Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 20



Haeundae.


Pesisir, Emerald, pasir, gulungan ombak, dan juga memori yang terurai satu persatu. Memandangi bagaimana air laut yang terlihat berkilat semu sebab pantulan cahaya matahari, mendadak senyum dibibir Hyuji mengembang. Masa lalunya terasa begitu Indah. Bagaimana seorang pria kecil mendekati dan menyapanya dulu, kemudian mereka menghabiskan beberapa menit untuk membentuk istana pasir yang cukup tinggi, ibu dari si pria cilik itu mengambil gambar keduanya, hingga janji diantara kedua pribadi cilik itu mengudara.


Ayo kita bertemu lagi, suatu hari nanti.


Hyuji terkekeh, membuat John memutar arah pandang pada gadis yang terlihat begitu senang dan antusias itu.


“Ada kenangan yang Indah? Kenapa noona tertawa begitu?”


Hyuji membalas pandang, kemudian mengangguk tanpa ragu sedikitpun.


“Eum! Sudah lama!”


John mengangguk. Kedua pribadi itu menapak dengan bertelanjang kaki diatas pasir yang terkikis ombak berkali-kali. Lantas John mengedarkan pandang pada air sewarna emerald itu dengan manik yang berdenyar penuh rasa suka.


“Apa kau juga memiliki kenangan di pantai?”


John menunjuk sebuah arah, yang dulu—seingatnya, ada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh disana.


“Disana!” Ucapnya, membuat Hyuji turut mengalihkan tatapannya searah telunjuk John yang mengambang diudara. “Tapi sudah hilang! Sepertinya petugas pantainya iri padaku!”


Tak mengerti maksud ucapan John, Hyuji hanya menimpali dengan tawa lirih yang membaur bersama udara dan juga bunyi ombak yang kembali datang menyapa sepasang kaki telanjangnya.


“Kalau noona?”


Hyuji tidak tau, apakah boleh John mendengarkan ceritanya itu.


“Aku suka mencari kerang laut, dan juga membuat istana pasir!”


“A~h, benar! Itu memang menyenangkan!” jawabnya sambil menepuk tangan yang sedang menenteng sepasang sepatu sport berwarna putih di telapaknya.


John mendadak berhenti, menurunkan sepasang sepatu yang sedari tadi ia tenteng, kemudian menggulung celana Jeans hitamnya sebatas lutut. “Mau bermain air?”


“Tidak John, aku tidak membawa baju ganti!”


“Kita bisa membelinya nanti!”


“Itu tidak terlalu penting! Aku tidak ingin bermain air!” tegas Hyuji, membuat John sedikit kecewa dengan menunjukkan raut menggemaskan yang belum pernah ia lihat.


“Baiklah kalau be—”


“Okey, main sebentar saja!” Sahut Hyuji tiba-tiba, merasa tidak enak saat menyadari rasa kecewa John yang disusul oleh reflek John yang menyuguhkan sebuah cengiran khas yang begitu lucu.


“Terima kasih, Hyuji noona!”


***


Tanpa disangka. Seharusnya pakaian mereka tidak kuyub seperti keinginan Hyuji pada awalnya. Namun semua keseruan itu terlalu sayang untuk dilewatkan hingga keduanya kini harus benar-benar membeli baju ganti disebuah toko pakaian kecil yang tak jauh dari pantai Haeundae berada.


“Aku tidak yakin cocok dengan pakaian seperti ini, John?! Ini terlalu... ” Hyuji menjeda ucapannya, menatap diri sendiri dalam balutan dress ketat yang membentuk lekuk tubuh, sampai sebatas rimple dress yang sedang membalut tubuhnya. “...Sexy!” lanjutnya, dengan menautkan jelaga pada fitur John.


Berbeda dengan penilaian Hyuji pada dirinya sendiri, John menggeleng mantap sembari tersenyum lembut. “Tidak, baju itu cocok untukmu! Kau terlihat cantik!”


Baiklah, mungkin Hyuji hanya perlu mengucapkan terima kasih diiringi sebuah senyuman tulus agat John senang melihatnya. Akan tetapi sebelum semuanya terealisasikan, satu kalimat lain melesat dari bibir John, membuat pipi Hyuji seketika memanas hingga menimbulkan warna merah samar dikedua pipinya. John menyebut sebuah tempat yang setau Hyuji, begitu Indah saat malam, dan juga, banyak pasangan muda yang menghabiskan akhir pekan untuk memadu kasih disana.


***


Tentang apa yang didengarnya selama ini, memanglah benar. Semilir angin senja yang begitu sejuk dimusim panas, juga terlihat kerlip lampu berwarna ungu yang berbaur dengan penerangan dari kendaraan yang berlalu-lalang, membuat suasana dan nuansa jembatan Gangan begitu Indah. Ditambah lagi suara debur dan desir samar yang berasal dari sungai yang ada didepan kedua maniknya, Hyuji tersenyum kagum, pasalnya selama ini dia melewatkan keindahan tersebut.


