
Pandangan Hyuji tertuju pada dua orang yang saat ini sedang berada disalah satu sisi rumah Joana. John dan Elliotte terlihat akur, mereka sedang bercocok tanam saat Hyuji dan Joana sedang berbicara berdua.
Langit berubah jingga, dan mungkin akan segera gelap dalam beberapa menit kedepan. Hingga Senyuman Hyuji mengembang sempurna kala John mengusap pucuk kepala Elli dengan ulasan senyum yang selama ini begitu ia sukai. Bohong jika Hyuji begitu saja melupakan John setelah semuanya yang ia lewati bersama pemuda tersebut. Namun kenyataan kembali menamparnya keras-keras hingga dia kembali terbawa pada arus kesadaran. Hari ini berbeda dengan dahulu. Jika dulu dia bisa mengabaikan apapun demi John, kini semuanya tidak mungkin ia lakukan. John adalah adiknya.
Mungkin aku terlalu besar kepala, John pemuda yang mudah bergaul dengan siapapun.
Ketika Hyuji larut dalam pikirannya sendiri, seseorang menepuk pundaknya perlahan, membuat seluruh atensi Hyuji teralihkan pada sosok yang kini berdiri disisinya.
“Elli gadis yang periang!” tuturnya memecah keheningan.
Hyuji tersenyum hangat, merapatkan baju rajut tebal yang ia kenakan sembari kembali mengalih pandang pada John dan Elli yang masih sibuk bercocok tanam di pekarangan kecil belakang rumah milik keluarga .
“Ya, dia anak yang dibesarkan dengan baik oleh seorang nenek tua yang hidup sebatang kara!” jawabnya dengan dada sedikit membusung karena bangga saat kembali mengingat sosok tua yang meraihnya saat terpuruk.
Joana sempat memicingkan mata guna menelisik, ia tak tau jika Elli seorang yatim piatu.
“Kemana orang tuanya?”
Dengan sedikit ragu Hyuji menjawab, “Keduanya tidak mau mengakui Elli, meninggalkannya di depan sebuah gedung tua tak berpenghuni, lalu nenek menemukannya.”
Rasa iba muncul dari ekspresi Joana, dia menatap John yang berada disisi gadis bernama Elliotte itu dengan tatapan kuyu dan hati yang sedikit terasa lega. Ia pikir putranya itu adalah satu-satunya anak yang kurang beruntung, namun nyatanya masih banyak yang lebih tidak beruntung dari sang putra.
“Aku mengira, John kurang beruntung dengan kenyataan yang harus ia pikul seperti sebuah beban. Aku menutup mata, bahkan tidak sudi melihat kenyataan bahwa masih banyak yang lebih tidak beruntung dari dia!” tuturnya lembut, dengan sebuah senyuman kecil yang muncul begitu saja dibibirnya.
Hyuji terpelatuk, dia tau bagaimana sakitnya hati seorang wanita, terlebih saat laki-laki yang dicintainya pergi meninggalkannya begitu saja.
“Ibu adalah wanita hebat!”
Joana tersenyum semakin lebar. Dia meraih Hyuji kedalam pelukan hangatnya di penghujung musim gugur tahun ini. Begitu juga dengan Hyuji, dia membalas pelukan Joana dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang wanita paruh baya itu.
“Kau jauh lebih hebat dariku! Dan kau adalah putriku yang amat sangat berharga. Jadi, bertahanlah dengan kehidupan yang keras dan kejam yang sedang kau jalani. Percayalah, jika Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuan umat-Nya!”
...***...
Tatapan gersang Hyuji begitu sendu. John bahkan ingin sekali merengkuh dan memeluknya agar beban berat yang bergelayut dipundak kakak wanitanya itu menjadi sedikit ringan.
“Noona tinggal disini saja bersama aku dan ibu.”
Hyuji menarik nafas samar, lalu memutar wajah menatap John yang berada disampingnya.
