
...WARNING!!...
...Mature konten!...
...Be A Wise reader!...
...•...
...•...
...•...
Sebuah masa lalu memanglah terkadang seperti boomerang yang dilempar keudara. Mereka tidak akan pergi meninggalkan, tetapi akan selalu kembali berputar padamu. Entah akan tertangkap dengan selamat, atau bahkan akan melukai.
John memandangi pantulan dirinya yang terlihat samar pada bentangan kaca transparan cafe. Dia bahkan merutuki keputusannya menyanggupi permintaan Clarisa untuk bertemu dengannya kendati tak tau apa yang akan mereka bicarakan nanti. John mengetuk pelan meja kayu didepannya, mengangguk mengerti sebab satu ide percakapan muncul begitu saja.
Dan pada menit kesepuluh setelah kedatangannya, gadis cantik yang sudah menjadi mantan kekasihnya sejak lebih kurang enam tahun lalu itu datang. Senyuman manis membingkai wajah cantik yang dulu begitu ia kagumi. Dan ya, katakan saja John sangat mencintai gadis itu dulu, sebelum semua kebohongan si gadis terungkap.
“Maaf membuatmu menunggu, John! Jalanan sangat padat malam ini!” sapa Clarisa sambil menarik satu kursi yang tersisa yang letaknya tepat dihadapan John, merapikan anakan rambut yang sedikit berantakan. “Udara mendadak dingin!” lanjutnya, melipat pakaian hangat yang ia kenakan, kemudian meletakkannya pada kursi kosong disamping tempatnya duduk. Setidaknya John tau jika Clarisa memang punya toleransi rendah kepada suhu rendah. Gadis itu akan sakit jika kedinginan.
Akan tetapi, bukannya memberi jawaban, John hanya memandangi Clarisa yang kini sibuk merapikan blazer hitam di tubuhnya. “Apa kau masih menyukai americano? Aku akan memesannya untukmu!” tanya Clarisa, memastikan jika menu minuman favorit John belum dan tidak berubah.
John menatap datar, “Katakan saja tujuanmu mengajak bertemu! Aku harus segera pulang!” timpal John dengan nada rendah sambil melirik jam yang melilit pergelangan tangan hingga membuat Clarisa terdiam beberapa detik.
Baru saja datang, apa John benar-benar akan pergi?
“John, apa tidak bisa kita mengobrol dengan santai sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu!”
“Kalau begitu, cepat katakan!”
Clarisa kehabisan kata-kata. John mungkin memang masih belum bisa memaafkan dirinya yang dulu sudah menghianati kesetiaan dan perasaan John. Tapi kali ini, Clarisa ingin suasananya bersama John tidak canggung.
Jika bukan John, mungkin Clarisa akan segera pergi dan tidak perlu berlama-lama lagi. Akan tetapi dia tidak sedikitpun ingin beranjak dari pemuda dihadapan kedua mata yang nyatanya masih mengundang rindu dan juga sejuta harapan untuk kembali menautkan kedua jemari mereka.
“Baiklah! Tapi pesanlah minuman dulu! Setelah itu, aku akan membiarkanmu pergi!”
Tutur Clarisa kesal, melipat kedua lengan berkulit putih itu didepan dada. Melihat itu, John sedikit menurunkan ego yang tadinya menjulang tinggi.
“Pesankan saja! Kau sudah tau apa yang biasanya kuminum!”
Senyuman secerah matahari pagi terbit dibibir Clarisa. Dia merindukan John yang seperti ini.
“Baiklah! Dua americano akan menemani kita berbicara!”
Clarisa berjalan kemeja kasir dan memesan dua minuman favorit mereka dulu, lalu kembali dengan dua cup americano yang berbeda—satu panas, satu dingin.
“Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan padaku!” ucap John dengan suara rendah dan lembut.
“Sepertinya akan sedikit sensitif, tapi aku ingin kau tetap disini sampai kopi kita habis!”
John mengangguk paham. Clarisa terlalu basa-basi dan berbelit.
“Gadis di florist itu,”
Belum apa-apa, John sudah menautkan tatapan nyalang pada Clarisa saat tau topik pembicaraan mereka. “...adalah Putri teman ayah!”
John tidak bertanya lebih jauh, hanya memperhatikan Clarisa tanpa makna. Sampai pada detik selanjutnya, Clarisa melanjutkan pembicaraan. “Aku tidak yakin kau tau tentang hal ini!”
“Jangan membuang-buang waktu!” pinta John, dengan wajah dibuat sedatar mungkin.
“Eoh, baiklah!”
John membuang muka, dia bahkan tak melihat Clarisa yang saat ini sedang menatapnya hangat. “Aku pernah melihatnya di rumah rehabilitasi!”
John bungkam, secepat kilat memutar wajah untuk melihat dan kini menatap tak suka pada Clarisa yang tiba-tiba saja membuka sebuah aib yang jelas tidak berdasar. Atau, John memang tak mengetahui ini karena ia terlalu sibuk memikirkan perasaannya kepada Hyuji?
John mengerjap, maniknya bersirobok dengan Clarisa yang sedang mencari-cari ekspresi John setelah mendengar hal itu.
“Psikiater!!” sahut Clarisa cepat.