John datang dengan membawa dua cup americano dingin, dan juga dua ramen matang yang juga berada didalam cup, dia mendaratkan bantalan duduknya disisi Hyuji.


“Maaf lama, antri!” tuturnya sembari meletakkan americano dan ramen di tempat kosong antara keduanya.


Hyuji tersenyum, dalam benaknya merasa bersyukur mengenal pemuda sebaik John. “Tak masalah, asal jangan meninggalkanku disini saja!” timpal Hyuji dengan nada jenaka yang tentu saja membuat tawa meledak begitu saja dari bibir sipemuda.


“Jangan khawatir! Aku tidak akan melakukan itu!”


Tersipu, Hyuji menyematkan anakan rambutnya kebelakang telinga.


“Makanlah, aku yakin Noona lapar!”


Sebuah anggukan Hyuji berikan, kemudian meraih cup ramen yang masih mengepulkan asap—panas, dan mengaduk perlahan.


“John. ”


“Hmm?!” sahut John sembari menoleh dan memperhatikan ke arah Hyuji dengan kedua mata rusa yang membola dan juga ramen yang hampir memenuhi mulut, terlihat menggemaskan dimata Hyuji.


“Menurutmu—” Hyuji menjeda, mencoba menyusun kalimat yang hendak ia katakan untuk John yang masih sibuk mengunyah ramen miliknya. “—Maksudku, apa yang akan kau lakukan jika semisal orang tuamu tidak menyukai keberadaanmu?” Hyuji menarik nafas perlahan setelah mengatakan hal tersebut, yang nyatanya membuat pribadi pemuda berparas tampan itu terkejut.


“Ibuku lebih kejam dari dugaanmu, Noona! Dia tidak segan-segan memukuliku dengan gagang sapu jika tau aku meminum Soju!” jawab John dengan ekspresi lucu dan mulut penuh dengan ramen.


Hyuji tersenyum getir. “Itu mungkin alasan yang tepat untuk ibumu melakukannya! Lalu bagaimana jika kau menerima pukulan tanpa alasan yang jelas?”


John menatap sendu pada sosok Hyuji, kemudian mengulurkan tangan meraih pucuk kepala dan mengusap lembut surai Hyuji dengan sebuah senyuman hangat bersama terpaan angin yang terasa menyapa fitur wajah keduanya. Tatapan mereka saling tertaut, hingga tanpa Hyuji sangka kelopak matanya memanas dan membuatnya berair.


“Kau—tertekan?”


Sontak pertanyaan itu membuat dada Hyuji terasa penuh, disusul isak tangis yang semakin terdengar memenuhi pendengar John, pun Hyuji yang tergugu itu membuat hati sang pria teriris begitu perih. Perlahan, John meletakkan cup ramen di sampingnya, kemudian lengan itu kembali terulur, kali ini untuk membawa Hyuji kedalam dekapan hangat di dadanya. “Percayalah, jika Tuhan akan memberikan sesuatu yang bahkan tak akan pernah kita duga!” tutur John sembari mengusap airmata Hyuji yang sudah melewati ekor matanya. “Berbahagialah, Noona! Eumm...?!”


Mata mereka bertemu bertemu saat Hyuji mengarahkan fitur wajahnya demi memandangi pemuda yang sedang memberikan kenyamanan pada dirinya itu. John melepaskan Hyuji dari pelukan, kemudian menangkup kedua pipi Hyuji penuh kasih dengan manik berbinar seolah seluruh isi galaksi ada didalam sana dengan hiasan senyum yang begitu menawan.


“Terima kasih banyak, John!”


Tatapan keduanya terkunci satu sama lain, hingga angin dan bunyi deburan air sungai itu menjadi saksi bagaimana keduanya menautkan bibir. Semuanya berlalu begitu saja hingga John membuka kedua manik dan mendapati wajah sigadis dihadapannya itu dengan mata terpejam. Jantungnya berdebar kacau, kemudian John mengumpulkan keberanian untuk mengusap bibir Hyuji dengan ibu jarinya.


“Maaf!” tutur John canggung, kelimpungan antara malu dan juga lega sebab mungkin saja perasaan keduanya sama. Lalu menegakkan kembali punggungnya, mencoba memberi jarak dengan Hyuji. Kemudian kembali berucap, “Kuantar noona pulang!”


***


“Mereka berdua ada dipantai Haeundae!”


“Ah, begitu ya? Apa mereka sudah tau yang sebenarnya?”


“Sepertinya tidak!”


“Tetap awasi mereka! Dan ingat! Jangan sampai John menyadari keberadaanmu!”


“Baik, tuan!”[]