Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 36



“Ya Tuhan...”


Pekik John, sebab apa yang dilihatnya kali ini benar-benar membuatnya terkejut.


“Oh Astaga!” desah John menyusul dengan nada frustasi sembari mengusak kasar fitur wajahnya. Dia tidak tau jika dibawah bebatuan itu masih ada sekitar setengah meter lagi bebatuan lain yang menjorok, dan ukuran nya lebih rendah.


Seorang gadis mendongak kearahnya, dengan wajah tak kalah terkejut dan lugu, sembari menampa seekor siput berukuran lumayan besar ditelapaknya.


“Kenapa kau melompat seperti itu?” cerca John, wajahnya begitu khawatir.


Gadis itu tersenyum kearah kaki John menapak. “Apa paman terkejut, atau mengira aku melompat ke laut?” tanya si gadis dengan lugunya.


“Tentu saja! Kau membuat ku takut!” kesal John, sedikit meninggikan nada suara. “Dan satu lagi, jangan panggil aku paman! Aku bukan pamanmu!” tutur John menginterupsi. Dia tidak suka dengan panggilan baru saja ia dapatkan dari gadis dihadapannya.


John memutar langkah, berniat pergi setelah memastikan apakah benar itu Hyuji atau bukan. Dan ternyata dugaannya salah, dia hanyalah seorang gadis berpawakan mirip seperti Hyuji. Dan dia menggaris bawahi dengan huruf tebal bahwa gadis tersebut MENYEBALKAN.


“O?!” gumamnya pelan dengan mulut membentuk huruf yang sama dengan ekspresi pengucapan seraya berdiri. “Paman tunggu aku!” teriak si gadis yang teredam debur ombak, kini sudah berdiri dan merangkak naik ketempat yang lebih tinggi, mencoba untuk menahan John agar tidak meninggalkan dirinya. “Paman!”


John tak peduli, dan memang menyebalkan sekali gadis tersebut. John mempercepat langkah, akan tetapi gadis itu sudah berada dibelakangnya dengan nafas terengah.


“Paman, siapa nama paman?!”


Pertanyaan itu sukses membuat langkah John terhenti, dan berbalik untuk menatap gadis yang berjarak hanya beberapa meter darinya.


“Ada apa?” tanya John ketus.


“Paman sangat tampan, jadi aku harus tau nama paman!” jawab gadis tersebut sambil mengulurkan tangan tepat didepan John yang masih tertegun akan keberanian gadis itu.


Harus ya?


Kemudian John hanya tertawa sembari membuang muka kearah bentangan laut disisi timur.


“Ayolah paman, tanganku sudah capek!” rengek si gadis seolah permintaan darinya akan terkabul, lalu menurunkan lengannya sedikit demi sedikit. Namun apa yang ia dapatkan berbanding terbalik dengan angan yang sudah terbayangkan dengan Indah didalam kepala.


“Hei, bocah! Apa kau mau menggoda orang dewasa seperti aku? Ah, menyebalkan!”


Gadis itu memangkas jarak, mengulurkan tangan sekali lagi. “Namaku Elliotte! Paman bisa memanggilku El!”


“Paman, paman! Sudah aku katakan jangan bilang aku paman! Aku bukan pamanmu!” teriak John sedikit keras, dengan rahang mengerat.


El mengerucutkan bibirnya kedepan, menunduk sembari menendang-nendangkan ujung sepatunya pada salah satu batu yang muncul ke permukaan. “Maaf!”


John kembali berjalan meninggalkan gadis itu, lantas melompat melewati pagar pembatas karena tidak mau repot-repot memutar balik menuju jalan utama. Elliotte tersenyum dengan raut yang cukup menggemaskan, lalu menyandarkan kedua lengannya diatas pagar pembatas sembari melihat John yang sudah menarik pengait pintu mobil.


“Paman, aku harap bisa bertemu lagi dengan paman! Kemudian paman mengajakku jalan-jalan kekota!”


Ah~Dasar gadis kecil tak tau malu.


John menghela nafasnya cukup besar, lalu berkacak pinggang melihat kearah Elliotte.


“Siapa namamu tadi?!” tanya John.


“Elliotte!”


“Ah, namamu unik! Tapi asal kau tau saja, Elliotte! Aku tidak tertarik berbincang dengan gadis ingusan sepertimu!”


“Lalu, apakah dari tadi kita sedang membajak sawah?”


Ya Tuhan. Selain menyebalkan, gadis ini juga berbakat menjadi pelawak.


John tergelak tawa, sejenak melupakan masalah rumit yang membelit dilehernya. “Hei El! Kau ini lucu sekali!” ucapnya sambil tertawa yang dibuat-buat lebih keras seolah El bisa membuat lelucon paling lucu sedunia. “Dan kita tidak akan mungkin bertemu lagi! Aku bukan orang sini!”


Elliotte mengerut dahi dengan ekspresi lucu. “Lalu?! Paman dari mana?”


Sumpah, gadis ini sangat menjengkelkan, terlalu banyak bertanya, dan juga sedikit lucu. Ah, tarik kata-kata terakhirnya.


“Aku dari Busan, dan aku kesini karena ada hal penting yang harus ku urus! Bukan untuk berlibur!”


“Lalu nama paman siapa?!” tanya Elliotte tak kenal kata putus asa.


John pikir, pembicaraan ini mungkin akan segera berakhir dan dia bisa pergi dari sini dengan tenang setelah menyebut namanya.


Berbeda dengan John yang terlihat tidak suka, Elliotte malah tersenyum girang dengan manik berbinar dan tubuh yang memantul beberapa kali setelah tau nama John.


“Baiklah! Aku akan memanggilmu oppa!”



