Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 13



“Ahssss...”


Yang jelas ini bukan pertama kalinya Hyuji terluka. Akan tetapi, kali ini luka itu letaknya ditempat yang siapa saja bisa melihatnya dengan jelas.


Hyuji duduk ditepian ranjang, menatap bayangan yang terpantul di cermin meja rias yang berada tak jauh dari tempatnya bersimpuh. Meraba luka yang masih terlihat berdarah, Hyuji kembali terngiang akan ucapan sang ibu.


Karena kau tidak pantas mendapat perhatian seperti mereka.


“Ah jadi aku memang tidak pantas ya?” gumamnya, sembari tersenyum pilu.


Karena kau bukan anakku! Masih beruntung aku membiarkan dirimu menyandang nama keluarga Song dibelakang namamu!


Sungguh, hatinya bagai dicabik paksa untuk keluar dari dalam tubuhnya. Hyuji tergugu, meringkuk seraya membiarkan cairan bening itu mengalir deras melewati setiap jengkal fitur wajahnya yang Ayu.


“Lalu—siapa sebenarnya orang tuaku?”


-


Keesokan paginya, Hyuji sudah menelepon ke toko dan berpesan singkat kepada John jika akan ada beberapa pengiriman bunga antara siang hingga sore hari. Dia bilang jika dia tidak bisa datang ke toko untuk beberapa hari karena sakit. Dan John merasa semakin bersalah sebab Hyuji terlihat sedang menjauhinya.


Seorang pembeli datang.


“Oppa kemarin tidak datang ketoko ya?” tanya gadis berseragam SMA itu kepada John.


“Ah, iya! Aku mengambil cuti kemarin!”


Gadis itu terlihat malu-malu, wajahnya memerah saat menatap John yang sedang sibuk berkutat dimeja kasir dan membuat bill untuknya.


“Oppa, bisakah—eumm...aku meminta nomor ponselmu?”


John mengangkat pandangan, tersenyum lembut kepada sigadis.


“Untuk?” tanyanya basa-basi.


“A-aku ingin mengenal Oppa lebih jauh!”


John menyodorkan bill dan sekuntum bunga Mawar untuk sigadis, melirik name tag yang ada di rompi seragam berwarna merah bata yang sedang digunakan si gadis.


“SooYoung-a... aku rasa, aku terlalu tua untukmu!”


Gadis itu menggeleng.


“Dan aku yakin, kau bisa mendapatkan pemuda yang lebih baik dariku!” lanjut John dengan nada lembut.


Hyuji berbalik, mengeluarkan kepalanya dari balik selimut saat mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali.


“Nona, bangun dan makanlah sebentar! Saya membawa bubur untuk anda!”


Suara sayup yang menenangkan yang begitu disukai Hyuji. Bibi Park memanggilnya.


Hyuji menyibak selimut, bergerak perlahan menahan ngilu pada wajahnya yang kini terlihat membengkak dan sedikit membiru di pipi kirinya, kemudian berjalan menuju bilah pintu untuk mempersilahkan wanita paruh baya itu memasuki kamarnya.


“Ya Tuhan, Nona...” ucap bibi Park hampir memekik, kemudian dipaksa keadaan hingga bibirnya hanya bisa bersuara sedikit berbisik. Maniknya berair melihat keadaan gadis dihadapannya itu hanya memberinya ulasan senyum manis. Kedua telapaknya bergerak menutup mulut tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


“Aku baik-baik saja, bi!” jawab Hyuji sambil menerima nampan berisi bubur dan kuah yang terbuat dari kaldu ayam kesukaannya dari tangan bibi Park.


Bibi Park mengambil kembali nampan dari tangan Hyuji, menarik pergelangan tangan Hyuji, kemudian menutup dan mengunci pintu kamar, meletakkan nampan itu diatas nakas didekat ranjang tidur Hyuji.


Perlahan, penuh kasih, bibi Park meraba wajah bengkak Hyuji. Menggeleng sebab tak menduga jika Hyuji akan terluka hingga terlihat menyakitkan seperti itu. Bibi Park menangis, menunduk tanpa melepas usapan diwajah Hyuji, membuat Hyuji meraih telapak bibi Park dan mengusap punggung tangan yang sedikit berkerut itu.


“Kenapa bibi menangis? Aku baik-baik saja kok!”


“Maafkan bibi Non, ”


Hyuji menggeleng, “Untuk apa bibi meminta maaf! Bibi tidak melakukan kesalahan apapun!”


Dan disaat itu pula, Hyuji tak mampu lagi menahan semuanya seorang diri. Semua ucapan yang ia dengar semalam, rasa sakit yang menyerang setiap inci wajah, juga beberapa bagian tubuhnya yang terasa linu membuat airmatanya jatuh begitu saja.


Bibi Park mendekap tubuh ringkih itu erat, membiarkan gadis itu menumpahkan semua air mata didalam pelukannya.


“Apa aku salah jika menginginkan sebuah kasih sayang?” tanya Hyuji pilu, yang mendapat gelengn dari sang bibi. “Aku ingin hidup seperti kedua saudaraku yang lain, apa aku salah?”


Lagi-lagi bibi Park menggeleng, hatinya turut berdenyut sakit saat mendengar suara parau dari bibir bengkak Hyuji. “Anda tidak salah sama sekali nona, anda juga berhak bahagia,”


Hyuji mengangkat kedua lengannya meraih pinggang bibi Park untuk ia rengkuh, merasakan buaian kasih seseorang yang ia inginkan, yakni seorang ibu.


“Apa—” suara Hyuji tercekat, dia bahkan sudah kehilangan cara untuk menarik hati ibu dan kedua saudarinya, hingga sesuatu yang bahkan pernah akan ia lakukan kembali terbesit. “—aku harus pergi dari dunia ini terlabih dahulu agar aku bisa tau seberapa benci atau sayang mereka kapadaku?”


“Tidak, anda adalah orang baik yang tidak pernah mereka tau! Masih banyak orang yang menyeyangi anda, jadi anda harus bertahan Nona, jangan pernah berfikiran seperti itu!”


Hyuji mengeratkan pelukan, bahkan dirinya sendiri tak pernah menganggap jika ia adalah orang baik. Rasa optimisnya sudah hilang sejak lama, dan sialnya, Hyuji tak mampu lagi sekedar mencari atau bahkan menemukan dimana rasa itu. Maka, menyerah adalah hal yang paling benar—menurutnya.


"Aku lelah bi, benar-benar lelah!”[]