Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 34



Ruangan temaram sewarna guguran daun maple di musim dingin. Suara riuh bak dengung lebah, dan aroma cafein yang menyapa hidung, sudah menemani John duduk didepan bentangan kaca yang menghadap ke arah jalanan. Maniknya terlihat gusar, begitu juga perasaannya yang tak menentu.


Terdengar gemerincing pintu cafe yang dibuka. Orang yang ditunggu sudah datang.


“Maaf aku terlambat! Aku tidak menyangka jika hari ini jalanan akan padat sekali!”


Atensi John tiba-tiba ditarik paksa oleh suara lembut itu. John sendiri bahkan tak menyangka jika merencanakan pertemuan ini. Ya, pertemuannya yang bahkan tak pernah ia duga.


“Tidak apa, duduklah!” titah John sedikit gamang.


Sosok itu sibuk meletakkan tas dan juga pakaian hangatnya diatas meja, lalu merapikan penampilan yang terihat sedikit berantakan.


“Katakan, apa tujuanmu mengajakku bertemu?” tanyanya antusias, dibubuhi seutas senyum yang terlihat tulus dan masih saja sama menyenangkannya seperti yang pernah dilihat John saat itu.


John menghela nafas perlahan, membiarkan otaknya berfikir sejenak untuk menimpali pertanyaan yang ditujukan kepadanya.


“Ada yang ingin aku ketahui darimu!”


Lawan bicara John itu mengerut dahi. “Apa?” jawabnya dengan nada suara sumbang.


“Dimana tempat Hyuji noona dirawat dulu?”


Dan ya, semalaman John sudah berfikir keras dan mengambil keputusan untuk bertanya pada Clarisa tentang tempat yang dulu didatangi Hyuji saat menjalani pemeriksaan kesehatan. John benar-benar menemui jalan buntu, dan hanya Clarisa yang tiba-tiba muncul dalam otaknya setelah hampir kembali direngkuh oleh rasa bersalah yang datang semakin kuat.


“Bukankah kau bilang pernah bertemu dengannya ditempat yang sama?“


Clarisa menarik sudut bibirnya tajam. Angannya yang tadi sudah tergambar begitu Indah, menguap begitu saja. Semuanya terasa musnah untuk kedua kalinya.


“Jadi, tujuanmu mengajakku bertemu hanya untuk ini?”


John mengangguk, dia tau Clarisa mungkin sedang sakit hati sekarang. Tapi tujuan utamanya benar-benar hanya ingin tau dimana Hyuji melakukan pemeriksaan dan juga pemulihan dari sakitnya saat itu.


“Aku butuh informasi itu darimu!”


“Kenapa?” tanya Clarisa kembali ingin memastikan jika John tak hanya ingin bertemu dengannya karena hal ini. “Kenapa kau ingin tau dimana dulu dia dirawat?!”


“Aku punya alasan yang tidak bisa aku katakan pada siapapun!” tutur John pelan, terdengar sendu.


“John, kau—”


“Aku mohon...” pintanya sembari menyatukan kedua telapak tangannya dengan erat dibawah meja. Wajahnya sudah memerah, dengan raut yang menyedihkan.


Sampai memohon? Bahkan Clarisa tak habis pikir dengan John, pria yang masih menduduki hatinya hingga saat ini tanpa ragu untuk memohon hanya karena seorang wanita. Dan Clarisa juga sangat tau, jika sudah seperti ini, tidak ada lagi harapan untuknya. John sangat mencintai wanita tersebut. Sebagian besar dalam dirinya merasa kecewa, sebab dia pernah berada diposisi ini, posisi dimana John rela melakukan segalanya untuk seseorang yang dianggapnya berharga.


“Kau benar-benar melakukan ini kepadaku, John?”


John menatap lekat pada sosok Clarisa, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang terlontar dari bibir gadis yang pernah menempati sisi hatinya itu. Lalu pada detik selanjutnya, dia tau jika Clarisa masih menaruh harapan besar kepadanya. Harapan untuk bisa kembali. Namun John tak ingin memberikan harapan yang mungkin tidak akan pernah lagi terulang. John mengerjap samar. “Ya!”


...***...


Suara bising kendaraan yang membuat pusing, juga udara yang mempunyai senyawa yang berpadu dan cukup membuat malamnya terasa beku. Saat dingin merayap menyapa permukaan kulit wajahnya yang mulai kaku, Clarisa duduk di sebuah kursi besi di atas salah satu sisi trotoar pejalan kaki. Tertunduk sembari meremat kesepuluh jemarinya yang sudah menggigil disetiap ujung dalam tangkupan yang cukup kuat, dia masih mengingat ucapan John yang sudah tak lagi bisa ia harapkan untuk ia miliki seorang diri.


“Dia sudah melupakan aku!” ucapnya sedih, dan entah mengapa lebih seperti mengungkapkan sebuah kekecewaan mendalam dari dalam benaknya yang mulai rapuh dan perlahan meruntuhkan rasa percaya diri.


