
Katakan saja jika penyanggahan pada sang ayah adalah poin terakhir yang ia pertaruhkan untuk memegang satu kunci kebahagiaan. Hyuji tau jika dia mungkin akan kehilangan kunci tersebut, lantaran sang ayah turut menjauh darinya.
Suara desir pendingin ruangan yang distel tidak terlalu dingin, Hyuji duduk ditepian ranjang dengan tatapan kosong.
Habis sudah. Semuanya sudah berakhir.
Hyuji menatap meja nakas yang ada disisi kiri ranjang. Ada sesuatu dibalik laci yang masih tertutup rapat itu. Keinginannya semakin kuat untuk kembali mendekat kearah sana. Hingga kini ia sudah berdiri dan berjalan mendekat, kemudian duduk kebali ditepian ranjang yang masih sama.
Kuncinya ada dibawah dudukan lampu tidur dan selama ini tidak ada yang tau jika Hyuji menyimpannya disana.
Dibukanya laci itu, kemudian dengan sedikit ragu Hyuji mengambil isi laci tersebut. Sebuah botol kecil berisi butiran-butiran putih yang beberapa bulan ini perlahan bisa ia hindari karena merasa nyaman dengan seseorang.
Ya, orang itu adalah pegawai toko bunganya. John.
Hyuji menarik penutup yang masih rapat, kemudian mengeluarkan beberapa butir dari wadahnya. Bahkan tersenyum datar tanpa arti, Hyuji menggenggam butiran tersebut saat persegi pintarnya tiba-tiba terdenyar-denyar. Sudah hampir satu jam berlalu, dan John baru menghubunginya.
Hyuji menatap genggaman tangan dan persegi pintarnya secara bergantian. “Papa menjadi bagian mereka!” racaunya, tidak begitu jelas. “Aku?” ucapnya berlanjut sambil menunjuk diri sendiri. “Aku sendiri lagi, bagaimana ini?” lanjutnya dengan nada panik setengah jenaka yang dibuat-buat. Lalu dengan rakus Hyuji memasukkan tiga butir obat penenang tersebut kedalam mulutnya.
“Setidaknya, aku akan tenang beberapa jam setelah meminum dirimu!” oceh Hyuji sambil menatap botol berisi obat penenang diatas nakas. Yang seketika itu juga membuat pandangan Hyuji mengabur. Rasa kantuknya datang begitu mendominasi hingga Hyuji sulit mengingat apapun yang terjadi hari ini.
“SIAL!!” umpatnya sebelum benar-benar memejam dalam hening. Tenang.
***
John menurunkan ponsel dari cuping telinga dan melempar asal diatas ranjang. Dia berfikir jika Hyuji mungkin sudah tidur karena lelah bermain dengannya tadi. Melirik penunjuk waktu yang tertempel di dinding, jarum sudah mengarah pada angka delapan lebih lima belas menit.
Perlahan, senyuman terbit dibibir John saat ingatan bersama Hyuji kembali terputar diotaknya. “Dia sangat cantik!”
Lalu John berdiri untuk melepas pakaiannya yang terasa tidak nyaman dan hendak mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Namun semuanya terhenti saat ponselnya bergetar.
“Aha!!” cuitnya gembira sambil melompat kearah ranjang tidur. Akan tetapi tidak berlangsung lama wajah girangnya itu berubah asam saat tau nama YoonKi yang muncul pada display ponsel.
“Kau libur, mengapa tidak meneleponku?” celetuk Yoonki di seberang telepon.
“Kak, aku ada kencan...”
“Siapa?!”
Cukup terkejut, John terpaku sejenak untuk membayangkan bagaimana ekspresi Yoonki saat ini.
“Tentu saja—”
“Boss mu?!” sergah Yooki cepat sebelum John menyelesaikan ucapannya.
John tertawa lebar. Bahkan wajah cantik Hyuji kini muncul kembali tanpa permisi ke dalam isi kepalanya.
“Eung.”
“Kau berkencan dengannya?”
