Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 29



...WARNING!!...


...Sad Area!!...


...•...


...•...


...•...


Kali ini, Hyuji tak tau lagi kemana dirinya harus pergi untuk menumpahkan segala gemuruh dalam hati yang semakin merenggut sisa ketenangan jiwanya. Bahkan dia tak ingin kembali ke tempat dimana dulu dia dirawat saat merasakan hal yang sama, terlalu menakutkan ketika membayangkannya.


Duduk disebuah bangku kecil di pesisir pantai, sepasang earphone bertengger nyaman pada kedua pendengar, lantunan mozart menemani masa kelamnya saat ini. Ia juga suka saat jingga senja mewarnai sebagian langit sore dan menemani kesendiriannya saat ini.


Harusnya, seseorang dari masa kecilnya dulu datang hari ini. Ya, Hyuji masih mengingat janji mereka dua puluh tahun lalu yang bahkan mungkin teman kecilnya itu tak mengingatnya.


Sebuah senyuman sendu ia edarkan begitu saja sembari menatap bentangan emerald berkilau dihadapannya. Lalu, dia mengangkat sesuatu yang sedari tadi ia genggam ke udara. Sebuah foto berwarna yang hampir memudar, bentuknya pun sudah berantakan sebab kakaknya pernah hampir memusnahkan satu-satunya kenangan terindah yang dimilikinya itu.


Hyuji memandangnya penuh kasih, diantara terpaan orange senja dan juga angin yang menerbangkan beberapa anakan rambut yang sudah mulai memanjang hingga senyuman getir itu timbul. Terisak dan tergugu dalam sebuah kenangan.


“Aku ingin dia ada disini...” ucapnya disela isak tangis. Hyuji berharap pria kecil itu adalah obat untuk rasa putus asanya kali ini. “Aku membutuhkan dirimu! Apa kau tidak akan menepati janjimu?”


Waktu sudah berlalu terlalu lama, mungkin. Hyuji tidak tau apakah penantiannya selama ini akan berbuah manis atau sebaliknya, dia hanya berharap bisa melihat teman kecilnya itu meskipun mungkin mereka tidak akan bersama. Masih tergugu, Hyuji menurunkan foto ke atas pangkuan, membiarkan lelehan airmatanya jatuh membasahi beberapa sisi dirinya hingga tanpa ia sadari seseorang sudah berlutut dan mengikat tali sepatunya yang terbuka.


Hyuji semakin tersedu, merasakan sesak dalam dadanya terlalu melelahkan, hingga pada akhirnya dia menangis sekeras-kerasnya didepan pemuda yang masih saja sibuk berlutut membenarkan tali sepatu miliknya itu.


Lalu, pada beberapa detik selanjutnya, Hyuji merasakan satu lengannya diraih lembut dalam genggaman hangat.


“Kenapa Noona seperti ini?”


Bahkan Hyuji tak memberitau John dimana dirinya berada saat ini, tapi mengapa pemuda itu bahkan tau ia sedang berada di pantai. John mendongak, mendapati wajah berantakan Hyuji yang terisak, kemudian kembali menunduk dengan hati perih sembari membersihkan beberapa sisi sepatu Hyuji yang kotor oleh butiran pasir.


Semuanya terasa menyakitkan dan John berniat membiarkan Hyuji menumpahkan semua beban yang mungkin tidak bisa ia rasakan. Ia bangkit dan duduk di tempat yang sama dengan Hyuji. Tidak begitu luas, hingga membuat John dapat merangkum wajah sendu Hyuji sepenuhnya.


Hyuji mendongak setelah beberapa saat menangis, mengusap sisa airmata yang masih saja belum berhenti. Mata dan hidungnya masih memerah.


Hyuji melepas earphone di telinganya dan mulai berbicara. “Kenapa kau bisa datang kesini, John?!” tanyanya sambil terus mengusap liquid bening dari sudut mata yang masih bisa menangkap bayangan John sedang melihat kearahnya, meskipun samar.


