
Daun pintu itu terbuka. Rumah yang katanya adalah surga, nyatanya tidak untuk Hyuji. Presensi sang ibu menyambut kedatangannya di jam yang menunjuk angka tujuh, namun Mentari kelihatannya masih enggan untuk bersembunyi, menampakkan senja dengan oranye yang sangat Indah diufuk barat. Musim semi akan segera datang.
Jika seorang panglima perang selalu menyukai pedang mereka yang tajam, yang bisa menghabisi musuh dalam satu kali tebas, maka bagi Hyuji sorot mata sang ibu lebih dari itu.
Membungkuk sekilas untuk menunjukkan rasa hormat, Hyuji melanjutkan langkahnya berniat untuk segera masuk kedalam bilik pribadinya yang menjadi satu-satunya pelindung saat semuanya sedang kacau balau.
“Apa kau tidak bisa menjaga sikapmu pada ibumu sendiri?”
Oh astaga, Hyuji hanya ingin beristirahat sekarang. Dan demi apapun, ibunya itu terlihat tak akan membiarkan dirinya lolos begitu saja.
Hyuji berbalik, menatap wajah tegas sang ibu yang sedang memerhatikan dirinya.
“Aku harus membersihkan diriku dulu mam!”
Dan disaat yang tidak tepat pula ponsel Hyuji bergetar, membuat Hyuji mau tak mau harus melihatnya, siapa tau itu dari suplier bunga yang datang ke tokonya. Tapi bukan, membuat Hyuji mendengus kesal saat melihat nama seseorang yang sedang menghubunginya itu. Sontak sang ibu turut melihat kearah sling bag milik Hyuji.
Berniat ingin mengembalikan ponsel itu kedalam tas, suara sang ibu menghentikannya.
“Siapa?”
Tidak mungkin jika dia akan mengatakan jika pegawai toko yang sedang menghubunginya, sebab dia membuka usaha itu tanpa pengetahuan siapapun, termasuk si ibu.
“Bukan siapa-siapa mam!”
Tentu saja ibunya tak akan percaya begitu saja. Ia bangkit dari duduknya dan mendekat pada Hyuji, meraih paksa ponsel yang bergetar untuk kedua kali itu dari telapak putrinya dengan kasar.
“John??” tanya sang ibu, melirik diekor mata ingin mendengar jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan. “Siapa John?”
Hyuji bungkam, dia tak ada niatan sama sekali untuk memberi alasan atau sekedar penjelasan kepada ibunya yang justru mematik api emosi dalam diri sang ibu.
Persegi pintar itu menjadi kepingan yang berserahkan dilantai, sebab sang ibu sudah melemparnya hingga hancur.
“Bahkan aku melarangmu untuk menjalin hubungan dengan pria, kau melanggarnya sekarang!”
Hyuji masih bungkam, yang membuat wanita berbaju mewah itu mengeratkan rahang, menggeram marah sembari menarik surai Hyuji hingga membuat gadis itu terpelanting.
“Kau berani pada ibumu sekarang?! Huh!!?”
Sudahlah, Hyuji pikir ini adalah kesekian, ah, tidak, bahkan entah keberapa kali dirinya mendapatkan rasa sakit yang sama. Diperlakukan seperti ini seolah sudah menjadi makanan sehari-hari seorang Hyuji.
Suara ibunya menggelegar memenuhi santero ruangan, menarik perhatian beberapa pekerja rumah tangga untuk berlari kepada keduanya.
Entah mendapat keberanian darimana, Hyuji malah menyeringai tajam pada sorot yang biasanya akan membuatnya beringsut. Mungkin dirinya lelah, atau kesal sebab John mendadak meminta cuti hanya untuk bersenang-senang tanpa memikirkan dirinya. Entahlah.
“Aku tidak perlu memberitau mama bukan? Bahkan mama tak akan pernah berhenti untuk memperlakukan aku seperti ini saat sudah mendengar jawabannya!”
Hyuji tak peduli jika harus kembali mendapatkan luka memar dan lebam disekujur tubuh malam ini. Semua sudah biasa.
Sang ibu melepas cengkramannya dengan cara melempar kuat tubuh Hyuji menjauh hingga hampir tersungkur diatas lantai.
Hyuji tersenyum pilu menerima perlakuan itu dari ibunya, kemudian berucap lirih. “Tidak bisakah kau memperlakukanku sama seperti kedua saudaraku yang lainnya, mam?”
***
Panggilan diputus begitu saja. John bahkan merasa benar-benar akan kehilangan pekerjaan seperti yang dikatakan YoonKi. Hyuji mengacuhkan dia dan sama sekali tak merespon apapun padanya yang sedang berusaha meminta maaf atas ucapannya saat itu.
Padahal, ya itu hanyalah asumsinya semata.
“Kenapa? Kau dipecat atasanmu yang cantik itu?” tanya sang ibu tiba-tiba muncul sambil membawa sepiring ubi rebus kesukaan putranya itu.
“Tidak bu, aku hanya ingin menanyakan bagaimana keadaan toko! Lagi pula, dia yang akan menyesal jika memecat pegawai teladan dan tampan sepertiku!”
Sebuah pukulan mendarat dipunggung John, “Kau ini percaya diri sekali, tanpa dirimu pun bos mu itu bisa meraup uang banyak!”
“Ibu sok tau! Selama ini, toko banyak pembeli juga karena jasaku!”
Sang ibu mendesah frustasi, memang memiliki putra seperti John itu butuh kesabaran ekstra agar tetap bisa menghirup oksigen.
“Baiklah terserah padamu! Ajak sesekali dia mampir kesini lagi,”
John tersenyum, meraih satu ubi berukuran paling besar dan mengupas kulitnya. “Ibu merindukannya?”
“Ibu hanya ingin menghiburnya, sepertinya dia tertekan!”
John diam, mengedarkan pandangan menatap langit kelam yang dihiasi jutaan Bintang berkelip yang berlomba menampakkan sinar terindah mereka. Helaan nafas lolos begitu saja dari penghirup John,
“Aku juga merasa dia sedang tertekan, tapi dia sama sekali tidak mau menunjukkan itu bu,” ucap John dengan suara madunya. “Dan aku yakin—” John menjeda sejenak, kemudian membawa tatapannya pada sorot sang ibu, lalu melanjutkan. “—dia sedang tidak baik-baik saja.”[]