“Elli menjadi tanggung jawabku, dan aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja!” jawab Hyuji tegas, namun tidak mengurangi kelembutan hati dari sosok seorang Song Hyuji.
Langit sepenuhnya gelap, banyak sekali hiasan menyerupai titik-titik kecil yang terang menjadikan malam hari ini terlihat begitu indah.
John mengangguk paham, setidaknya alasan Hyuji memang masuk akal. Dia memiliki hutang budi kepada wanita yang sudah menolongnya dua tahun silam.
”Aku ada satu permintaan padamu, John.”
“Kau tidak perlu khawatir, permintaan tolongku masih dalam konteks wajar!” lanjut Hyuji dengan kelakar yang membuat John menarik kedua ujung bibirnya membentuk tawa.
“Baiklah, katakan!”
Mungkin ini akan menjadi pilihan final bagi Hyuji. Bukan untuk menyudahi, atau memutus benang kekeluargaan, tapi Hyuji ingin semuanya jelas, berakhir tanpa menyakiti pihak manapun.
Sesak, namun dia ingin keputusannya kali ini tepat.
“Tolong bantu aku untuk bertemu dengan papa!”
John terkejut, kedua maniknya membola sempurna.
“Untuk apa? Kakak-kakak Noona pasti akan melarang kalian bertemu!”
”Itulah alasannya aku meminta pertolonganmu!”
John tertunduk, sejenak berfikir tentang apa yang akan ia lakukan untuk permintaan Hyuji kali ini. Lalu John mengangguk samar, tersenyum lembut kepada Hyuji.
”Baiklah,” Manik keduanya kembali bertemu hingga John merasakan telapaknya diremat lembut, “Aku akan menghubungi ayah dan memintanya untuk bertemu dengan Noona!”
“Terima kasih, John! Kau memang terbaik.”
...***...
John beberapa kali memutar ponselnya diatas meja kerjanya. Dua sisi berbeda dalam dirinya sedang berperang untuk memenangkan satu hal yang tak lain adalah menghubungi nomor ayahnya sendiri, Song Minju.
Sebuah janji yang sangat sulit untuk ditepati, John merasa keputusannya meng-iyakan permintaan Hyuji kali ini tidak benar. Beban seolah jatuh begitu saja dikedua pundaknya, dia sama sekali tidak ingin lagi berhubungan dengan pria yang sudah mengecewakan ibunya tersebut, namun permintaan Hyuji lagi-lagi tak dapat ia tolak, seolah sesuatu yang mutlak dan harus di lakukan.
Dan pada nada sambung ke tiga, suara seseorang yang sangat tidak ingin didengar oleh John mengalun antusias. Suaranya sedikit bergetar ketika menyebut nama John.
“Apa kabar.... Nak?”
John terenyuh, dia bahkan terperangah saat mendengar kata terakhir yang diucapkan Minju. Nak, panggilan yang begitu diharapkan John sejak mengenal apa dan siapa itu sosok ayah. Bohong jika hatinya tidak menghangat, John ingin sekali mendengar sebutan itu dilontarkan sang ayah untuknya. Namun hatinya harus berbanding terbalik dengan raganya.
”Tuan Song, putri anda, Song Hyuji, ingin bertemu dengan anda!” sahut John tanpa basa-basi. Dia juga tidak ingin larut dengan perasaannya yang tiba-tiba saja berubah lemah.
“Hyuji? Dimana dia, apa ada bersamamu sekarang?”
“Tidak! Saya akan mengirim alamat dimana kalian bisa bertemu!”
John hanya ingin mempersingkat pembicaraan, dia bahkan hendak mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja jika Song Minju tidak memanggil namanya lagi.
“Nak, maksudku John,” Song Minju menjeda, suaranya parau dengan getaran yang terdengar pilu. “Tolong katakan pada Hyuji, aku tidak sabar ingin bertemu! Aku sangat merindukannya!”[]