“Sebenarnya aku ada janji dengan seseorang disini!”


Hyuji mencoba menata kembali perasaannya yang hancur, memberi ruang pada hatinya sendiri agar mampu menerima jika saja John membuat janji dengan orang spesial untuk pribadi pemuda tersebut. Lantas bertanya, “Kekasih?”


Kedua manik John membola, menatap tak suka atas pertanyaan yang dilontarkan Hyuji untuknya. “Teman! Hanya seorang teman!”


Hyuji mengangguk mengerti. Memang tidak ada ikatan spesial diantara mereka, dan Hyuji juga tidak mau terlalu besar kepala dan berharap John akan benar-benar mengungkapkan perasaan untuknya. Hyuji hanya membiarkan semuanya mengalir begitu saja tanpa adanya ikatan tertentu pada hubungan mereka. Selanjutnya, senyuman asam terbit di bilah bibir Hyuji seraya berkata. “Ah, teman ya?!”


“Benar-benar teman. Nggak bohong!” jawab John lantas menekuk wajah agar terlihat meyakinkan. Dia juga tidak ingin semakin membuat Hyuji sedih.“Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kau ada disini Noona?!”


“Sama sepertimu, aku juga menunggu teman! Tapi sepertinya dia lupa dengan janjinya!” jawab Hyuji berusaha menyembunyikan senyuman getirnya dari John.


“Laki-laki, atau—”


“Laki-laki!” tutur Hyuji sebelum pemuda John itu menyelesaikan kalimatnya.


Hati John berdenyut sakit mendengarnya. Akan tetapi, semuanya adalah hak Hyuji, mereka tidak terikat apapun.


Suara debur ombak menjadi pengantar senja yang kini sudah hilang dibalik gedung tinggi, tenggelam bersama sebuah perasaan yang menggelegak naik ke dalam hati. John bahkan tak bergeming untuk beberapa saat, sampai Hyuji kembali membuka birai saat sapuan angin dengan suhu rendah menyapa permukaan kulit.


“Dia teman masa kecilku!”


John mengangkat dagu, memperhatikan gulungan ombak diantara temaram sinar bulan dan kerlipan bintang yang memperindah malam.


“Kenapa?”


“Dia adalah Cinta pertamaku!”


Cukup mengejutkan, tapi John yang selalu banyak bicara itu mendadak bungkam seperti batu. Tidak ada satu kalimat yang bisa ia utarakan sebab dia bahkan tidak berhak memaksakan sebuah perasaan.


John melihat jemarinya yang tertaut diatas paha berbalut jogger pants gelap dengan perasaan yang kacau. Dia bahkan tidak lagi punya rasa percaya diri didepan Hyuji seperti sebelumnya, dia bukan apa-apa.


Akan tetapi, perasaan John seolah dijungkir balik saat Hyuji melanjutkan kisah lamanya itu dengan sebuah tawa. “Kami bahkan belum mengerti makna Cinta saat itu! Kami hanya membuat janji untuk bertemu disini dua puluh tahun kemudian!”


Dahi John berkerut, manik rusanya mengerjap tipis. Seharusnya sejak awal dia sadar jika pertemuan mereka disini bukanlah hal yang tidak sengaja. Tentu saja tidak mungkin 'kan, tiba-tiba saja bertemu seperti ini disini? Tanpa sebuah janji?


Kali ini Hyuji memperhatikan John, manik mereka bersirobok. Dan satu senyuman yang selalu disukai John terbit bagitu saja dari bibir seranum cherry milik Hyuji.


“Aku bahkan tidak tau namanya!” kenang Hyuji bersamaan kembali memutar memori, mengingat wajah menggemaskan pemuda kecil yang baik hati itu, dengan nada sedikit jenaka untuk mencairkan suasana. Berharap John menimpalinya dengan jawaban lucu yang bisa membuat suasana canggung berubah menjadi seperti biasanya, menyenangkan.


