
...“Kamu adalah alasanku memilih untuk tetap hidup.”...
...—Song Hyuji—...
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°...
John mendongak, menatap langit yang ditaburi Kerlip bintang diantara sinar bulan purnama yang indah. Sesekali gumpalan awan menutupi keduanya, namun tak lama berselang, semuanya kembali indah seperti sedia kala, kerlip kecil dan pusat cahaya yang begitu memanjakan mata.
Secangkir teh panas terhidang didepan kaki John yang terlipat dalam dekapan lengan. Ia tersenyum mendapati sang ibu juga membawa setoples keripik kentang pedas kesukaannya. Ia sempat bertanya-tanya, sejak kapan ibunya itu mau membelikan lagi John keripik kentang? Padahal, jika John meminta dengan gamblang, ibunya tidak akan segan menolak ditemani pukulan tak tanggung-tanggung di punggung yang akan menyebabkan kebas esok hari.
“Terima kasih, bu.”
Diam. Ibunya tidak memberi jawaban, lebih memilih untuk duduk disamping John dan menerawang ke arah bebas yang dikekang malam.
“Untuk apa kamu membawa makanan yang rasanya aneh itu? Ibu tidak suka.”
John menoleh cepat, lalu terkekeh hingga bahu kekarnya naik turun.
“Ibu tau berapa harganya?” ungkap John, tidak terima jika makanan mahal itu di katakan aneh. Meskipun pada kenyataannya, rasa yang ada didalam makanan itu sangatlah luar biasa enak.
Sang ibu menatap sengit membuat John bergidik ngeri. The power of emak-emak.
“Ah, okey, okey. Maaf.”
Akan tetapi, John bisa tertawa lega sekarang. Sejak bertemu dengan tuan Song Minju beberapa jam yang lalu, entah mengapa dia merasa beban dipundak, dan juga dendam serta rasa benci dalam dadanya perlahan terangkat dan memudar.
Terdengar suara dengusan pelan yang menguar dari penghidu sang ibu, John turut menghembuskan nafas lalu meluruskan kaki dan memapah tubuhnya sendiri dengan dua tangan dibelakang punggung.
“Ibu tidak peduli berapapun harganya. Ibu hanya tidak suka kamu membawa makanan itu pulang.”
John memutar wajah dan tersenyum ketika mendapati wajah masam dan kesal yang di perlihatkan oleh ibunya. Lantas, dengan gerakan pelan dan lembut, ia meraih telapak tangan berkerut sang ibu dan menggenggamnya erat.
“Ibu membenci ayah?”
Ayah? ibunya terkejut, bahkan terbelalak ketika mendengar sebutan baru untuk laki-laki yang selama ini ia anggap sudah sirna dari muka bumi itu dari bibir sang putra.
“Kamu memanggilnya ayah?”
John mengedikkan bahu sekilas, mengangguk kecil dengan mata terkatup, bibirnya melengkungkan senyuman kecil.
“Aku memang membenci dia, bu. Tapi semua kebencian itu tidak akan mengubah kenyataan jika aku adalah putranya 'kan?”
Sang ibu menggeram, ia bahkan menarik kasar telapak tangannya dari genggaman John dengan seraut angkara di wajah paruh baya yang terlihat semakin hari, semakin menua.
“Jadi, kamu berniat mengubah arah hatimu setelah bertemu dengannya, John? inilah yang ibu takutkan jika kamu bertemu dengan laki-laki itu. Ibu tidak ingin kamu berpaling dan meninggalkan ibu sendiri.”
John mengangguk paham akan ketakutan yang terpancar dari ekspresi sang ibu. Ia tau betul seberapa benci mereka selama ini kepada pria bernama Song Minju itu. Bahkan mereka sempat bersumpah tidak akan lagi berurusan dengan pria keterlaluan yang sudah tidak peduli pada kehidupan sulit mereka berdua selama ini.
John bergerak mendekat, lalu memeluk ibunya dari arah samping, meletakkan kepala tepat dibahu ringkih sang ibu.
“Aku tidak akan kemana-mana, bu. John akan tetap menjadi John anak ibu, dan tidak akan berubah menjadi siapapun.” John menjeda, menunggu respon dari wanita yang sangat dikasihinya itu. Ia hanya mendapat usapan sayang tepat dipipi, membuat John menggeliat untuk semakin merapatkan wajahnya di bahu sang ibu yang terasa nyaman dan hangat sejak dulu.
“Kamu membuat ibu takut, nak. Ibu tidak ingin kamu pergi dari ibu.”
John diam sejenak. Kemudian kembali bersuara.
“Apa ibu tau, mengapa bintang dan bulan itu selalu berdampingan?”
Tidak ada jawaban, sepertinya sang ibu tidak mengerti maksud perumpamaan putranya itu.
“Karena mereka diciptakan memang untuk selalu melengkapi satu sama lain ketika malam. Mereka akan membuat malam yang gelap menjadi lebih indah dan berwarna. Agar manusia memiliki harapan, jika didalam sebuah gelap, akan ada setitik cahaya indah yang menyinari. Sebuah harapan.” lanjut John, berharap sang ibu juga akan luluh.
Entah mengapa, ucapan John seolah menjadi pukulan hebat untuk hati Joana. Dia tau arah pembicaraan putranya itu.
