Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 23



Tidak ada yang lebih menyebalkan dari pada ditinggal seorang diri dalam keadaan canggung dan malu karena dicampakkan.


Ya, setidaknya itu yang dirasakan Clarisa saat John tak mau menyapanya dan lebih memilih gadis yang beberapa menit lalu bersama mereka.


“Aku sudah bilang padamu, John sudah melupakanmu!” ucap YoonKi sambil melipat tangan didepan dada dengan tatapan khasnya. Dingin.


Clarisa yang semula menatap dua presensi diluar sana bak sebuah drama romansa itu sontak memutar kepala, mendapati Yoonki sudah memaku tatapan kepadanya.


“Tidak apa-apa!” bohongnya diiringi sebuah senyuman kikuk yang bisa langsung ditebak oleh YoonKi.


“Aku tau kau masih mencintai John, tapi kau pasti lebih tau jika John tidak ingin kembali bersamamu!”


“Aku tau,” tutur Clarisa, sengaja menjeda sambil meraih es jeruk di atas meja dan meneguknya perlahan. “...tapi aku ingin memberitahu kak YoonKi sesuatu!”


Dahi YoonKi berkerut cukup dalam. Bibir tipisnya mendadak terkatup rapat saat mendengar suara mendayu Clarisa yang memang sudah ia kenal lama itu. Setau Yoonki, ia mendengar dari teman-teman sekelasnya dulu, jika Clarisa itu menakutkan.


“Apa?!” timpal YoonKi dingin, tak mau berbasa-basi lebih lama.


“Gadis itu, aku tau siapa dia!”


Seolah dipukul dengan sebuah gada besar, Yoonki perlahan melepas lipatan tangan didadanya dan membiarkan jatuh diatas paha. Namun disisi lain, YoonKi menahan rasa penasarannya saat Clarisa kembali berkata. “Aku tau apa hubungan Kak Hyuji dan John!”


Hubungan? Apa maksudnya? Apa yang dia maksud hubungan sepasang kekasih?


Pertanyaan itu memenuhi isi kepala Yoonki begitu saja. Clarisa terlihat lebih menakutkan dari seekor singa yang mengawasi mangsanya.


“Apa maksudmu?”


“Mereka...”


Perhatian YoonKi teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Dia melihat nama John terpampang disana. Menatap sekilas pada Clarisa, Yoonki menarik keatas tombol hijau yang melompat-lompat pada display ponselnya.


“Eumm!”


“Kak, aku mengantar Hyuji Noona pulang!”


“Kau memang gila! Lalu bagaimana denganku?”


John tau betul maksud ucapan Yoonki. “Kakak pulanglah, dan juga...”


Terdiam lebih dari tiga detik, John terasa sedang memilah kata untuk Yoonki. “—dia, maksudku Clarisa, jika kak YoonKi tidak keberatan, antar dia pulang!”


Mendengus kesal, YoonKi tau jika John selalu akan bersikap seperti itu pada sosok Clarisa. Dan berakhir dirinyalah yang menjadi korban untuk mengantar Clarisa pulang.


“Baiklah!”


Panggilan berakhir, dan tatapan mereka kembali bersirobok.


“Dia pasti menyuruhmu untuk mengantarku pulang, iyakan?”


“Kalau sudah tau kenapa bertanya?!” timpal YoonKi dingin, meraih Americano dingin miliknya, kemudian menghabiskan dalam sekali teguk. “Kuantar pulang!”


***


Setelah drama canggung di dalam Cafe dan juga Taxi, Hyuji sudah sampai dirumah. John juga sempat memaksa mampir namun Hyuji melarangnya dengan tegas. Bagaimana tidak, masalah yang ia buat beberapa hari lalu saja belum berakhir. Hyuji tidak mau jika sampai masalah baru datang, dan itu akan melibatkan orang lain. Hyuji tidak mau itu terjadi.


Hyuji terkejut saat pintu kamarnya tidak terkunci. Padahal, seingatnya saat berangkat tadi dia sudah mengunci dan membawanya pergi.


Sang ibu duduk diatas sofa yang mengarah ke arah balkon. Memirsa pepohonan yang tumbuh rimbun di balik pagar pembatas rumah.


“Mam, kenapa bisa berada disini?”


“Aku ibumu! Dan aku bisa kapan saja masuk kesini!”


Oh, baiklah. Hyuji perlu menata ulang barang-barang yang ia sembunyikan termasuk obat penenang yang ia sembunyikan dari...


Tunggu! Dimana obatnya?


Hyuji yakin tadi pagi botol obat itu berada diatas nakas sejak semalam ia mengeluarkannya.


“SIAL!!” Umpatnya pelan sambil berlari menuju nakas. Pagi tadi ia meletakkannya diatas nakas dan tidak menyangka jika sang ibu akan masuk kedalam kamarnya dengan kunci cadangan “SIAL!" Umpatnya sekali lagi.


