Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 24



Song Hyuji's POV.


Bisa tidak sih dunia tidak berisik, sebentar saja?! Sekali saja?!


Ah, tidak!


Bisa tidak sih hidupku tenang sebentar saja?! Rasanya kepalaku mau pecah memikirkan semua yang sedang muncul satu persatu didepan mataku.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini?”


Aku bergumam, frustasi. Menghirup udara disini, sama saja seperti menghirup diantara tumpukan debu tebal yang tiba-tiba saja diterpa angin. Sakit, sesak, tapi memaksamu untuk tetap menghirupnya sebab kau butuh bernafas.


Mama selalu berkata jika aku adalah anak pembawa sial. Sejak dulu. Sejak aku mulai mengerti apa itu makna sebuah kasih sayang, dan juga kebahagiaan.


Aku selalu membayangkan jika keduanya itu sangat menakutkan. Mama selalu memberikan rasa sayang dan kebahagiaan yang berbeda padaku. Ah, lebih tepatnya aku tidak merasakan keduanya dirumah. Dan aku lebih nyaman menjalani duniaku sendiri, seperti orang kurang waras.


Mama bilang aku pembawa sial. Lalu bagaimana caraku agar membawa sebuah keberuntungan untuknya?


Aku terbujur diatas ranjang, menatap langit-langit kamar yang diterpa sinar temaram dari lampu tidur yang beberapa menit lalu kunyalakan dengan malas. Dan sialnya, airmataku tidak mau lagi keluar. Sepertinya airmataku juga sedang berkonspirasi untuk membuatku lebih terlihat menyedihkan. Ya, menyedihkan. Aku menyedihkan.


Aku kembali menghirup sesak, kemudian mengubah posisi menyamping dan mendapati sebuah bayangan diriku yang tercipta pada tirai. Gelap. Menyedihkan.


Aku mengulurkan tangan mengapung diudara, hampa, hanya itu.


Tapi, dipikir puluhan kalipun, aku masih lebih beruntung dari pemuda yang tanpa aba-aba muncul dalam benakku. Seperti hantu, dengan cengiran khas yang akhir-akhir ini kusukai.


Tentu saja, pemuda itu lebih menyedihkan. Ayahnya pergi entah kemana sejak ia bayi. Jika kalian bertanya darimana aku tau akan hal itu, jawabannya adalah dia sendiri yang memberitahukan hal itu padaku. Dia hidup berdua bersama ibunya tanpa penghidupan sedikitpun dari sang ayah. Dasar ayah tidak bertanggung jawab. Dan aku, setidaknya papa menyayangiku meskipun mama memperlakukan aku tidak dengan sebagaimana mestinya. Ya, aku masih memiliki sedikit keberuntungan.


Aku jadi ingin menghubungi John. Tapi sudah terlalu larut untuk melakukan panggilan dan berbicara ditelepon. Tunggu! Atau aku kabur saja?


***


Jika diingat kembali bagaimana perjuangan sang ibu membesarkan dirinya seorang diri, John tau itu sangat sulit dan John selalu berusaha untuk menjadi satu-satunya orang yang bisa diandalkan. Akan tetapi, mungkin nasib baik belum berpihak hingga saat ini. Kendati demikian, John masih berharap bisa menjadi orang yang bisa diandalkan.


“Ibu, sudah makan?” tanya John lembut sembari duduk disisi sang ibu yang sedang sibuk memetik daun perilla.


“Untuk apa kau tanyakan itu pada ibu?! Lalu bagaimana denganmu?!”


John tau, meskipun terkadang ibunya itu sangat kejam padanya, tetapi rasa Cinta wanita paruh baya itu jauh lebih besar.


John merangkak mendekat, tersenyum sembari merangkul ibunya dari samping.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya sang ibu, terlihat risih dan berusaha melepaskan diri dari pelukan John.


“Aku rindu padamu, ibu!!” ucapnya, memejam merasakan aroma yang begitu ia sukai dari sang ibu—harum nan lembut.


“Ada apa?” tanya sang ibu cepat, tau betul kenapa putranya tiba-tiba manja seperti saat ini. Kendati itu, sang ibu tulus mengatakan itu, sebab ia tak ingin John menjadikan hal lain sebagai pelarian. “Jika kau minta uang, maaf!” lanjut sang ibu sedikit tersenyum dan menatap paras rupawan putranya. “Ibu belum gajian bulan ini!”


Senyuman John pudar begitu saja. Bukan hal itu yang ingin ia dengar, toh dia juga sudah punya penghasilan dari pekerjaannya di toko bunga milik Hyuji.


“Bu, bagaimana perasaan ibu setelah membesarkan aku seorang diri selama dua puluh enam tahun?”


Ibunya memaku, hatinya seperti baru saja ditembus timah panas saat mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba dari John. Dengan tatapan lurus dan sendu pada setiap helai daun perilla didalam baskom stainless yang ada didepan kakinya yang bersila, sang ibu menjawab dengan bibir dan suara sedikit bergetar.


“Kenapa kau bertanya seperti itu sekarang?”


John sadar pertanyaan itu mungkin akan kembali membuka luka lama yang selama ini berusaha disembuhkan oleh ibunya seorang diri. Tapi John tidak mau menjadi pengecut, dia bahkan merasa terlambat karena baru mempertanyakan hal ini sekarang.


