlah keputusan yang buruk.


Kini, keduanya sudah berdiri didepan salah satu gerbang bercat coklat tua. Hyuji berhenti sejenak untuk sekedar memastikan pada John untuk tidak melakukan hal-hal konyol.


“Tolong ingat ucapanku, John! Jangan pernah datang kesini tanpa menghubungi aku terlebih dahulu!”


“Iya, sayang!” jawabnya tanpa beban sembari mengusuk lembut pucuk surai Hyuji yang seketika membuat pribadi bersurai sebahu itu terkejut bukan main.


“Apa?”


“Tidak! Masuklah, sudah malam!”


Wajah Hyuji memerah bak kepiting rebus setelah mendengar kata yang diucapkan John.


“Aku pulang dulu, Noona!”


Hyuji tersenyum kikuk, mengerjap canggung sembari mengangguk pelan. “Eoh! Hati-hati dijalan! Dan hubungi aku jika kau sudah sampai dirumahmu!” ucapnya, yang tentu saja membuat jantung si pria berdebar tanpa jeda. Hyuji hanya ingin John tidak tersesat, atau pergi ketempat yang tidak semestinya.


“Baik! Sampai jumpa besok, Hyuji noona!”


***


Pintu tertutup sempurna, dua sosok sudah menunggunya diatas sofa mewah ruang tamu. Mama dan Papa.


Hyuji membungkuk sejenak memberi salam hormat. Dia bahkan meremat tali sling bag nya untuk menyalurkan rasa takut yang sedari tadi sudah menguasai perasaanya.


“Darimana saja?”


Suara lembut sang ibu mengudara, akan tetapi Hyuji merasa nada bicara seperti itulah yang justru sangat membuatnya tidak nyaman.


“A-aku menginap dirumah teman!”


“Bukankah kau bisa menelepon jika tidak pulang?”


“Maaf, Mam! Tidak akan ku ulangi.”


Ya, mungkin hanya itu yang bisa Hyuji katakan sebagai jawaban darinya. Wanita yang kerap dan selalu ia panggil Mama itu tersenyum menyeringai, kemudian melemparkan tatapan yang begitu mengerikan. Seolah mampu membuat nyawanya tercabut begitu saja.


“Hanya itu?!”


Hanya itu? Lalu apa lagi? Batin Hyuji tak mengerti maksud ucapan mamanya.


“Apa yang kau lakukan semalaman dirumah seorang pria?”


“Apa maksud mama?”


“Kau pikir aku tidak tau?!”


Sial. Mungkin ini adalah hari dimana Hyuji merasa akan kehilangan kepercayaan dari sang ayah, dan berakhir mengenaskan karena ayahnya turut menjadi bagian yang membencinya. Hyuji menoleh pada sang ayah, memperhatikan dengan lamat manik sang ayah.


“Mam, dia temanku!” jawab Hyuji dengan kerlip mata yang begitu gusar diantara kepalanya yang merotasi pandang kepada sosok ibunya. “Ibunya dan aku sudah kenal cukup dekat!” Lanjutnya mencoba mengatakan pembelaan.


“Ch! Kau pikir mama percaya begitu saja?”


Dunianya seolah dijungkir balik, dan runtuh kala Hyuji mendengar suara ayahnya yang turut andil dalam konfersasi kali ini.


Sekali lagi Hyuji bertatap pandang dengan sang ayah, berharap sang ayah akan tetap mempercayai apapun yang ia katakan.


“Pa, aku benar-benar hanya—”


“Jauhi pemuda itu!”


Ah, terjadi bukan? batin Hyuji merutuki diri sendiri.


Sang ayah menginterupsi. Pupil Hyuji bergetar, sembari memberikan sebuah gelengan kecil sebab tak percaya jika hal yang sangat ia takuti benar-benar terjadi.


Rentetan kata di tenggorokannya mendadak sirna. Tak bisa berkata apapun selain menatap ubin yang terlihat dingin, bahkan Hyuji membayangkan jika kakinya akan membeku dan terpatri disana. Akan tetapi, untuk pertama kalinya juga Hyuji berkata, “Tidak!”


Sontak sang ibu menatap tajam, tak menduga jika Hyuji akan lebih memilih 'tidak' sebagai jawaban. Satu langkah maju dari sang ibu membuat Hyuji kembali membuka lebar kedua matanya. Akan tetapi, langkah tersebut terhenti lantaran Hyuji melihat lengan sang ayah menjadi penghalang.


“Kenapa? Apa kau mencintainya?” tanya sang ayah, membuat otak Hyuji merangkai begitu bayak kata untuk menjawab. Atau, membual lebih baik??


Hyuji menatap lamat sang ayah, bahkan pupil matanya bergetar. “Apa Papa akan membiarkan aku bersamanya jika aku menjawab 'iya'??”


Pertanyaan Hyuji membuat sosok sang ayah terperangah. Lengan yang semula tergantung diudara itu perlahan jatuh. Hyuji bahkan mulai menerka jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh sang ayah kepadanya.


“Tidak! Papa akan tetap melarangmu bersamanya?!”


“Kenapa? ”


“SONG HYUJI!!” teriak sang mama, menggelegar memenuhi ruangan. “GADIS PEMBANGKANG!”


Hyuji terkekeh dengan bahu naik-turun. Miris sekali bukan? Padahal selama ini Hyuji tidak pernah berbuat sedikitpun hal yang mengecewakan atau bahkan mempermalukan mereka. Tapi untuk saat ini, Hyuji tidak mau menjadi gadis manis yang penurut seperti biasanya. Dia lelah.


Hyuji mengangkat wajah dengan pipi yang sudah basah. Memandang sayu pada fitur sang ibu yang mengeras karena diselimuti emosi.


“Aku—” Hyuji menjeda, lalu mengusap kasar airmatanya yang jatuh kian deras. “Aku tidak akan pernah terlihat benar sedikitpun dimata Mama! Jadi, sampai kapan mama akan membuat aku menahan semuanya?”


Ayah Hyuji menoleh kepada sang istri, tak mengerti maksud ucapan Hyuji.


“Sampai aku mengangkat kaki dari sini?” tantang Hyuji, menarik kembali perhatian sang ayah untuk kembali pada presensinya. “Sampai aku berubah tidak waras, atau... Sampai aku pergi dari dunia ini?”[]


BTW, PLEASE...


YANG MASIH MAU BACA SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK.