Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 25.



Aku ada didepan rumahmu!


Setelah membaca pesan itu, John langsung saja menyambar pakaian, melompat dari atas tempat tidurnya tanpa berpikir panjang. Berlari tunggang langgang menuju pintu utama tanpa alas kaki, kemudian berlari diatas tanah basah menuju pagar kayu yang melingkari rumahnya.


“Kenapa Noona berada disini selarut ini?”


Tentu saja pertanyaan itu yang akan didengarnya. Hyuji tau betul John tidak akan menolaknya karena hari sudah larut.


“Masuklah dulu! Akan aku buatkan minuman hangat untukmu!”


Sembari menyelipkan beberapa anakan rambutnya yang sudah teracak karena sapuan angin saat turun dari taxi tadi, Hyuji tersenyum dan melangkah masuk melewati John yang terlihat sudah menepi dengan wajah bingungnya.


“Maaf merepotkanmu malam-malam, tapi aku benar-benar tidak bisa berada dirumah lebih lama!”


John sudah menutup rapat pintu utama dan mempersilahkan Hyuji duduk diatas kursi tua yang bahkan sudah tidak memantul itu dengan tulus.


Tidak lantas memberikan jawaban, John lebih memilih untuk meninggalkan wanita itu sendirian di ruang tamu dan berniat membuatkan minuman hangat yang sudah ia tawarkan tadi.


Akan tetapi, pikirannya terus menerka hal apa yang terjadi pada gadis itu hingga memilih untuk meninggalkan rumahnya di jam yang hampir menunjuk angka satu dini hari. Belum lagi perasaan canggung yang mati-matian berusaha ia tepis setelah melihat wajah yang tidak asing dirumah Hyuji. Pikirannya berkecamuk, dia bahkan tidak sadar sudah melamun berapa lama hingga John merasakan pinggangnya diraih seseorang. Punggungnya terasa hangat dibalik kaos longgar yang ia sambar sekenanya tadi.


“Jangan berbalik!” titah Hyuji saat merasakan sedikit pergerakan dari tubuh John.


“O-eoh...”


John menyesal karena melontarkan kalimat bodoh itu sebagai jawaban, bukannya berbalik dan membalas pelukan lalu bertanya mengapa Hyuji terlihat kacau seperti saat ini.


“Biarkan aku memelukmu sebentar saja!” ucap Hyuji sembari memejam. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan, ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu untuk kedua kalinya. Dan ya, John adalah alasannya tetap bertahan. Pemuda itu seperti secercah harapan yang ia miliki. “Aku membutuhkanmu, John!”


Tubuh John meremang seketika. Kata-kata itu benar-benar membuat sisi lain dalam dirinya memanas, dia bahkan menahan agar dirinya kini benar-benar tidak berbalik untuk menatap Song Hyuji.


“N-noona bisa mengatakan masalah Noona di ruang tamu! Tunggulah sebentar lagi d-disana!” tukasnya gugup, ini adalah pertama kali dirinya seperti benar-benar dibutuhkan. “A-aku akan kesana dengan minuman hangat agar kau sedikit membaik!”


John dapat merasakan kepala Hyuji sedang menggeleng di punggungnya. Suasana semakin canggung. Dan sialnya, John tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap wajah cantik Hyuji. Lantas ia berbalik begitu saja, meskipun Hyuji sempat menahannya.


John tercengang saat mendapati wajah Hyuji yang terlihat begitu kacau. Kemudian meraih perlahan kedua pundak Hyuji dan membungkukkan sedikit badannya, mensejajarkan diri agar dapat merangkum sepenuhnya wajah gadis dalam balutan pakaian hangat selutut itu.


“Katakan saja padaku, eumm! Jangan menyimpannya sendiri! Aku akan mendengarnya!”


Hyuji tak lagi dapat menahan rematan dalam hatinya. Presensi dihadapannya terlihat begitu hangat. Pada detik selanjutnya, Hyuji tergugu. Kedua bahunya bergetar dan lengannya terulur begitu saja untuk membawa John dalam dekapannya. Menangis didada John seperti tak ada hari esok, dan meluapkan semua perasaanya saat ini.


John kehabisan kata-kata saat merasakan tubuh Hyuji bergetar dalam pelukan yang ia berikan sebagai balasan. Dan entah mengapa pula, hari ini terasa seperti hari yang begitu membuatnya ingin mengesat airmata. Begitu pilu dan juga menyakitkan.


Ia mengerti jika Hyuji memang sedang membutuhkannya saat ini. Perlahan namun mampu menarik atensi Hyuji hingga melepaskan pelukan dan beralih mengalungkan tangan pada leher, John meraih kedua lutut Hyuji, membawa tubuh kecil itu kedalam papahan lengan kekarnya.


