
Merasa bersalah, itulah yang ada dibenak Hyuji saat ini. Setelah mengirim pesan itu semalam, pagi ini John mengajukan cuti. Ingin berlibur ke pantai katanya.
Suasana menjadi sangat kosong saat sadar John tidak berada di toko bunganya. Pembeli yang datang silih berganti pun tak pernah berhenti menanyakan keberadaan pemuda tersebut hingga membuat Hyuji pusing dan nyaris terpuruk sendiri.
Hyuji memutar ponsel yang tergeletak diatas mejanya. Papan kecil yang tergantung di pintu itu sudah ia balik menjadi kata Closed.
Sekelabat bayangan senyum John merambah masuk kedalam memori yang nyatanya juga turut merindu akan presensi pemuda itu.
"Haaaah..."
Hyuji menarik nafas berat, dia kini berdiri dan meraih sling bag yang ada di dalam lemari kecil meja, bersiap untuk pulang lebih cepat karena bosan. Ah, atau lebih baik dia mengunjungi kedai makanan yang sempat ia datangi bersma John beberapa hari yang lalu. Kaki ayam pedasnya sangat enak, dan John tidak membual tentang itu.
Dan disinilah Hyuji di jam lima sore. Duduk diantara pengunjung lain yang masih berusia sekolah, dia memesan dua mangkuk kaki ayam pedas yang sudah hampir habis.
Wajahnya memerah karena sensasi pedas yang luar biasa, dan seketika mengingatkannya dengan sosok John yang menemaninya malam itu. Meraih botol berisi air putih dingin disisi mangkuk pertama, kemudian meneguknya serakah karena rasa pedas yang kembali membakar lidah.
"Apa dia sedang bersenang-senang sekarang?" gumamnya tanpa ekspresi, kemudian memasukkan lagi sepotong kaki ayam itu kedalam mulutnya.
Kini pandangannya tertuju pada ponsel yang sedari tadi menemaninya, tidak ada kabar apapun yang dikirim John untuknya. Biasanya, paling tidak John akan mengirim pesan hanya untuk menanyakan 'apakah dia sudah berangkat ke toko bunga karena John sudah menunggu setengah jam lebih', atau 'sudah sampai dimana', atau bahkan pesan random lain yang kadang membuat Hyuji menggeleng tak habis pikir tentang pemuda itu.
Telapaknya melepas salah satu sarung tangan plastik yang membalut, kemudian Jemarinya mengetuk sebuah aplikasi pesan.
'Apa kau sedang bersenang-senang sekarang?'
Ya, setidaknya itu yang akan hyuji kirim jika ia tidak punya rasa malu. Tapi pada detik berikutnya, pesan itu sudah menghilang dari kolom 'write message'. Hyuji berdecak kesal sebab tak tau apa yang harus dia lakukan, dan juga mengapa mendadak dia bertingkah seperti pasangan yang rindu pada kekasihnya.
Baiklah, ini bukan dirinya. Dan Hyuji memasukkan ponsel tersebut kasar kedalam tas karena kesal.
Namun ditengah rasa kesal yang membumbung, ponsel yang sebelumnya ia lempar kedalam tas itu bergetar sebanyak tiga kali. Hyuji tak peduli. Dia hanya tidak ingin kembali mengetik pesan yang akan ia tujukan untul pemuda tengil menyebalkan itu.
Well, John itu menyebalkan—pikir Hyuji.
***
John mengerutkan bibir kecewa. Dia sudah mengirim pesan sebanyak tiga kali kepada Hyuji tapi tak sekalipun dibalas.
"Kenapa?" tanya YoonKi. "Di acuhkan?"
John mengangguk pasrah, menaikkan satu kakinya keatas kaki lain dan meraih gelas berisi jus susu pisang yang sudah mengembun.
"Pasti dia sibuk!"
"Tidak," sahut YoonKi sarkas, yang mendapat tatapan tak suka dari adiknya itu. "Dia pasti sedang memikirkan alasan untuk memecatmu!"
"Bekerjapun masih merepotkan!" gumam pelan penuh sarkasme YoonKi sekali lagi sambil memasukkan cemilan kedalam mulut.
John mengerucut bibir kedepan—sebal. Kemudian memandangi kembali display ponsel, membuka pesan yang ia kirim kepada Hyuji. Sebuah foto memicing yang ia ambil dari angle samping, dan dua buah pesan menanyakan keadaan toko bunga, tak dihiraukan.
"Besok aku harus bisa menjaga jarak padanya Kak, aku merasa tidak enak!"
"Makanya, kalau mau bercanda itu dipikir dulu! Siapa yang kau ajak bercanda, apa jabatannya, Jangan asal bicara sesukamu!" tutur YoonKi sambil menggeleng menatap miris pada ekspresi John yang menyedihkan.
"Haissh..."
Namun, John kembali teringat akan sesuatu yang ia hilangkan beberapa waktu lalu dan ingin membagi cerita kepada Yoonki.
"Aku kehilangan sesuatu kak!"
"Sejak kemarin kau bilang kehilangan sesuatu," sahut YoonKi dingin. "Memangnya apa?"
"Sebuah foto!"
"Foto?" tanya YoonKi, dengan kening sedikit berkerut—menelisik, yang kemudian mendapatkan satu anggukan mantap dari lawan bicaranya. "Memangnya foto apa?"
John menunduk, menatap jari-jari panjangnya yang sedang saling bertautan satu sama lain.
"Foto seseorang yang pernah aku temui disini!"
"Jadi diam-diam kau punya kekasih?" sergah YoonKi, membuat John melirik sekilas.
"Mungkin... Cinta pertama." jawabnya tanpa ragu sedikitpun, dibubuhi sebuah senyuman manis yang memperlihatkan lesung pipi samar dan tak begitu kentara yang ia miliki.
"WHAT??!"
John ikut terkejut mendengar suara melengking YoonKi. "Kak Yoon kenapa sih? Kejadiannya sudah lama!" John menjeda, kini mengarahkan satu lengannya keatas meja di pesisir pantai itu, kemudian menopang dagu mengedarkan pandangan menatap ombak yang bergulung dan berlomba mencapai tepi.
"Dia teman masa kecilku, dan kami pernah membuat janji akan bertemu disini!"
YoonKi mendapati ekspresi tulus yang ia lihat dari sorot mata John.
"Aku berharap dia bisa mengenaliku meski tanpa foto itu saat tiba waktunya nanti!
Musim semi tahun ini!"[]