
Bolehkah Hyuji menyimpulkan jika kasus percintaannya miris? Dia sendiri bahkan tak menduga jika pria yang berada disisinya saat ini adalah adiknya sendiri. Mencintai maupun dicintai dengan perasaan lebih terasa akan menjadi sebuah hal yang percuma.
Perlahan telapak Hyuji meraih pegangan koper dan hendak menurunkannya dari bagasi mobil YoonKi yang dipinjam John untuk mengantar dirinya beserta Elliotte kembali ke Sokcho. Namun pergerakannya terhenti lantaran telapak besar dengan otot yang menyembul pamer itu tiba-tiba saja merebut dari genggaman Hyuji.
Mengangkat pandangan, Hyuji malah mendapat senyuman terlampau manis dari sang adik.
“Biar aku saja yang membawanya.” tuturnya, lalu menarik keluar koper dan menggeretnya melewati halaman penuh bunga milik mendiang nenek.
Hyuji tersenyum saat punggung yang terlihat semakin lebar dan gagah itu perlahan menjauh. Aroma maskulin yang lembut dan tidak menyengat membuat Hyuji seketika menarik senyuman tipis dibibirnya, lalu turut berjalan dibelakang John dengan tas selempang yang bergelayut dipundaknya.
—
Butuh waktu beberapa menit sampai semuanya terlihat rapih. Dan kursi didepan rumah nenek menjadi pelabuhan akhir rasa lelah John setelah mengemudi lebih dari empat jam, dan membatu Hyuji membereskan barang-barang bawaan ke dalam rumah .
“Apa atasanmu tidak akan memarahi dirimu? kau sudah terlalu lama absen!” ucap Hyuji seraya menyodorkan satu gelas tinggi minuman dingin rasa jeruk.
John menyambut gelas tersebut sembari menjawab dengan kekehan kecil. “Mereka tidak akan berani memarahiku. Noona tidak perlu khawatir.”
Hyuji duduk disebelah John, memandangi fitur tegas sang adik yang tidak terlalu berbeda dengan milik ayah mereka, kemudian menjawab. “Baiklah, aku percaya!”
Keduanya memandang bebas kearah halaman yang beberapa sisi ditanami sayur mayur. John menghela nafasnya pelan, menghirup udara segar yang bahkan tidak pernah ia rasakan selama hidup ditengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang semakin melelahkan.
“Papa menitipkan ini untukmu!” Hyuji tiba-tiba memecah keheningan, lalu menyodorkan selembar foto berwarna yang terlihat memudar ke atas meja. “Papa juga meminta maaf sudah menyembunyikan semua selama ini, dan dia berharap bisa bertemu dan mengobrol bersamamu.”
John melirik sekilas lembaran yang disodorkan Hyuji keatas meja didekatnya, lalu menjulurkan tangan untuk meraih foto tersebut.
“Itu foto pertama kita saat di Haeundae. Dan kita tidak saling mengenal saat itu!”
John terenyuh dengan senyuman keduanya yang tidak berbeda dalam bingkai foto tersebut. Begitu nostalgic dan masih saja terasa mendebarkan saat mengingat janji yang pernah mereka simpan bersama dulu.
“Ayah yang bilang itu?” tanya John.
Hyuji hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan entah mengapa John mulai sedikit merasa bersalah jika dirinya selama ini membenci sang ayah.
“John, aku mohon!”
John memutar bola mata pada sosok Hyuji dengan tatapan memohonnya itu, kemudian dia merasakan rengkuhan hangat pada telapak tangannya. Pupil nya bergetar saat Hyuji melanjutkan kalimat yang entah mengapa terasa begitu menyayat di hati John. “Temui Papa, dia hanya ingin bisa berbicara denganmu dihari tuanya. Dia merindukanmu, dan dia juga ingin sekali memelukmu sebagai seorang ayah.”
John memalingkan wajah, mendongak saat liquid bening dari kelopak matanya hampir jatuh.
“Papa ingin sekali saja berbicara dihadapanmu sebagai seorang ayah, sebelum—” Hyuji menjeda, menunduk kerena menyadari jika semua kehidupan akan kembali kepada sang pencipta semesta. “—m-maksudku, setidaknya sekali saja ajak Papa bertemu dan bicara. Sebelum papa, ayah kita, menutup usia!”
...***...
Seutas benang penyesalan terbesit saat John mulai menyusuri jalan menuju perkotaan. Dia mengingat kembali tentang bagaimana Hyuji mengatakan jika sang ayah ingin bertemu, bicara, bahkan ingin memeluknya juga.
John menghela berat saat lampu berubah merah. Menarik tuas rem tangan lalu menyandarkan sejenak dahinya pada kemudi saat tau lampu tersebut akan cukup lama menyala. John merasa frustasi pada pikirannya sendiri. Dia bahkan tak bisa memungkiri bahwa ia sangat ingin bertemu Song Minju, ayahnya.
“Lalu bagaimana dengan perasaan ibu jika tau aku bertemu ayah?”
Pada detik selanjutnya, John mengangkat wajah, menatap kosong pada jalanan padat merayap yang ada didepan matanya.
“Ibu pasti akan terluka jika aku bertemu diam-diam dengan ayah!” gumam John memperingati dirinya sendiri agar tidak mengambil keputusan sepihak. Dia juga perlu memberitahu ibunya untuk hal ini.
“Benar! Ibu harus tau hal ini! Aku tidak ingin menyakiti hati ibu yang sudah berjuang sendirian untukku selama ini! Ya, ibu harus tau!”[]