Masih bersama ekspresi terkejut yang menyentak, Hyuji menatap dengan hidung dan mata yang masih memerah, membiarkan John membawanya ketempat dimana terasa begitu nyaman. Kamar.


Dengan gerakan perlahan seperti meletakkan benda rapuh yang bisa kapan saja pecah, John menurunkan Hyuji dengan sangat hati-hati diatas ranjang tanpa memutus pandangan. Menyandarkan punggung si gadis pada kepala ranjang, kemudian mengesat airmata yang masih saja mengalir bersama senggukan samar di bibirnya.


Terdiam sejenak. Hyuji bahkan dapat merangkum pada manik rusa dihadapannya itu menatap sayu penuh kasih, dan pada detik itu juga Hyuji tak mampu lagi menahan sesak dalam hatinya. Mengepal kuat saat nyeri itu muncul sekali lagi, menikam bak mata pisau tajam tepat pada relung hati. “Mereka membenciku!”


Mereka?


Dahi John berkerut. Dia tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Hyuji saat ini.


“Siapa maksud Noona?”


“Mereka semua!”


Jika laut menjadi tempat yang meneduhkan hati, mungkin tangis Hyuji adalah salah satu yang membuat hati John tergelak dalam angkara. Dia tidak suka melihat gadis dihadapannya ini menitihkan airmata, dan juga satu hal lain yang menjadi hatinya seperti dihancurkan kala mendengar kalimat selanjutnya dari bibir Hyuji.


“Keluargaku!”


Tentu saja John tercengang. Hatinya seperti ditekan kuat hingga sulit bernafas, sesak. Menganggap selama ini semua baik-baik saja, ternyata Hyuji menyimpan rasa sakit ini seorang diri.


“Mama, kakak, bahkan kini Papa juga membenciku! John, katakan aku harus bagaimana agar mereka percaya bahwa aku bukan—”


John menghentikan kalimat diantara isak dari bibir Hyuji, jari telunjuknya menyentuh bibir lembab Hyuji yang sempat digigit gadis tersebut lantaran takut.


“Sudah, sudah!” John kembali meraih Hyuji dan membawa kedalam pelukan dengan gerakan cepat, mencoba memberikan kenyamanan dengan usapan dari pucuk kepala hingga sepanjang surai Hyuji. “Noona orang baik! Dan aku yakin mereka hanya tidak melihat itu darimu!”


Tangis Hyuji semakin pecah mendengar penuturan John, rengkuhan pada pinggang pemuda itu semakin erat. Hyuji ingin John menjadi tempat terakhir ia meletakkan sebuah harapan. Ya, setidaknya itu yang ada dalam benaknya.


“Dia juga ingin kita tidak bertemu lagi! Aku benci diriku sendiri John! Bagaimana ini?”


John hanya diam sambil mengusuk lembut punggung Hyuji. Dan satu kalimat lain yang terlontar dari bibir Hyuji sukses membuat John seketika menegakkan punggung. “Aku lelah, ingin pergi dari dunia ini!”


John menarik diri dari pelukan Hyuji, menjauhkan tubuh wanita itu dengan kedua lengannya. Dia melihat Hyuji merapatkan kedua manik dengan tundukan yang terlihat memilukan. Sungguh pemandangan yang tidak ia sukai. Lalu John menangkup kedua pipi Hyuji, dan memiringkan kepala agar mendapatkan atensi Hyuji sepenuhnya.


“Hei, lihat aku!”


Hyuji menolak. Dia bahkan menggelengkan kepala beberapa kali, tapi John dengan sigap menghentikannya.


“Please, lihat aku! Buka matamu!” pinta John sekali lagi dengan suara rendah, parau.


Hyuji tetap memejam, tak ingin terlihat semakin menyedihkan kala manik mereka nantinya akan bersinggungan. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat Hyuji terbelalak tanpa diduga, membuka mata lebar-lebar, dan menghentikan nafas secara bersamaan saat merasakan bibir John menyapa bibirnya. Hyuji dapat merasakan sapuan hangat nafas John menyapa wajahnya. Dia juga melihat bagaimana kedua manik John terpejam saat ini. John menciumnya.


Ciuman lembut tanpa menuntut. Hingga membuat hati Hyuji menghangat, membawa netranya turut memejam kembali dengan perasaan tenang. Hyuji tidak lagi berusaha menyangkal perasaan untuk pria yang saat ini sedang menautkan bibir padanya. Hyuji tau dia sudah jatuh terlalu jauh didalam sebuah rasa sakit hingga lupa rasanya sebuah makna hidup, namun kali ini dia seperti baru saja terlahir kembali. Dengan sebuah perasaan berbeda. Mungkin inilah alasan dia datang begitu saja kepada John saat hati dan dirinya benar-benar hancur dan nyaris kembali kedalam pribadi yang kelam.


Cinta.


Ya, Benar. Hyuji jatuh Cinta kepada sosok John. Sangat dalam. []