“Maaf, ibu tidak bisa membesarkanmu dengan layak!” lanjut sang ibu dengan senyuman getir disudut bibir yang sudah sedikit berkerut.


John menjauhkan diri sebentar, kemudian kembali meraih tubuh kurus sang ibu dan memeluknya erat.


“Bukan, bukan seperti itu!” sergah John dengan kalimat terlembut dan penuh kasih sayang. Dia menyandarkan dagu diantara bahu dan kepala sang ibu, lalu menepuk pelan punggung ibunya yang ringkih. “Jika aku jadi ayah, aku tidak akan meninggalkan wanita yang cantik dan kuat sepertimu! Pasti dia sekarang sedang menyesali keputusannya melepas ibu 'kan?”


Tanpa sadar, airmata yang sudah ia tahan selama lebih dari dua puluh tahun itu lolos begitu saja. Ya, mungkin selama ini dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya didepan John, akan tetapi malam ini, John seolah sudah seharusnya tau jika dia sebenarnya tidak baik-baik saja bukan?


Seketika itu juga John menegakkan tubuh dan menjauhkan diri. Dilihatnya sang ibu yang sudah berlinang airmata dengan perasaan yang kacau. Melihat hal itu, hatinya hancur. Dia tak bermaksud demikian, dia hanya ingin tau perasaan ibunya saja.


“Maaf...”


Ucapan itu benar-benar tidak ingin didengarnya, John bahkan kembali memeluk erat sang ibu. Mendengar isak lirih dari bibir sang ibu dengan perasaan hancur dan juga mata yang sudah memburam penuh air mata.


“Ibu tidak perlu meminta maaf, karena ibu adalah wanita terhebat yang aku kenal!”


Sang ibu memeluk erat punggung putranya yang kekar itu. Hal yang selalu ia lakukan diam-diam ketika putranya tertidur dengan memar setelah menerima pukulan-pukulan dari tangannya. Ya, dia selalu melakukankannya, menyakiti fisik John sebagai pelampiasan kekesalan, dan memeluknya diam-diam saat malam sudah merengkuh hari sebagai penyesalan.


“Ibu adalah manusia paling berharga bagiku, jadi—” John menjeda sejenak ucapannya, lalu menarik diri dan mengusap airmata yang membasahi kedua pipi sang ibu dengan penuh kasih sembari menyuguhkan senyuman hangatnya. “Ibu jangan pernah menganggap diri ibu buruk seperti ini! Bagaimanapun masalalu ibu, hingga aku hadir kedunia ini, ibu tetaplah wanita terbaik, cantik, dan juga kuat untuk ku! Aku akan selalu melindungi dan mencintaimu, ibu!”


Sang ibu tersenyum bangga, karena merasa berhasil mendidik putranya itu menjadi pria baik. Pelahan lengannya terulur, meraih satu sisi wajah John dan mengusapnya lembut. “Terima kasih nak! Ibu bangga memiliki putra baik sepertimu!”


Tentu saja John senang mendengarnya. Akan tetapi ada satu hal yang ingin ia katakan, dan sangat ingin menyanggah rasa takut dalam hatinya, begitu juga ibunya.


“Aku tidak tau yang aku lihat ini benar atau salah, bu!”


Sang ibu pun memberikan atensi penuh kepada putra semata wayangnya itu, menunggu kelanjutan dari kalimat yang akan diucapkan sang putra.


“Aku seperti melihatnya!”


Melihatnya? Ayahnya?


Setidaknya, pertanyaan itu yang muncul didalam kepala sang ibu. “Siapa?” tanyanya ragu, dipenuhi rasa penasaran dengan kedua manik yang bergetar dipenuhi rasa khawatir. Tidak berharap jawaban itu yang muncul dari bibir putranya.


“Ayah!”


Hati sang ibu mencelos. Matanya membola seketika.


Apa benar John masih mengenali wajah ayahnya? terakhir mereka bertemu di Haeundae sembilan belas tahun yang lalu.


“Aku tidak ingat betul wajahnya, mungkin salah, tapi aku seperti tidak asing melihat wajah itu!”


“Dimana kamu melihatnya?” sergah sang ibu cepat, tak memberi jeda John hanya untuk sekedar memberi jawaban yang tepat.


John tertunduk lesu, memainkan ujung kaosnya gelisah dengan bibir yang memberikan sedikit senyuman getir. Kemudian kembali mengangkat wajah dan mendapati ekspresi takut dikedua pupil sang ibu.


Agaknya, John merasa tidak ingin menambah rasa takut sang ibu. Kendati demikian, dia harus menerima kenyataan yang belum tentu salah ataupun benar. Lalu dengan suara manis bak madu, John meredam kalut dalam hatinya sendiri seraya kembali membuka bilah bibirnya disertai senyuman hanya untuk berkata,


“Dirumah Song Hyuji!” []





Nah Loh?!!


Penasaran Gak?


Nyesel kalau gak baca cerita ini, karena menurutku cerita ini paling menguras isi otak. Beberapa kali memutar alur dan membuat pusing... 😂


But it's okey...


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komennya ya... Karena dukungan kalian adalah semangat untukku.


See You Next Chapter,


Vi's.