Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 35



Sokcho.


Pesan singkat yang ia terima dari Clarisa beberapa waktu lalu. Kota yang terletak paling timur dan dekat dengan lautan ini menjadi tujuan utama John saat ini. Mengajukan cuti selama beberapa hari di tempatnya bekerja, John memiliki janji bertemu dengan seseorang hari ini. Seseorang yang pernah merawat Song Hyuji, dan besar harapannya tempat ini adalah tempat pelarian Hyuji selama dua tahun ini.


Aroma disinfektan yang cukup menyengat, dan tatapan dari orang-orang yang melihat kearahnya dengan cukup antusias dibalik pintu yang dikunci rapat. Ada juga suara teriakan kencang yang datang entah dari mana, John terkejut dan hatinya cukup pilu melihat keadaan sepanjang lorong menuju ruang salah satu dokter spesialis yang akan ia temui kali ini.


Dan ketika tiba didepan sebuah ruangan dengan pintu kayu berwarna coklat tua, John mengetuknya perlahan. Terdengar samar suara memberi ijin masuk dari dalam, dan John serta merta memutar kenop pintu.


Seorang wanita paruh baya duduk dibalik meja kerjanya dengan kaca mata yang bertengger di atas hidung mancungnya. Snelli putih ia kenakan untuk menutupi kemeja sewarna langit yang ia gunakan. Name tag yang tersemat itu bertulis 'Na JiHye' diikuti gelar yang menunjukan kedudukannya saat ini.


“Selamat sore John Wilson-ssi!” sapanya, ramah dan lembut saat sampai di Indra pendengar.


John membungkuk sebagai salam hormat, lalu berjalan mendekat. Mereka sempat bersalaman sebelum John duduk didepan dokter Na JiHye setelah mendapat izin.


“Nona Clarisa menghubungi saya dan membuat janji untuk anda, jadi katakan saja keperluan anda kepada saya!” terang si dokter dengan senyuman mengembang sempurna yang terlihat ramah dan menenangkan.


Sejenak John bingung harus memulai semua dari sudut yang mana, sebab semuanya akan menjadi kacau dan ia tidak akan mendapatkan informasi apapun tentang Hyuji jika sampai salah bicara.


“Saya, maksud saya, anda pernah merawat pasien bernama Song Hyuji bukan?” tanya John lembut, khawatir jika dokter tersebut akan langsung menolaknya.


“Song Hyuji?” tanya dokter Na kepada John dengan dahi sedikit berkerut, dan John tau jika sang dokter mulai menelisik.


“Ya, Song Hyuji! Saya datang kesini untuk menanyakan, apa Song Hyuji datang lagi kemari?”


Dokter Na menimbang semua yang akan menjadi jawabannya. Dia menurunkan sedikit kacamatanya, menatap John dari balik celah yang tercipta.


“Kenapa anda bertanya tentang pasien saya? Sudah menjadi kewajiban saya merahasiakan semua data pribadi pasien saya!”


Ya, John tau itu sebuah kode etik. Tapi John tidak akan menyerah secepat itu, ia ingin menemukan Hyuji.


“Saya keluarganya, lebih tepatnya adik dari Song Hyuji!” jawab John tanpa kata ragu sedikitpun. Berharap dokter Na mempercayainya.


“Kalau anda keluarganya, lalu mengapa menanyakan hal rahasia itu kepada saya? Seharusnya anda sudah mengetahui semua hal tentang kakak anda bukan?”


Seharusnya seperti itu, tapi hal rumit yang tidak diketahui siapapun menjadi kendala yang cukup nyata.


“Saya bukan keluarga yang tinggal serumah atau bisa bertemu dengannya setiap hari!” timpal John sedikit berdebar, takut jika ia benar-benar gagal mendapatkan informasi.


“Apa maksud anda?” telisik dokter Na mencari penjelasan.


Sekilas dokter Na mengangguk paham. “Tapi tetap saja, itu adalah rahasia pasien saya! Dan saya berhak menolak menyebarkan informasi kepada siapapun yang tidak membawa izin dari pihak yang bersangkutan!”


