
Entah mengapa cuaca tiba-tiba berubah dingin. Rintik hujan juga perlahan membasahi jalanan, aroma petrikor yang menyengat menyambangi hidung. Rasanya, semua sedang berkonspirasi saat John dan Hyuji kembali dipertemukan. Seperti membuka kenangan lama.
“Kenapa dia ada disini?” tanya John, dengan nada sedikit sinis karena kehadiran satu orang tak diundang pada pertemuan pertamanya dengan Hyuji setelah berpisah cukup lama.
“Kenapa?” jawab Hyuji, dengan nada rendah sembari mengalihkan tatapan pada sosok bertubuh ramping yang berdiri disampingnya. “Dia akan ikut aku mengunjungi Busan!”
John berkacak pinggang, mengulum bibirnya sendiri karena merasa kesal jika mengingat sosok disamping Hyuji.
“Hai paman, kita—”
“Sudah aku bilang, jangan panggil aku paman!” sentak John, kesal sekali karena dia mendapat panggilan paman diusianya yang ke 28 tahun. “Apa aku terlihat sangat tua?” lanjutnya, masih bersungut-sungut.
“Tidak!” timpal Elliotte dengan wajah lugu yang sangat menggemaskan dimata Hyuji.
“Lalu mengapa kau memanggilku paman?!”
Demi apapun, John kesal sekali dengan panggilan yang ia rasa belum cocok untuk disandangnya itu.
“Ya, karena usia paman lebih tua dariku! Lalu paman mau dipanggil apa? Oppa? Bukankah kita tidak sedang berkencan?!”
Hyuji menahan tawa, menutup birai bibir yang bahkan hampir saja menyemburkan liurnya karena jawaban Elli yang tidak bisa ia tebak itu. Elliotte itu gadis lugu yang cerdas dan tak pernah kehabisan kata-kata. Jujur saja, Hyuji juga terkadang lelah menanggapi celotehan Elliotte saat dirumah.
John mendesis, dia pikir jawaban itu terlalu gamblang. Lagi pula, dia tidak berminat untuk berkencan dengan gadis ingusan dan bau kencur seperti Elliotte.
“Hei, hei! Sudah El, jangan membuat John marah!” tutur Hyuji, mencoba melerai agar tak terjadi adu jotos yang tidak seimbang setelah percakapan yang semakin memanas.
“Kak Hyu, bukankah aku benar?! Aku tidak sedang berkencan dengan paman ini, mana mungkin dia mau aku memanggilnya Oppa?”
Hyuji tersenyum, mengusap surai hitam legam si gadis dengan lembut, menatapnya penuh kasih sembari berkata. “Iya, kau benar! Ayo, kita sudah terlalu lama membuang waktu disini!”. Hyuji melirik kearah John yang masih terlihat tidak terima, lantas mengusap lengan adiknya itu setelah berhasil meyakinkan Elliotte untuk masuk kedalam mobil SUV mewah yang di kemudikan John. “Mobil baru?” tanya Hyuji tiba-tiba disela senyumnya.
“Bukan, milik kak YoonKi!”
—
Hampir tiga pulih menit roda mobil menggesa jalanan, namun tidak ada percakapan sama sekali antara ketiga orang didalam mobil tersebut. Hanya sesekali terdengar bunyi cetikan lampu sein yang dinyalakan John saat hendak berputar arah, atau mengubah lajur.
“Uwah...”
Tiba-tiba saja suara dengan penuh rasa kagum itu terdengar saat mobil sudah meninggalkan kawasan desa yang lumayan terpencil itu dan memasuki perbatasan dengan kota yang terlihat lebih modern.
“Dasar primitif!”
“John...” tutur Hyuji, menghentikan John yang mungkin saja akan semakin mempertajam kalimat yang akan dia ucapkan untuk mengolok Elliotte.
“Dia menyebalkan!”
Hyuji hanya bisa menggeleng dengan jawaban yang keluar dari bibir John. Lalu berbalik untuk menatap Elliotte yang terlihat begitu antusias dan tidak peduli pada ejekan John.
“Noona mau kemana dulu?”
Pertanyaan itu sukses menarik atensi kedua gadis yang duduk di kursi belakang mobil.
Ah, ya. Hyuji hampir melupakan tujuan utamanya. Meskipun ia berkata jika hanya ingin berkunjung ke Busan, tetapi dia tidak ingin sekalipun mengingkari jika dia adalah seorang anak.
“Antar aku kerumah ayah terlebih dahulu!”
...***...
Bangunan megah yang masih terlihat sama. Dan John akan rela bersumpah demi apapun saat Hyuji lebih memilih meninggalkannya bersama gadis bernama Elliotte itu untuk menemani didalam mobil.
Sesekali John mendesah frustasi, melirik dari kaca spion diatas dashboard mobil, disana dia bisa melihat bagaimana gadis tersebut memasang wajah terperangah bahkan lebih kearah takjub saat melihat bangunan megah rumah keluarga Hyuji.
“Kau terihat seperti tarzan wanita yang baru saja lepas dari hutan!” celetuk John, terdengar menyakitkan untuk Elli, tapi tidak apa-apa karena John itu sudah seperti Raja dihatinya. Semuanya terasa menyenangkan asalkan itu John.
“Ish, kenapa paman menyebutku tarzan! Jelas-jelas aku lebih baik! Rambutku rapi, dan pakaianku pun tidak hanya sebatas menutup dada!”
Oh sial. Itu memang benar, Elliotte terlihat lebih cantik hari ini. Akan tetapi, John tak pernah menyangka jika topik pembicaraan mereka harus sampai pada pembahasan sedetail itu, pribadi John sampai kehabisan kata-kata untuk mencari-cari jawaban.