Kemudian pada menit yang lain, saat ujung hidungnya mulai memerah, dan airmata yang hendak runtuh dari singgasana, seseorang mengulurkan sebuah permen kapas rasa strawberry tepat didepan wajahnya.


“Sudah tau seperti itu, masih saja berharap!” celetuk orang dengan tinggi sekitar 173 cm itu dengan nada dan wajah datar tanpa ekspresi. Tangannya masih menggantung diudara dengan permen kapas berwarna pink yang masih belum diterima. “Bodoh!”


Clarisa hanya menyuguhkan senyuman tipis diujung bibirnya. Kendati demikian dia ingin sekali membalas ucapan sarkas itu, namun semuanya seolah memang tak harus diberikan jawaban. Dia memang menyedihkan sampai harus menerima ucapan seperti itu. Ya, dia memang masih berharap John kembali dan berbalik menatapnya, sekali lagi.


Pria dalam balutan jaket kulit hitam itu tanpa permisi menggeser posisi duduk Clarisa, dan memasukkan telapak tangannya kedalam saku jaket dengan sedikit mengangkat bahu setelah meraih dan meletakkan permen secara paksa yang ia sodorkan tadi kedalam genggaman Clarisa.


“Suhu sedang rendah, kau bisa terserang flu jika lebih lama disini!”


“Apa pedulimu? Aku bahkan tak peduli jika harus kembali dirawat dirumah sakit!”


Clarisa memang baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu karena penyakit lambungnya, tapi dia rela meluangkan waktu untuk bertemu John, meskipun ia sendiri tau keadaannya belum sepenuhnya pulih.


Pria itu mendesis sejenak sambil menunjukkan wajah kesalnya, kemudian mengapit kedua bibirnya sebal. “Kau akan merepotkan aku lagi! Dan aku lelah!”


“Kalau begitu tidak usah peduli padaku, YoonKi-ssi!” sarkas Clarisa dengan tatapan tajam di wajahnya yang sudah serasa membeku dan mengeras seperti balok es.


“Kalau begitu, jangan melakukan hal konyol dan membuat orang lain khawatir, Clarisa yang keras kepala!” timpal YoonKi cepat dengan tatapan tak kalah dingin.


“Lalu aku harus bagaimana?!”


Atmosfer keduanya sudah seperti dua kubu yang siap berperang. Keduanya bersirobok, hingga YoonKi mengulurkan telapak tangannya kearah pucuk kepala Clarisa dan mengusapnya sebanyak dua kali. “Lupakan dia, kau harus bisa menerima jika John sudah tidak lagi memiliki perasaan untukmu! Masih banyak laki-laki yang mau menerima dirimu—”


Belum selesai dengan kalimat sepanjang pidato itu terucap, YoonKi dibuat terkesiap akan ucapan yang terbit dari bibir Clarisa. “Seperti dirimu?”


Demi apapun, YoonKi tau Clarisa memang se menyebalkan itu. Tapi entah mengapa hari ini gadis yang biasanya terlihat congkak dan egois itu sangat kacau. YoonKi menurunkan telapaknya dari atas surai coklat milik Clarisa perlahan, memperhatikan bagaimana gadis itu menangis tanpa suara diantara hening yang tercipta.


“Jika itu memang perlu, ayo kita lakukan!”


Terkadang, Clarisa juga menunjukkan sifat kekanakannya yang terasa menjengkelkan dan juga menggemaskan dimata YoonKi. Namun semua berbanding terbalik dimata Clarisa, YoonKi itu seperti sosok ibunya yang terlalu over protektif dan menyebalkan seperti kakeknya yang selalu menyuruhnya menikah.


Clarisa tersenyum miris, membuang muka pada bentangan jalan Raya yang masih saja ramai di jam sepuluh malam. Ah, tidak terasa dia sudah duduk disana selama dua jam penuh setelah bertemu dan berdebat dengan John.


“Kau ini menyebalkan sekali YoonKi-ssi!” ujarnya dengan pendaran mata yang tak terartikan dan senyuman penuh kekecewaan.


YoonKi mengerjap, tak ada hal yang perlu ditertawakan bukan?


“Aku serius! Meskipun kau terkesan mempergunakan aku sebagai pelarian, ayo lakukan saja! Aku bosan melihatmu seperti ini, Cla! Kau itu terlihat menyedihkan!”


"Ck, ish...!” desah Clarisa yang kini disemati tawa sedikit lebar dan terlihat tulus di bibirnya. “Kau memang benar-benar seperti kakekku!”


YoonKi tertawa. “Apa aku terlihat setua itu?”


“Ya!” sahut Clarisa cepat dan tegas sambil kembali membawa maniknya menatap sosok YoonKi. “Kau memang tua dan menyebalkan!”


“Oh, baiklah!” jawab YoonKi pada akhirnya, menyerah sebab sosok Clarisa yang ia kenal kembali muncul. “Bersihkan ingus mu, dan ku antar pulang!”[]


...•...


...•...


...Dibuka dengan mantan couple yang mengharu, dan ditutup oleh calon couple yang dingin, *eh......


...Semoga suka part ini ye......