Bagai dihantam gada, John merasakan nyeri begitu hebat. Mungkin, selama ini dia hanya sibuk untuk mencari cara agar Hyuji tertarik dan mebuka hati untuknya. Namun disisi lain, dia bahkan tak tau sisi gelap yang dilalui Hyuji meskipun dia merasa Hyuji sudah mulai menerima kehadirannya.
"Dia—”
Ucapan Clarisa terhenti begitu saja saat John tiba-tiba berdiri dan hendak pergi dengan wajah yang terlihat bersungut, namun langkahnya terpaku saat Clarisa melanjutkan ucapannya. “Kami sama John!”
***
Ada sepercik kebehagiaan dalam raut Hyuji setelah bersama John seharian di toko bunganya tadi. Hyuji berfikir jika pemuda itu benar-benar vitamin untuknya. Bagaimana tidak, hatinya yang terasa layu, kini kembali merekah seperti Mawar yang baru saja bermekaran.
Derap langkahnya terasa ringan meskipun hatinya sama sekali tidak ingin kembali menapak diatas unit rumah mewah milik orang tuanya. Dan satu hal lain yang membuatnya tak ingin berada disana, presensi sang Mama yang sudah berdiri diambang pintu sembari menatap nyalang dan melipat kedua tangannya didepan dada.
Ah, tidak!! Tatapannya lebih terlihat dingin, ingin menghabisi seseorang.
Hyuji meredam gemuruh ketakutan dalam dadanya. Melanjutkan langkah setapak demi setapak untuk segera sampai di tempat tujuan utamanya, kamar pribadi.
Mencoba tak acuh, Hyuji berniat melewati sang ibu begitu saja. Akan tetapi terhenti kala lengan atasnya dihentikan paksa, ditarik kasar agar kembali berdiri dihadapan sang Mama.
Lalu, tanpa diduga satu tamparan melayang tanpa bisa ia hindari.
“Mam...” rintihnya, sambil mengusap pipinya yang memanas dan ngilu sebab sakit.
“SIAL!!”
Ah, benar! Bahkan Hyuji sudah terbiasa dengan umpatan-umpatan yang ditujukan padanya seperti itu. Hyuji hanya menatap datar sebab tak tau alasan mengapa Mamanya itu tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan cukup keras diwajahnya. Tidak menangis ataupun hanya sekedar berkaca-kaca, Hyuji lantas menurunkan telapak dan membiarkan sang Mama menatapnya dengan tatapan begitu menusuk.
“Semua gara-gara dirimu!!” pekik sang Mama tepat didepan wajah Hyuji. Ia tak tau mengapa mama nya itu terlihat putus asa kali ini. “Ayo ikut aku!!”
Tanpa memberi jeda untuk memberikan satu kalimat jawaban, HyeJin menarik Hyuji untuk masuk kedalam rumah, lalu melempar tubuh kurus Hyuji hingga terpelanting tepat didepan foto keluarga yang terpampang di tembok ruang tamu.
Hyuji ingin sekali bertanya mengapa Mamanya murka, tapi ia urungkan saat telinganya kembali mendengar suara tinggi sang Mama.
“Kau tau mengapa aku sangat sangat membencimu, huh?!”
Tak lantas menjawab, Hyuji hanya berusaha menegakkan punggung yang sebelumnya sudah terasa seperti hampir patah.
“Lihat foto keluarga itu!!” titah HyeJin yang tentu saja tak bisa disangkal sedikitpun oleh Hyuji. Dengan gerakan perlahan, Hyuji memutar kepala demi mendapati foto keluarga yang terlihat sangat harmonis itu.
“Kau tidak tau bukan, jika seharusnya ada satu lagi anggota keluarga yang turut berada diantara kita!” lanjut HyeJin dengan nada dingin, nyaris seperti sebuah bisikan, saja. “Kau tidak tau seberapa terluka dan hancurnya diriku setelah kau lahir kedunia?!”
Tidak. Aku tidak mau mendengarnya. Aku mohon jangan katakan apapun.
Berbeda dengan harapan yang bergemuruh dalam hatinya, semuanya berbanding terbalik. Mamanya tersenyum getir, dan yang semakin membuat Hyuji terkejut adalah air mata yang mengalir begitu saja dari kelopak mata ibunya.
Mama menangis? Kenapa?
“Kau tau, papamu pergi dariku! Mendamba wanita lain hingga memiliki anak!” ucanya sendu, diselingi suara isak yang pilu. “Dan semua itu gara-gara kamu!”
Hyuji tertunduk dalam. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri saat ini.
“Dan lihat,” HyeJin melangkah mendekat, meraih satu lengan Hyuji dan menariknya bangkit. “Sekarang dia bahkan berani datang kesini!”
Siapa?
Hyuji tak mengerti apapun maksud ucapan Mamanya yang jelas-jelas sedang merasa ketakutan. “Itu juga karena dirimu, anak si*lan!!”
Tubuh Hyuji tersentak kala mendengar teriakan sang mama. Dia beringsut, seluruh poros kulitnya meremang dan semua bayangan ketakutan kembali menyergah seluruh pikirannya. Kelam kembali menyelubungi Hyuji.
“Aku tidak akan membiarkanmu kali ini!”
Lantas HyeJin menjambak segenggam surai Hyuji dan ia tarik keras-keras kebelakang hingga sang empu meringis kesakitan.
“Jika sampai terjadi apa-apa pada keluarga ini lagi, aku tidak akan segan menyakitimu lebih dari apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini!”[]