Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 19



“Dia mantan kekasihku!”


Tukas John. Sekilas menatap Hyuji, kemudian mengedarkan pandangan pada langit terbuka yang sedikit mendung, namun masih dipenuhi kerlip bintang yang memperindah malam.


Entah mengapa, Hyuji terperangkap di rumah John sebab ibu John tak mengizinkannya untuk pulang. Perihal izin dari rumahnya, Hyuji bahkan tak peduli, toh pasti tak akan ada yang peduli dimana dia berada saat ini.


Mengangguk, Hyuji sekilas menatap paras rupawan nan tegas milik pemuda yang duduk disampingnya.


“Jadi kalian pernah dekat?” tanya Hyuji ingin memperjelas.


“Eung! Tapi itu sudah lama sekali!”


“SMA?”


Tak menjawab, John tersenyum sembari menundukkan kepala dan melirik sekilas kepada Hyuji.


“Apa noona seorang cenayang?”


“Apa aku terlihat seperti seorang cenayang?”


Keduanya saling melempar senyum hangat. Kali ini John menekuk kedua kaki , kemudian mengunci lutut dengan kedua lengan berbalut kaos berwarna tosca dengan long sleeve yang sedang ia kenakan.


“Ah, aku jadi ingat pertama kali bertemu denganmu, noona!”


Hyuji menoleh tajam, tersenyum kaku diselingi sebuah tatapan yang terlihat nyaris tak terisi apapun. “Ah, ternyata kau masih mengingatnya?”


Bohong jika Hyuji melupakan pertemuannya dengan John di malam kelam waktu itu. Mendadak senyuman dibibir semerah cherry itu memudar, Hyuji menyatukan kedua telapak tangan diatas paha dan mencoba menata ekspresi didepan John yang memang sudah berhasil menggagalkan keputusan konyolnya malam itu. “Aku bahkan tak mengingatnya sama sekali! Lebih tepatnya, aku tidak ingin mengingatnya lagi! Tapi, terima kasih sudah menahanku malam itu!” bohongnya, yang tentu saja bisa dilihat jelas oleh siapapun, termasuk John.


John menoleh, memperhatikan paras cantik gadis yang berusia dua tahun lebih banyak darinya. Dan bagi Hyuji, sumpah. Kedua mata bulat John memang sangat indah, seolah seluruh isi galaksi ada didalam sana.


“Tidak!”


Jawaban yang bahkan tidak Hyuji duga akan didengarnya. Dia bahkan berspekulasi jika John akan bersikap santai, kemudian menyuguhkan kata 'Ya' sembari tersenyum manis kepadanya, hanya itu yang terbesit dipikiran Hyuji. Dan pada kenyataannya, semuanya tidak seperti dugaan didalam isi kepala.


“—aku tidak ingin melihat Noona seperti itu lagi!” ucapnya penuh percaya diri. “Karena aku akan berusaha, bagaimanapun caranya, agar noona—” John menjeda saat Hyuji turut menautkan manik mereka berdua, jantungnya mendadak berdegup kencang, dan nafasnya seolah tersengal seperti kekurangan oksigen. “—agar noona bahagia!”


Demi apapun yang sedang bersinar dilangit, Selama hidup Hyuji, baru John yang mengatakan hal demikian padanya. Hati yang semula membeku bak balok es yang enggan untuk mencair, tiba-tiba berubah menghangat—luluh, kedua manik Indah milik si gadis mendadak memanas hingga berembun. Apalagi saat John mengulurkan telapak untuk menyeka dua titik liquid yang sudah lolos melewati pelupuk dan membasahi pipinya. Hyuji memejam, hampir terisak saat John melanjutkan kalimat yang begitu menyentuh. “Jangan menangis, noona! Aku tidak ingin melihat airmata di pipimu!”


Bagaimanapun juga, Hyuji hanyalah seorang wanita yang selama ini menyembunyikan sisi lemahnya hanya unyuk terlihat kuat. Tapi kali ini, didepan John, untuk pertama kalinya dia menunjukkan seorang Hyuji yang sebenarnya.


