
Jadilah kekasihku.
Mungkin, selama hidup Hyuji, tidak ada pemuda segampang dan segamblang itu mengungkapkan perasaan mereka kepadanya. Kebanyakan dari mereka akan merangkai kata-kata Indah sambil menyodorkan bunga, ada juga yang membawanya ketempat romantis seperti di drama-drama, dan ada pula yang membelikannya barang-barang branded agar diterima.
Namun, berbeda kasus dengan pemuda tampan dan berprofesi sebagai pegawainya itu. Pemuda itu begitu ringan saat berbicara, tidak bermodal apapun kecuali wajah dan postur gagah, meskipun tak dipungkiri dia berkepribadian baik.
Hyuji kembali teringat ucapan John diatas atap saat itu.
Kau harus menjadi milikku.
Ah, Sial!!
Hyuji mengusak rambutnya hingga berantakan, kemudian melirik jam dinding yang menunjuk angka sembilan malam. Hyuji masih merenung didalam toko, tidak ingin pulang, atau beranjak kemanapun.
"Kekasih apanya? Bahkan dia hanya bermodal tampang saja berani mengajakku berkencan!" gumam Hyuji, masih memikirkan ucapan John tadi siang. "Tapi..."
Sebuah bayangan senyum manis John terbesit didalam ingatannya. Disusul senyum teman kecilnya yang hampir sama dengan milik John.
"—senyum mereka mirip! Dan aku suka sekali dengan senyuman itu!"
Ah, tidak masuk akal juga jika mereka berkencan hanya karena alasan sebuah senyuman. Hyuji menggeleng sekali lagi agar bayangan senyum keduanya sirna.
"Aku harus pulang sekarang!"
***
"Kau sudah gila? Kau akan dipecat besok!" tutur seseorang dari seberang telepon.
"Ah, kau benar kak Yoon! Aku tidak berfikir sejauh itu! Aku hanya berniat menggodanya untuk bercanda!"
"Tapi candaanmu itu keterlaluan John?!" sahut YoonKi cepat.
Memang, John suka sekali bercerita pada YoonKi karena pria itu selalu memberikan solusi yang bisa menjalan keluar terbaik saat John sedang kesulitan.
"Ah, kak Yoon benar! Aku akan menganggur dan minta makan lagi padamu mulai besok kak!"
"Sialan! Minta saja pada Hoby! Aku sudah bosan menghidupi makhluk pecinta makanan sepertimu John! Aku bangkrut!"
"Jahat sekali!" sergah John diiringi tawa, tau betul jika YoonKi sedang bergurau.
John berbalik, menatap langit-langit kamar seraya membayangkan wajah gusar Hyuji sepanjang hari ini. Dia bahkan tidak bisa tenang samai sekarang.
"Kak Yoon, seandainya dia menganggap candaanku serius dan menerimaku, bagaimana?"
"Ya sudah! Mau bagaimana lagi, kau sendiri yang memulai!"
John memiringkan tubuh, menatap foto lama yang ia pajang diatas nakas. Lebih tepatnya, saat dirinya masih anak-anak dan sedang berlibur di pantai. John ingat, ibunya yang mengambil gambarnya waktu itu.
"Apa lagi? Yah, John! Kau tau tidak, nada bicaramu saat ditelepon sudah semacam orang berpacaran!"
"Benarkah? Wah, kak YoonKi menakutiku! Apa kau menyukaiku sekarang?"
"Jangan bicara macam-macam atau aku matikan teleponmu! Dan asal kau tau, aku ini laki-laki normal! Masih menyukai lubang wanita!"
"Chh, menyebalkan! Bisa tidak perkataan Kak Yoon difilter sedikit! Kau sudah menodai telinga pria kecil yang baik dan suci sepertiku!"
"Terserah!"
"Kak Yoon, aku kehilangan sesuatu!"
John tidak berbohong, dia memang kehilangan sesuatu yang menurutnya sangat berharga.
"Apa itu? Apa keperjakaanmu? Baguslah kalau begitu!"
"Yaisssh! Aku serius kak!" kesal John, sedikit membentak dan berteriak. Dan mendapat balasan sebuah gebrakan pada pintu kamar yang mengejutkan hingga dia bangkit dengan kasar dan mendengus nafas berat. "Ibu memukul pintuku!" lanjutnya memberi penjelasan untuk YoonKi.
"Ini memang sudah malam! Dan kau memang mengganggu sebagian penduduk yang sedang beristirahat!"
John menghela nafas, rasanya ingin sekali meninju mulut pedas kakak seperguruannya itu. Dia memang pria yang dingin, bukan wajahnya saja, tapi cara bicaranya juga tak kalah dingin dan runcing seperti bongkahan es yang membentuk kerucut didalam goa. Tajam dan berbahaya.
"Ya sudah, wahai penduduk yang sedang beristirahat, silahkan melanjutkan kegiatan anda diatas kasur empuk dan mewah! Selamat malam!"
"Eoh~Jangan jadi adik laknat! Kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja! Aku benar-benar lelah hari ini! Selamat malam!"
Panggilan berakhir. John terkekeh lirih, kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas. Menyangga kepala dengan salah satu lengan sembari masih membayangkan ekspresi Hyuji saat dirinya mengatakan hal itu secara gamblang. "Dia gadis yang manis, tapi mengapa ekspresinya selalu terlihat seperti tertekan begitu?"
John mengubah posisinya, mengingat kembali kejadian diatap gedung saat Hyuji hendak mengakhiri hidupnya sendiri waktu itu. "Dia tertekan dan tidak mungkin mengizinkan sembarangan orang masuk kedalam kehidupannya! Apalagi hanya seorang pria tidak berguna sepertiku?"
John memejam, menarik sudut bibir membentuk sebuah lengkungan senyum saat mengingat wajah cantik Hyuji.
"Benar, kami bukan dari kalangan yang sama," gumam John di antara pejaman. Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar. Sebuah balon pesan muncul pada lock screennya, ia pikir YoonKi akn mengirim pesan ucapan selamat tidur, mimpi Indah, atau semacamnya. Namun nama yang muncul setelah John membuka lockscreen membuatnya terperanjat dan bangkit dari tidurnya dengan kasar.
Hyuji-nim
Kau yakin?
Kemudian pada detik selanjutnya, ponsel John kembali bergetar.
Lebih baik berhenti menggodaku John. Ini tidak lucu, dan aku harap kau memikirkannya lagi.
[]