Pembicaraan berjalan begitu lama, dan meyakinkan dokter Na sangatlah sulit. John hampir menyerah dengan satu pernyataan terakhirnya. “Kak Hyuji menghilang, dia pergi dari rumah! Dua tahun lalu.”


Dokter Na membolakan kedua matanya saat mendengar itu. Akan tetapi, John lah yang lebih terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan dokter Na. “Tapi dia tidak datang kesini setelah terapi terakhir, sekitar lima tahun yang lalu!”


Jantung John seolah berhenti berdetak. Dia benar-benar menemui jalan buntu setelah berharap mendapatkan satu saja informasi dari orang yang pernah menjadi tempat Hyuji mencurahkan kekacauan dirinya.


“Dia sama sekali tidak datang kemari setelah itu!” lanjut dokter Na memberi keterangan.


Jemari John mengepal kuat diatas paha, tak tau lagi harus pergi kemana sekarang. Informasi berhenti disini, dan tak ada lagi yang bisa ia mintai keterangan akan keberadaan Hyuji saat ini.


Lalu, dengan tubuh yang bergetar dia berjalan kembali untuk mencapai mobil yang terparkir di basement rumah sakit. Perasaannya kacau balau dan hatinya serasa dikoyak hingga tak berbentuk. Ia teringat kembali bagaimana melewati hari-hari bersama Hyuji, hingga awal pertemuan mereka.


John membanting tubuhnya pada sandaran kursi kemudi, memejam rapat sembari menggigit bibir bawahnya kuat karena merasa putus asa. Lalu pada detik selanjutnya, dia memukul kemudi dengan cukup keras, mengacak surainya hingga berantakan, dan mengerang penuh rasa kecewa yang entah ia tujukan untuk siapa.


“Sebenarnya dimana dirimu sekarang, noona?” gumam John dengan airmata yang mulai meleleh melewati kelopak matanya. “Oh, ya Tuhan! Kenapa harus berakhir seperti ini?!” teriaknya cukup keras didalam mobil. Suaranya bergetar dan pilu. John tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan sekarang, otaknya terlalu penuh memikirkan jalan keluar lain yang jelas-jelas tak lagi memiliki harapan.


Tepat saat senja mulai menyapa langit, jingga yang terlihat begitu Indah dibalik cakrawala, John menghentikan laju mobilnya pada sisi jalanan yang langsung berhadapan dengan bibir pantai. Pandangan kosongnya mengedar begitu saja, menjelajah setiap bagian dan sudut lautan yang terbentang didepan mata.


Matanya sedikit membengkak, dan ujung hidungnya memerah sebab baru saja menghentikan sendu.


Pagar pembatas yang terbuat dari kayu itu menjadi tempatnya meletakkan bobot kedua lengannya. Dari sini dia bisa merangkum senja dan juga kenangan-kenangan manis bersama Hyuji yang berputar tanpa henti didalam kepalanya. Dia melihat ada bebatuan yang menjorok kearah bagian laut yang cukup panjang.


Entah hanya perasaannya saja, ataukah memang ada ikatan yang membuat jantungnya berdebar. Tatapan John terpaku pada sosok yang berdiri jauh diujung bebatuan bak jembatan itu. Tidak begitu jelas, namun ia masih dapat merangkum punggung kecil dikejauhan sana dengan surai sepanjang dibawah bahu yang terbang bersama angin.


“Noona?” gumamnya mencoba menerka. Dan ia sangat yakin sebab Hyuji juga menyukai laut, sama seperti dirinya. Hingga satu hal yang membuat John terkesiap.


"Oh no no no...” ucapnya panik seraya mengambil langkah untuk berlari menuju gadis yang sudah sirna dari jangkauan penglihatan John.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, John menerjang beberapa batu besar yang muncul ke permukaan demi mencapai tempat gadis bersurai panjang itu—Berharap tidak terlambat. Namun ketika kedua kakinya berdiri tepat diujung dengan nafas yang terengah, dia menyaksikan hal yang tak terduga.


John menutup mulut dengan kedua telapak, kedua matanya bahkan membola sempurna. Dan dengan sisa harapan yang tertinggal, John menghela.


“Ya Tuhan...”[]