
...Hai teman pembaca Adagio sekalian. Semoga kalian dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT....
...Maaf sempat Hiatus lama untuk cerita ini, dan semoga teman-teman pembaca tidak lupa jalan ceritanya ya......
...Happy Reading....
...•...
...•...
...•...
Kamu boleh bertemu dengan dia. Tapi dengan satu syarat,
Jangan pernah tinggalkan ibu demi dia.
Setidaknya, itu yang John dengar dari bibir sang ibu ketika meminta izin untuk bertemu ayahnya. Tidak ada rasa antusiasme yang menyapa cela hati kecil John ketika hari menuju pertemuan itu terus bergulir. Hanya rasa perih, hatur dan pilu akan luka yang pernah ayahnya itu buat untuk sang ibu tercinta.
Hingga hari ini, hari dimana dia akan bertemu dengan orang yang selama ini ia anggap tidak pernah ada, John berjalan melewati pintu elegan yang dibuka oleh dua orang doorman yang mengenakan pakaian rapi dengan dasi kupu-kupu yang menghiasi leher mereka. Lalu John duduk disalah satu meja yang sudah di booking oleh ayahnya.
“Maaf tuan, apa anda tuan Song Minju?” tanya seorang pramusaji cantik berpakaian hitam, lengkap dengan apron yang bertengger di badannya yang cukup sempurna untuk ukuran seorang pramusaji. Dia menegur, hanya ingin memastikan.
“Saya, putranya.” jawab John ragu. Dia tidak begitu yakin dengan status yang baru saja ia ucapkan itu. Namun bagaimanapun, darah memang lebih kental dari pada air. Kenyataan tak terbantah sedikitpun, darah Song Minju mengalir dalam nadinya.
“Ah. Apa anda ingin memesan sekarang?” tanya pramusaji cantik itu, lagi.
John mengibaskan telapak tangan, menolak menerima menu yang disodorkan kepadanya dengan sebuah senyuman manis. “ Nanti saja. Saya ingin menunggu ayah saya sampai terlebih dahulu.”
Miris.
Bahkan hampir seumur hidup, dia tidak pernah mengakui laki-laki itu sebagai ayah. Tapi sekarang? Mendadak ia berubah menjadi pria baik hati dan patuh begitu saja. Miris bukan?
Pramusaji itu mengangguk paham, lantas meninggalkan John dengan pesan, agar memanggilnya jika membutuhkan sesuatu.
John mengedarkan pandangan pada restoran kelas atas yang dipilih ayahnya itu. Menilik seluruh sudut bangunan hingga maniknya menemukan satu sosok yang akan menjadi temannya dimeja restoran. Ayahnya, Song Minju.
Laki-laki tua itu tersenyum dikejauhan saat melihat John benar-benar datang menemuinya, kali ini. Dia ingin sekali menggapai, dan merangkul putranya itu meskipun hanya sekali saja.
“John.” sapanya, menarik penuh atensi John yang sedang sibuk bertukar pesan dengan teman kantornya. Minju duduk dikursi seberang, tepat didepan putranya yang tampan rupawan itu.
“Ah, anda sudah datang?” jawab John formal, mengingat dia selalu membangun batasan tinggi untuk hubungan mereka. John hanya ingin bersikap sopan.
“Kenapa bicaranya formal begitu. Bicara biasa saja dengan ayah.”
John tersenyum getir diujung bibir. Mudah sekali ya laki-laki itu berkata demikian, sedangkan ibunya harus menanggung beban hidup yang berat tanpa campur tangan darinya sedikitpun hd ngga John tumbuh dewasa.
Minju sadar jika selama ini dia salah besar sudah menelantarkan John dan ibunya. Namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Minju juga ingin putra satu-satunya itu menganggapnya sebagai seorang ayah. Seseorang yang membuatnya hadir kedunia.
“Baiklah, jika itu maumu.” sergah Minju lembut sembari melambaikan tangan dan menerima buku menu dari pramusaji cantik yang sebelumnya menemui John tadi. “ Mau pesan apa? Kenapa tidak memesan duluan saja tadi, sebelum ayah datang?”
Ayah ya?