“Aku hanya ingin melihatmu tersenyum, karena kau sangat cantik dengan senyumanmu!”


Hyuji terkekeh tipis disela tangis yang semakin terurai. “Apakah ini adalah dirimu yang sebenarnya? Ternyata kau memang pandai menggoda, John?!” tutur Hyuji dengan bibir bergetar sembari mengusap sisi lain pipinya yang turut basah karena airmata.


John menggeleng dengan tawa menggemaskan untuk Hyuji. “Kau akan jatuh Cinta padaku, jika tau diriku yang sesungguhnya!”


Tawa keduanya mengudara sejenak, hingga hening kembali menyelimuti dan suara madu John kembali terdengar mengudara. “Apa kau mau mengenalku lebih jauh, Hyuji-nim??”


***


Suara desir angin pagi dan cuitan burung terdengar begitu menyenangkan untuk Hyuji yang baru saja membuka kelopak matanya. Menggeliat kecil menyamankan diri, Hyuji bahkan mengulas senyum konyol dipagi hari saat mengingat kejadian semalam.


Hyuji mengerjap beberapa kali, ingin sekali bermalas-malasan dan menghabiskan waktu lebih lama dirumah yang terasa begitu nyaman seperti ini. Dan tentu saja Hyuji malas sekali beraktifitas, atau lebih tepatnya dia ingin berlibur. Entah kepantai atau sekedar shopping, hingga pada akhirnya dia bangkit dan meraih ponsel yang semalaman tergeletak dilantai samping matras tempatnya tidur.


John.


Nama yang memang hendak ia hubungi.


Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu diketuk sebanyak tiga kali. Hyuji tercekat dan ponselnya terlempar ke udara.


“Noona, kau sudah bangun?”


Oh, Ya Tuhan...


Suara madu yang begitu ia kenali, samar-samar terdengar dari balik pintu yang masih terkunci. Hyuji meraup udara dengan tergesa. “Eoh...” jawabnya singkat.


“Ah, baiklah kalau begitu!”


Dengan terburu-buru Hyuji bangkit. Mumpung John belum pergi—pikirnya.


Pintu kamar terayun sempurna,


“Tung—”


Kalimat Hyuji terhenti seketika sebab matanya menangkap sosok John yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan, dengan rambut setengah basah dan otot-otot maskulin yang terlihat jelas.


Seketika, Hyuji menutup mata karena terkejut yang membuat John turut membolakan kedua mata, tak menduga jika Hyuji akan keluar sebelum dia meninggalkan tempat tersebut.


“K-kau, pergi dan pakailah bajumu dulu!”


“O-oh! Baiklah!”


Keduanya mendadak berkata dengan nada canggung, bahkan jantung Hyuji sedang berdebar tidak karuan.


“Kita tutup saja hari ini!”


John yang sudah hampir melangkah kembali terhenti, berbalik dan mendapati Hyuji masih menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


“Kenapa?” tanya John penasaran dan juga ingin tau alasan Hyuji yang tiba-tiba meminta untuk tidak membuka toko bunga hari ini.


“Aku akan bersiap-siap! Ajak aku ke pantai hari ini!”


John mengerutkan dahi dan juga memanyunkan bibir.


“Pantai?”


“Sudahlah! Yang jelas kita libur hari ini, dan ajak aku ke pantai!”


John tersenyum jenaka hingga tercetak kerutan dikedua sisi mata rusanya yang indah, berjalan perlahan mendekati Hyuji kemudian mengulurkan lengan mencapai pucuk kepala Hyuji yang masih enggan membuka kedua tangan yang bertengger nyaman diatas kedua kelopak matanya.


“Baiklah! Apapun keinginan Noona!” Ucap John lembut, kemudian mengusuk lembut surai sigadis dan berkata lanjut, “Aku akan menurutinya! Ayo ke pantai dan menenangkan diri disana!”[]