John hanya bisa mengedikkan bahu, tak mau kalah jika beradu argumen dengan gadis berusia belasan tahun itu. “Tapi kau terihat primitif, mengapa melihat yang begitu saja sampai sebahagia itu!” cerca John sambil menunjuk kediaman keluarga Hyuji dengan dagunya.
Benar-benar, John ingin sekali meremat bibir lincah gadis itu. John menatap tak suka, lalu berbalik demi mempertajam kesalnya. “Sudah aku katakan! Jangan panggil aku paman!”
“Baiklah, sayang!” sahut Elli tanpa beban yang tentu saja membuat John terkejut.
Ingin sekali John berteriak marah saat gadis ingusan itu memanggilnya dengan kata 'sayang', namun John tak bisa berbuat apapun selain mengeratkan rahang, memalingkan wajah sebab sudah berada dipuncak emosi.
“Paman kenapa?” tanya Elli lugu, tak merasa bersalah sedikitpun.
John melirik, mendapati ekspresi lugu Elli John berusaha untuk tidak terpengaruh akan kedipan menggemaskan yang diciptakan sigadis.
“Tidak! Lupakan!“
Elli menjingkatkan pundaknya, tak mengerti mengapa pemuda dihadapannya itu terlihat kesal sekali.
“Paman,”
“Jangan panggil aku paman! Aku bukan pamanmu!”
“Ah, baiklah! Sayang.”
Sudahlah, John menyerah. Biarkan saja gadis itu memanggilnya apa saja, sesuka hatinya.
“Kenapa kak Hyuji pergi meninggalkan rumahnya?”
“Ada hal yang tidak harus diketahui anak kecil sepertimu!”
Kini, giliran Elliotte yang merasa kesal karena John selalu menyebutnya dengan gadis ingusan, atau yang sekarang ini ia dengar, anak kecil. Elli tak menyukai itu.
“Lalu, kenapa kak Hyuji tidak pernah bercerita juga kalau dia memiliki adik tampan seperti paman? Apa kalian memiliki masalah rumit sebelumnya?”
John menoleh. Menatap paras rupawan yang masih melihatnya dengan tatapan berbinar penuh rasa ingin tau. “Ya, masalah orang dewasa seperti kami terlalu rumit untuk anak kecil seperti dirimu!”
“Kenapa—”
“Jangan protes!!”
John menghela nafas lega karena Elli kini diam, namun John dapat menebak jika gadis itu sedang marah dan kesal sebab wajahnya merengut, bibirnya mengerucut kedepan, kemudian merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya cukup kasar. Dan hal kecil seperti itu, mampu membuat John menahan senyuman yang hendak terbit dari bibirnya.
“Keluarga kami tidak sebaik yang kau pikirkan! Semuanya tampak baik-baik saja bukan? Tapi aku tidak ingin kau tau seperti apa masa lalu yang membuat kami harus menahan gejolak amarah!” tutur John dengan suara berat. Lalu pada detik selanjutnya, John membungkuk untuk mengambil sesuatu yang menarik perhatiannya.
Sampai ketika John terkejut hebat saat pintu mobil dibanting keras. John jelas tau jika Elli pelakunya. Perlahan bangkit dengan beberapa kata kasar yang akan ia lontarkan, John terhenti ketika mendapati Elli berlari kearah rumah keluarga Hyuji. Manik John berpendar dan mendapati gadis itu berdiri didepan dua orang wanita muda yang berada tak jauh dari Hyuji yang tersungkur diatas aspal.
“Sh*t!!”
John menggeram dengan umpatan. Perlakuan yang diterima Hyuji cukup membuat darahnya mendidih. Segera John turun dari mobil dan menyusul Elli, kemudian berdiri didepan Hyuji yang berada dalam rangkulan Elliotte.
“Ah, dia muncul juga akhirnya! Dasar anak tak tau diri!” kata Song Nami—Kakak Hyuji.
“Kenapa kalian perlakukan Hyuji Noona seperti itu?”
Keduanya tertawa, seolah ucapan John adalah candaan paling lucu sedunia.
“Menurutmu?! Apa pantas seseorang yang membuat ibunya menjadi abu mendapat perlakuan baik dan disambut dengan mulia seperti seorang Ratu?”
Jelas saja ucapan itu membuat John terkejut. Bagaimana tidak, lama tidak mendengar kabar, dan hari ini berita ibu kandung Hyuji telah tiada.
“Lalu, kalian pikir bersikap seperti ini lebih pantas?” tanya John, dengan airmuka yang sudah sepenuhnya dikuasai angkara. Dia tidak rela jika Hyuji nya diperlakukan seperti tidak memiliki harga diri. “Kalian hanya memikirkan ego kalian masing-masing, Lalu apakah kalian memikirkan perasaan Hyuji noona?”
Pertanyaan John membuat keduanya membeku, tak bisa membuka mulut hanya untuk menanggapi ucapan John yang terdengar mengintimidasi.
“Dia juga anaknya, sama seperti kalian! Dan coba posisikan diri kalian jika harus menerima perlakuan seperti ini! Hyuji noona juga berhak berkabung untuk ibunya!”
John berbalik dan meraih Hyuji serta Elli untuk meninggalkan tempat yang terasa lebih memuakkan dari pada jamuan makan malam bersama para kumpulan pecundang.
“Kalian lahir dari rahim yang sama dan tidak seharusnya seperti ini!” lanjut John, menyempatkan diri untuk berbalik demi menuntaskan rasa angkara yang semakin menyeruak. “Setidaknya, jika kalian tidak bisa menerima Hyuji noona sebagai saudara kalian, perlakukan dia dengan sedikit rasa hormat sebagai seorang manusia!”[]