Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 14



Sekotak kaki ayam pedas, sekantong besar Bungeoppang yang masih hangat, dan juga sekantong apel merah dan jeruk ia tenteng dengan penuh senyum, berharap yang ia bawakan akan menerima dengan senang hati dan segera membaik.


Ya, John memutuskan untuk menjenguk Hyuji yang katanya sedang sakit itu kerumahnya. Awalnya, John memang tidak tahu dimana tempat tinggal Hyuji. Akan tetapi, seolah Tuhan memberi jalan untuknya, John menemukan alamat Hyuji pada sebuah kertas kecil yang berada didalam laci ketika mencari stempel toko bunga mereka tadi siang.


John mengulas senyum dan tanpa ragu menuju alamat yang tertera disana.


“Aku harap Hyuji Noona akan segera sembuh!” gumamnya, masih dengan senyuman merekah dibibir tipisnya. Menatap keluar jendela, memandangi beberapa pohon yang bergerak terlewat oleh laju bus dengan kecepatan sedang yang ia tumpangi.


Dan saat ini, kedua kaki dalam balutan jeans hitam legam itu sudah berhenti disebuah terminal yang tak jauh dari kompleks perumahan elite tempat Hyuji tinggal.


John menilik jam tangan dipergelangan tangannya, pukul lima sore.


John bergegas, hingga sampailah dia didepan sebuah pos keamanan kompleks yang dijaga ketat. Setelah melengkapi buku daftar pengunjung dan juga izin dari pihak keamanan, John kembali melangkah. Melewati bangunan-bangunan megah dan mewah yang membuat kedua manik dan bibirnya tak berhenti untuk berdecak kagum. Bahkan dia sempat berangan dan bermimpijik dia akan memiliki satu saja bangunan mewah itu suatu saat nanti.


“Hyuji noona tinggal ditempat semegah ini? Lalu kenapa dia mau membuka toko bunga kecil seperti itu? Bahkan dia bisa membuka toko yang lebih besar dari yang sekarang?” gumamnya dengan bibir mengerucut lucu.


Angin sepoi-sepoi menemaninya melangkah menuju pagar dengan nomor 420 yang sedari tadi belum juga terlihat dipelupuk mata rusanya. Senja yang mulai menampakkan warna Jingga indah, hingga beberapa kendaraan mahal yang berlalu lalang menjadi pemandangannya sepanjang melewati bentangan aspal kompleks.


Dan senyuman merekah terkembang di bibir John saat nomor 420 berhasil ia temukan.


Pagarnya terbuat dari besi kokoh setinggi bahu orang dewasa, ada taman dengan air mancur ditengah-tengah halaman luas, lalu bangunannya lebih terlihat lebih aestetik dengannkesn mewah dan elegan serta unik dan berbeda dari bangunan lainnya.


Jungkook berdebar, nyatanya dia memang tak sebanding dengan Hyuji dan semakin merasa tak enak pada boss wanita yang sering ia goda itu.


“Kak YooKi benar! Lain kali aku harus hati-hati saat berbicara dengan Hyuji noona!” rutuknya pada diri sendiri. Kemudian menekan ragu tombol yang berada tak jauh dari jangkauannya.


Seorang pria berbadan kekar muncul.


“Selamat sore,” sapa John, dan pria itu hanya mengangguk tanpa suara. Membuat John berusah merangkai kalimat sebab gugup. “Apa, Hyuji noona tinggal disini?”


“Ada perlu apa dengan nona Hyuji?” tanya sipria berbadan kekar.


“S-saya dengar dia sedang sakit, dan saya ingin menjenguknya!”


“Apa kau sudah membuat janji?”


Aku tidak seharusnya datang membawa semua benda murahan ini!—pikirnya, sembari mengangkat kantong berwarna putih berisi beberapa benda yang sudah ia beli ditepian jalan saat menuju halte untuk datang ke tempat ini.


John berniat pergi saja, ia tak pantas dan akan membuat dirinya sendiri malu jika seperti ini. Namun sebuah suara rendah menghentikan langkahnya.


“Hai anak muda, mencari siapa?” tanya seorang pria paruh baya yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah mengkilat itu.


John mengerjap, otaknya sibuk memikirkan jawaban yang sesuai. Haruskah dia bilang jika dia salah alamat? Atau mengakui saja kemudian pergi dan membawa kembali semua yang ada dalam genggamannya itu, lalu membuangnya kedalam tong sampah?


Ah, benar-benar memalukan.


John menggigit bibir bawahnya sekilas, lantas tersenyum ramah dengan memberikan hormat kepada pria yang kini berdiri tak jauh darinya.


“S-saya dengar Hyuji noona sedang sakit jadi saya berniat menjenguknya!” jawabnya gugup, sembari mengangkat kantong pada telapaknya dengan ragu.


“Oh, benarkah? Aku bahkan tidak tau kalau putriku sedang sakit!” jawab tuan Song, membuat John mengerutkan dahi tak mengerti. “Aku baru saja kembali dari luar kota selama satu minggu!”


John kembali tenang setelah mendengar jawaban itu. “Kalau begitu, masuklah anak muda,” tuan Song menjeda, menatap paras sempurna John dengan sebuah senyuman hangat. “Apa...kau kekasih Hyuji?”


John terbelalak, buru-buru menggelengkan kepala dan juga menggerakkan tangan yang mengisyaratkan sebuah penolakan atas terkaan pria dihadapannya.“Bukan, saya hanya pegawai ditoko milik Hyuji noona!”


“Toko? Milik Hyuji?” tanya tuan Song, penuh kebingungan diwajahnya.


“I-iya, saya pegawai di toko bunga milik Hyuji Noona! Dan saya datang kesini untuk menjenguk putri cantik anda yang sedang sakit!”[]




FYI, untuk arti kata noona dan nona itu berbeda ya,


dalam pelafalan korea, Noona; *dibaca nuna itu berarti kakak. Lebih tepatnya sebutan atau panggilan dari seorang laki-laki untuk wanita yang lebih tua darinya. Dan makna Nona sendiri adalah ditujukan untuk anak seorang majikan.