“Ya... katakan saja seperti itu! Kenapa?! Kau iri?”
Bukan john namanya jika tidak membuat kakak seperjuangannya geram.
“Eoh! Baiklah!”
Mungkin, menemui Yoonki bukanlah masalah besar untuk seorang John Wilson. Akan tetapi pertemuan kali ini benar-benar membuat seorang John kehabisan seluruh ungkapan. Bagaimana tidak, tadi, Hyuji memaksa ikut karena dia bilang ingin mengusir rasa bosan. Dan John tidak dapat menolak dengan dalih 'merasa tak enak' jika nanti Yoonki mempertanyakan kehadiran gadis tersebut.
Agaknya, hal lainlah yang menjadikan suasana bak air keruh yang tak dapat ditembus cahaya sedikitpun. Clarisa, mantan kekasih John juga ada disana.
Mendadak ponsel John bergetar.
Bodoh! Mengapa kau ajak dia?
Nyatanya, itu pesan dari Yoonki sebab tidak bisa mengatakannya secara gamblang didepan Clarisa, juga Hyuji.
Kakak yang tidak bilang jika mengajaknya!!
John tak mau kalah. Ini bukanlah kesalahannya.
Yoonki memutar pandangan kearah luar, memainkan lidahnya didalam mulut sebab kesal sendiri karena menyadari ini memang kesalahannya.
Dia merengek ingin bertemu denganmu. Aku tidak bisa menolaknya, dan aku yakin kau tau jelas bagaimana seorang Clarisa Hwang.
John menghela nafas, lalu menarik simpul senyuman untuk Hyuji, hendak mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana.
“Noona—”. “John—” ucap John dan Clarisa secara bersamaan. Dan saat itu juga pribadi John menoleh kearah Clarisa yang kini menatapnya dengan tatapan yang sama saat mereka masih menjalin kasih. Tatapan sayang.
Hyuji tersenyum hangat, paham sekali situasi yang mungkin sedang memeluk pemuda itu. Hyuji meraih sling bag yang sebelumnya ia letakkan diatas paha dan mengalungkannya kembali. “Aku baru ingat kalau ada janji, jadi silahkan melanjutkan! Lain kali aku kan bergabung!”
Bohong. John bahkan ingat betul jika tadi Hyuji bilang karena merasa bosan dan ingin ikut dengannya. Hyuji berdiri.
“Tapi—”
Dengan cepat Hyuji menghentikan telapak John yang hampir menyentuhnya. “Aku janji, lain kali aku bergabung dengan kalian lagi!”
Hyuji tau ini tidak sopan, tapi dia benar-benar tidak ingin menjadi orang lain yang bahkan membuat suasana canggung diantara ketiga orang itu. Hyuji membungkuk sebagai salam perpisahan, kemudian menatap John sekilas, dan beranjak.
Tak tinggal diam, John bahkan berdiri dengan terburu-buru untuk mengejar Hyuji yang sudah lebih dulu mencapai pintu cafe dan berjalan kearah jalan Raya untuk mencari taxi kosong.
Ya, hanya untuk mempersingkat waktu agar John tidak menahannya.
Akan tetapi saat kakinya baru melangkah beberapa kali diatas trotoar jalan, Hyuji dapat merasakan pergelangan tangannya diraih, langkahnya terhenti dan tubuhnya dipaksa berputar agar melihat pada seseorang dibalik punggungnya.
“Noona...”
“John, kembalilah! Aku jadi merasa bersalah jika kau seperti ini!” potong Hyuji sebelum John berkata lebih lanjut.
“Aku tidak akan kembali tanpa Noona!” tegas si pemuda John tanpa ragu sedikitpun.
Bersama terpaan angin yang menyapa wajah dan menerbangkan anakan rambutnya, Hyuji menatap fitur John yang terlihat lebih tegas.
“Tolong jangan seperti ini John?!”
Sebuah taxi berhenti didepan keduanya. Tanpa aba-aba John menarik pengait pintu mobil sembari berkata dengan mata berkilat. “Aku akan mengantarmu pulang!”[]