Tapi itu tidak terwujud, Hyuji malah melihat John menatapnya intens. Membuat Hyuji merasa semakin aneh dan bodoh.


“Ah, maaf!”


Dan untuk kesekian kali, Hyuji terkejut bukan main saat John meraih telapak tangan dan menggenggam hangat bersama udara dingin yang mulai menyapa. Kedua manik Hyuji memperhatikan bagaimana telapak besar itu merengkuh miliknya.


“Katakan jika kalian membuat castil dari pasir bersama, saat itu!”


Hyuji terhenyak sesaat. Bahkan seharusnya dia juga menyadari sejak awal, jika tidak ada suatu kebetulan yang seperti ini.


Memaku, Hyuji merasakan kepalanya memberat. Dengan susah payah dia memperhatikan sosok John yang seperti sudah meletakkan harapan padanya. Awalnya dia hanya ingin mengelak semua kecamuk yang semakin meruncing dalam benak, akan tetapi semua terasa mustahil. Hyuji berusaha menarik jemari tangannya perlahan, ia kembali teringat ucapan mamanya.


Pemuda yang bersamamu itu adalah putra dari selingkuhan ayahmu!


Itu berarti, apakah John adalah anak laki-laki yang dikatakan sang Mama? Jika memang iya, itu artinya—


Hyuji menggeleng dengan airmata yang kembali ia tahan mati-matian, meremas kuat lembaran foto yang ia anggap selama ini menjadi kekuatannya untuk tetap bertahan dalam terpaan badai dalam hidup yang ia jalani. Mencoba mengelak semua perasaan sakit semakin meremat hatinya yang sejak awal sudah nyaris hancur, kini semakin tak berbentuk. John hanya bisa melihat Hyuji yang semakin membuat jarak dengannya.


“Noona, aku harap kau juga berfikiran sama denganku!” ucap John dengan suara madu yang semakin membuat Hyuji terpojok. Tidak mungkin jika dia tiba-tiba saja memanggilnya dengan sebutan 'adik' tanpa penjelasan apapun. “Aku—”


“Stop!!” titah Hyuji dengan suara lantang. Telapak tangannya mengapung diudara, memberi isyarat agar John berhenti sampai disana. Tidak ada pertanyaan karena Hyuji enggan memberikan jawaban. Membuat John berfikir jika dia membuat sebuah kesalahan besar.


“Noona—”


“Tidak seharusnya kita berada disini!”


Terkejut, John bahkan menunjukkan terang-terangan jika dia tidak suka intonasi Hyuji saat mengatakan hal itu.


“Jangan bertanya kenapa setelah ini! Karena aku tidak punya jawaban!”


John bingung sendiri, sebenarnya apa maksud Hyuji melarang dia mempertanyakan hal yang seharusnya memang ia ketahui alasan dan sebabnya.


Dan pada menit selanjutnya, dengan suara parau yang teredam debur ombak, Hyuji berkata. “Semuanya berakhir disini! Jangan datang ke toko bunga, aku akan membayar sisa gaji yang harus kau terima, dan jangan pernah menemuiku lagi!”


Hyuji berbalik, hendak pergi meninggalkan John yang dipenuhi rasa bersalah. Sebab tanpa sebuah alasan jelas, Hyuji melarangnya bertanya.


“Dan satu hal lagi!”


Hyuji benar-benar tidak ingin John mengetahui apapun tentang status mereka sebenarnya. Dia memilih memendamnya seorang diri dan menjauh. Mengubur semua keinginan dan kenangan Indah yang selama ini sudah di torehkan oleh John dalam kehidupannya yang nyaris hancur.


“Lupakan semua yang pernah kita lakukan selama ini, dan aku mohon jangan pernah menemuiku lagi! Selamanya!”[]