Hyuji was-was dan takut saat melihat obat itu berada ditangan sang ibu. Jantungnya bertalu, berdegup kencang sebanyak langkah ibunya perlahan mendekat dengan tatapan tajam yang begitu menakutkan.


“Sejak kapan kau mengkonsumsi obat ini?”


Diam. Hyuji mengunci mulutnya rapat-rapat agar tak salah bicara nantinya. Ia memilih diam.


"Jawab aku!!” bentak sang ibu begitu keras, menggelegar memenuhi ruangan itu.


Hyuji yang semula diam, kini terkikik seperti orang kerasukan, lalu mengarahkan pandangannya lurus pada sang ibu. “Sejak kapan Mama peduli padaku huh?!” tantangnya. Ia sudah muak. Benar-benar muak.


“Dasar anak kurang ajar!!”


Satu pukulan keras mendarat dipipi Hyuji. Hatinya mencelos, hingga dengan beraninya dia menyeringai sang ibu yang sejak lama ia takuti.


“Sejak kapan?” ulang Hyuji dengan suara parau. Dia menahan tangisnya mati-matian agar tak kembali ke dalam lembah kesakitan. “Aku sakit, aku menangis, aku pergi kerumah rehabilitasi jiwa dan bahkan aku sekarat pun mama tidak pernah peduli!” tutur Hyuji dengan suara rendah yang pilu. “A~h, aku ingat! Mama punya dua Putri lain yang lebih membanggakan!”


“Cukup! Kau—”


“Aku juga Putri Mama, kenapa membedakan aku dengan mereka eoh?” sahut Hyuji tanpa rasa takut sedikitpun.


“Tapi karena dirimu, papamu pergi untuk wanita lain!” teriak sang ibu dengan nafas memburu dan tatapan penuh kebencian.


Apa?


Hyuji menatap sang ibu penuh tanya. Dia bahkan tidak tau tentang hal itu. Papanya berselingkuh? Karenanya? Apa maksud ibunya itu?


Rahasia yang selama ini dijaga dan ditutup oleh sang ibu pun menguar begitu saja.


“Mam...”


“Cukup! Kau tidak perlu bertanya apapun padaku atau siapapun!” Sang ibu beranjak, melempar botol milik Hyuji asal dengan pipi yang sudah basah. Akan tetapi langkahnya kembali tertahan di ambang pintu, menengok pada sisi kanan bahunya untuk menangkap presensi bayangan Hyuji, lalu melanjutkan. “Termasuk papamu! Jangan pernah bertanya apapun padanya!”


Pintu ditutup sedikit keras oleh sang ibu. Pandangannya kosong, bibirnya bergetar, dan pada detik selanjutnya dia melipat lutut dan dia jadikan tumpuan kepala yang teras memberat saat memikirkan penuturan sang ibu.


Hyuji ingat ketika kecil, bibi sering membaca dongeng padanya. Bibi juga pernah bilang jika ayahnya ingin sekali memiliki seorang putra. Dan Hyuji juga pernah mendengar pertengkaran sang ayah dan ibu sebelum ayahnya pergi mengajaknya berlibur ke pantai Haeundae saat itu. “Itu aku lakukan karena kau sudah tidak bisa memberikan aku seorang putra!”


Ya, dia ingat betul ayahnya berteriak seperti itu didepan wajah sang ibu. Kenangan pahit itu kembali terputar dari dasar memorinya yang paling dalam.


Dan bibi juga pernah bilang padanya, jika setelah melahirkan diaibunya sudah tidak bisa memberikan adik untuk Hyuji.


Setelah pertengkaran itulah Hyuji kerap menerima penyiksaan dari sang ibu. Bahkan dia pernah meregang nyawa saat ibunya mengurung dia didalam kamar mandi ketika musim dingin. Hyuji menutup telinganya saat suara sang ibu yang saat itu berteriak padanya dengan lantang kembali memenuhi rungunya seperti dengung lebah.


Kau memang pembawa sial. Aku tidak akan berhenti menyiksamu karena kau sudah membuatku seperti ini.


Kalimat itu sukses membuat Hyuji terpenjara dalam rasa takut, hingga dirinya beberapa kali melakukan aksi yang tidak pantas dilakukan oleh siapapun—Suicide.


Ah, ini salahnya—pikir Hyuji.


Hyuji merapatkan pelukan pada lututnya, semakin menenggelamkan wajah dan menangis tanpa suara.


“Maafkan aku, Mam...”[]





Satu persatu misteri sudah mulai terbuka ya...


Semoga suka konfliknya. Di part-part selanjutnya akan semakin banyak hal yang selama ini menjadi misteri perlahan terungkap.


Jangan lupa tinggalkan jejak.


See You Next Chapter.


🖤🖤🖤