“Tapi, apa kau tau makna sebuah awan?” tanya Joana, mencoba membuat John tetap berada dipihaknya. Ia benar-benar takut John akan meninggalkan dia seorang diri.
“Apa?” tanya John balik, dengan antusias yang nyata.
“Agar bulan dan bintang tau, jika mereka tidak selalu indah dan menyinari malam seperti yang diharapkan semua orang, para manusia. Mereka semua tidak bisa dipersatukan. Mereka punya tujuan berbeda.”
John melepaskan pelukan, menarik diri perlahan mendengar pernyataan sang ibu. Wanita terkasihnya itu masih belum bisa menerima keadaan yang memang selama ini sudah ia lalui dengan susah payah. John paham akan rasa sakit yang timbul dalam hati mereka berdua, sangat paham.
“Itulah letak kesalahan manusia. Mereka selalu menganggap apa yang sudah berlalu, akan berubah menjadi indah dan terlihat baik-baik saja. Padahal, ada sebentuk luka yang tidak bisa berlalu begitu saja. Dan bisa jadi, luka itu membekas sampai mati.”
John menatap lekat manik sang ibu yang terlihat bergetar, sedikit berair, dan kesenduan yang begitu dalam pada mimik wajah setegar karang yang selama ini selalu mencoba tersenyum.
“Angin, mereka tidak tau apapun.” lanjut Joana, kembali membawa tatapan hangatnya menuju sang putra tersayang. “Bulan dan bintang tetap bersinar, tidak pernah redup, tapi dibalik itu semua, mereka terluka, sangat.”
John mengusap pipi Joana yang basah. Ia menangkup satu sisi wajah Joana lalu kembali mengusap lembut dengan telapak besarnya. Ia menyesal membuat Joana sampai menitihkan air mata.
“Maaf, John tidak bermaksud membuat—”
“Tidak. Kamu seharusnya punya hak untuk memilih sejak pertama kali hadir didunia. Tapi ibumu ini lebih memilih egois dan membawamu pergi dari seseorang yang begitu mengharapkan dirimu.”
“Ibu...” rengek John, hampir menangis.
“Minju tidak pernah ingin jika ibu pergi membawamu. Tapi ibu terlalu takut tidak ada siapapun yang bisa menyayangi ibu setelah hari itu.”
Keadaan berubah sendu. John tidak punya maksud sedikitpun untuk membuat ibunya menangis seperti sekarang.
“Ibu menyayangimu, dan tidak ingin melepasmu untuk Minju, ayahmu.”
John kembali membawa tubuh Joana kedalam pelukan. Merasakan kehangatan tubuh ringkih sang ibu yang kini sedang tergugu tangis dalam rangkulannya.
“Maaf, bu.”
“Kamu tidak salah apapun. Ibu yang seharusnya meminta maaf, kepada semua orang karena keegoisan ibu.”
“Dia masih mencintai ibu.”
Tangis Joana tersendat. Ia merasakan hati penuh dendam yang membara itu perlahan padam.
“Ayah masih sangat mencintaimu, bu.”
...***...
Hyuji menerima panggilan di ponselnya dengan sebuah senyuman lebar dibibir. Ia baru saja pulang dari ladang bersama Elliotte untuk memanen sayuran.
“Ada apa, John?”
Beberapa detik tidak ada sahutan diseberang, hingga Hyuji terpaksa harus mengulangi pertanyaannya.
“Ada a—”
“Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan ayah, noona.”
Hyuji kembali menyematkan senyuman manis, meskipun ia tau John tidak dapat melihatnya. Ia hanya bisa bersyukur memiliki John sebagai bagian dari dirinya.
“Tidak. Untuk apa kamu berterima kasih? Bukankah seharusnya memang seperti itu? Ayah dan anak harus sering bertemu.” kelakar Hyuji, mendapat balasan tawa singkat dari seberang.
“Oh ya? meskipun harus merelakan hatiku patah karena tau orang yang pernah sangat aku cintai melebihi kata kagum, adalah kakakku sendiri?”
Hyuji meraih selembar daun perilla dan membuangnya, ada seekor ulat sedang berjalan diatas daun tersebut.
“Terima kasih atas perasaan itu dulu. Tapi hari ini, tidak, bahkan sejak hari dimana kita tau jika kita adalah saudara, aku masih tidak bisa berhenti bersyukur telah bertemu denganmu, John.”
“Oh, benarkah?” tanya John antusias diseberang.
Mungkin, jika takdir berpihak kepada mereka, dan menghadiahi dengan kenyataan bahwa keduanya bukan saudara saat itu, maka dengan senang hati Hyuji menerima perasaan John untuknya. Yang tentu saja, Hyuji juga telah memiliki perasaan lain untuk John, dan berakhir harus ia tepis mati-matian untuk sebuah kenyataan.
Hyuji mengangguk. “Ya. Dan aku tidak pernah berhenti untuk terus mengucap rasa syukur itu, saat tau, jika kamu adalah alasan mengapa aku memilih hidup hingga saat ini.”
Risk Of Life. Hyuji pernah menguatkan hatinya yang rapuh dan patah dengan tiga kata itu. Tiga kata yang muncul ketika John hadir dalam hidup, dan juga hati kecil yang ia miliki.
Hening. John bergeming.
“Terima kasih atas semuanya, John.”[]
...—End—...