Bukan begitu konsep yang ia harapkan. John memijat tengkuknya dengan ujung bibir tertarik keatas, lantas kakinya menginjak pedal rem saat lampu lalu lintas menyala merah. John mengamati jalanan sekitar yang sepi, tidak seperti Busan yang sibuk dan padat. Kemudian bayangan gadis bernama Elliotte itu kembali menyapa dan membuat John kembali tergelak tawa karena sikap menggemaskan dari gadis tersebut.


“Ah, benar-benar!” gumamnya pelan, menggaruk ujung alis tebalnya kemudian kembali melihat kearah lain.


Sesuatu mengejutkannya, lebih tepatnya seseorang yang berada didalam taxi yang berhenti tepat disebelah mobilnya membuat seluruh jiwanya bak disedot lubang hitam pekat yang menakutkan dan juga perasaan yang berkecamuk tak menentu.


Pupil John bergetar saat melihat sosok dibalik syal hangat berwarna coklat yang melilit leher, dan mantel tebal berwarna hitam. Jemarinya serasa tak memiliki tenaga, namun ketika dia hendak membuka kaca mobil, lampu sudah berubah hijau. Taxi tersebut membawa sosok yang membuat John terpaku itu perlahan menjauh. Detik berikutnya, tak mau kehilangan, John segera mengikuti mobil tersebut. Menjaga jarak aman agar pengemudi taxi itu tidak curiga.


Hingga mobil SUV hitam legam yang ia pinjam dari YoonKi itu berhenti tak jauh dari taxi yang menurunkan wanita yang menjadi penumpangnya disebuah gang. John mengamati dengan amat sangat, memicing guna menajamkan pandang, lalu ia sadar jika yang ia lihat saat ini adalah wanita yang selama ini ia cari, Song Hyuji.


Tanpa peduli apapun, John turun dari mobil dan berjalan cepat menghampiri wanita yang kini sudah mengambil langkah pergi memasuki gang.


John sedikit berlari, sebab takut wanita itu akan hilang kembali dan ia akan menyesal.


John meraih satu lengan wanita tersebut, menahannya cukup kuat hingga membuat wanita itu memekik sembari memutar tubuh. Manik mereka bertemu satu sama lain. Dan bukan hanya John yang dibalut rasa kejut, wanita yang ia genggam itu pun tak kalah terperanjat atas ulah John.


Waktu seolah berhenti saat itu juga. John benar-benar menemukan Hyuji.


Manik John mengamati Hyuji dari ujung kepala sampai kaki, dan merengkuh wanita tersebut kedalam pelukan tanpa sepatah kata. Memeluk erat dan menangis diatas bahu ringkih sang wanita. Derai airmata yang sudah tak terbendung menjadi bukti jika John sangat merindukan sosok Hyuji yang sudah menghilang darinya selama dua tahun.


Hyuji terengah, nafasnya begitu berat dan bibirnya bergetar saat menerima pelukan dari John. Dia tak sanggup berkata apapun, apalagi membalas pelukan yang diberikan untuknya.


“Noona, akhirnya aku menemukan dirimu!” suara parau John menyambangi rungu Hyuji. “Aku sangat merindukanmu!”


Hyuji hanya berharap jika John sudah tau semuanya. Dia tak sanggup mengatakan siapa dan apa sebenarnya hubungan mereka. “Noona, aku sangat merindukanmu!”


John mengatakan kerinduan kepada Hyuji untuk kedua kalinya. Akan tetapi, Hyuji menggeliat. Merasa tak nyaman akan semua yang ia rasakan saat ini.


“B-bagaimana kau bisa sampai disini?” tanya Hyuji terbatah, masih dalam pelukan John yang semakin erat.


“Apapun aku lakukan untukmu!”


Tidak. Ini salah.


Hyuji menggeleng, menarik paksa dirinya dari pelukan John dan membuat keduanya terlihat saling menerka dalam sendu.


“John! Tidak seharusnya kita seperti ini! Kita—”


“Aku tau!”


Nyatanya, jawaban dari John masihlah membuat Hyuji terpaku dalam rasa kejut. Apakah dia benar-benar mengetahui kenyataannya?. Hyuji menerka dalam batin, dia bahkan bersiap untuk menerima apapun yang akan dikatakan John jika memang kenangan pahit itu telah terungkap.


“Untuk itu kembalilah!” pinta John sendu, kemudian membawa kembali Hyuji kedalam pelukannya.


Hyuji diam, airmatanya meleleh dan membasahi bahu kekar John yang tak lain adalah adiknya sendiri.


“Mengapa Noona menghilang seperti ini?”


Tak memberikan jawaban, Hyuji hanya meraih pinggang John untuk ia peluk.


“Ayo pulang, kak!”


Hati Hyuji serasa diremat. Semua perasaan yang sudah hampir ia hapus dua tahun silam itu mendadak berubah menjadi haru, Hyuji mencoba menerima.


“Aku tau semuanya terasa menyakitkan! Bahkan setelah aku mulai memiliki perasaan untukmu, kak!”


Hyuji membatu, hanya suara isak tangis tertahan yang keluar dari kerongkongan yang terasa ngilu.


“Aku tau, dan aku akan menerima apapun itu! Perlahan-lahan meskipun menyakitkan!”


Hyuji tak sanggup lagi menahan suara tangisnya. Ia tergugu dengan bahu bergetar hebat dalam pelukan John. Dia bahkan meremat pakaian yang dikenakan John untuk melepaskan rasa sakit dalam hatinya.


“Kembalilah, sebagai kakak ku! Dengan begitu aku akan menyanyangimu, sebagai kakak ku pula!”[]