John bergeming, hanya menyuarakan kalimat tanya itu didalam hati karena tidak bisa lagi mengungkapkan kata-kata yang tepat untuk menanggapi. Biarlah. Biarkan saja dia berkata sesukanya. Telapak John bergerak menerima buku yang sama dari pramusaji itu, lalu memilih-milih menu mahal dengan harga tidak manusiawi yang tercatat didalamnya.
“Harusnya aku mengajak ibu kesini, tadi. Ibu tidak pernah makan enak dan mahal seperti ini.” sindir John tajam, mencoba mengungkapkan realita jika ibunya memang tidak pernah menikmati harta kekayaan ayahnya sedikitpun setelah pria Song itu pergi meninggalkan mereka berdua dalam lembah kesengsaraan dan kemiskinan.
“Kalau begitu pesan saja untuk dibawa pulang. Ayah yang akan membayarnya nanti.”
***
Suara musik klasik tiba-tiba terdengar lirih memenuhi ruangan. Ternyata, disalah satu sudut ruangan itu, ada seorang pria yang sedang melamar kekasihnya. Begitu romantis, dan menyenangkan.
“Jadi, Hyuji yang memintamu datang kesini?”
John mengangguk atas pertanyaan Minju. Tidak dipungkiri, semua ini ia lakukan untuk Song Hyuji, kakaknya.
“Ayah akan berterima kasih nanti kepadanya.”
“Tidak perlu. Kak Hyuji hanya perantara. Selebihnya, jangan sangkut pautkan dia lagi dalam urusan ini.”
John tau apa yang ia lakukan. Ia hanya tidak ingin menambah beban Hyuji dan ingin membiarkan kakaknya itu hidup tenang.
Minju sedikit terkesiap, namun ia tetap mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan yang dikemukakan John untuknya. Benar, selama ini Hyuji tidak pernah sedikitpun merasakan kebahagiaan, apalagi dari seorang ibu yang seharusnya memberikan dia kasih sayang penuh.
John meraih gelas tinggi berisi cairan semerah darah itu setelah menghabiskan steak yang tersaji untuknya.
“Sekarang,” John menjeda, meletakkan kembali gelas diatas meja, lalu menatap wajah renta Minju diseberang meja. “—apa tujuan anda meminta bertemu dengan saya.”
Minju tidak langsung menjawab, dia mendiamkan suasana cukup lama dengan mengunyah makanan didalam mulutnya hingga kemudian ia telan, lalu meraih Napkin yang ada di pangkuannya. Mengangkat pandangan untuk John, lantas tersenyum hangat. Dari dulu, ia ingin sekali berada didekat John seperti ini, dan hari ini impian itu terwujud. Ia bisa melihat putra satu-satunya. Benar kata Hyuji, John sangat tampan. Putranya itu begitu tampan.
Pada detik selanjutnya, telapak Minju bergerak mengambil sesuatu dari balik jas kerja gelap yang ia kenakan, lalu mengulurkan sebuah kotak hitam berukuran kecil kepada John.
“Tolong berikan itu kepada ibumu. Ayah tidak pantas menerima itu dari wanita sebaik dia.”
John mengerutkan kening, melihat tepat kearah kotak hitam itu berada. Ada gambar hati berwarna emas diatasnya. Dua sisi dalam diri John berebut untuk muncul ke permukaan. Pertama, sisi terburuk dirinya yang ingin menertawakan dan memberitahu seisi dunia bahwa dua insan yang sedang dimabuk asmara saat itu, begitu konyol dan berakhir tragis dengan kehadirannya didunia. Dan sisi kedua, ia kagum kepada mereka berdua yang saling mencintai dan mungkin mereka akan menjadi pasangan manis ketika hidup bersama, tentu saja ibunya yang menjadi wanita satu-satunya.
Ditengah kecarut-marutan batinnya itu, John memilih tersenyum sarkas sembari mengulurkan tangan meraih kotak yang membuatnya penasaran dengan isi didalamnya. Lantas, sebuah kalimat yang tidak pernah ia duga meluncur licin dari tenggorokan begitu saja.
“Apa anda masih mencintai ibu saya?”[]