Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 17



Matahari tidak nampak hari ini. Rintik sendu tangis langit menemani perjalanan Hyuji menuju toko bunga miliknya.


Basah, aroma petrikor yang terbawa angin, melewati persegi kaca yang diberi cela sedikit sebagai ventilasi bus, membimbing pikiran Hyuji penuh akan masa lalu untuk kembali menyeruak, muncul ke permukaan hingga membuat gadis dalam balutan turtle neck hitam dan celana Jeans harus menghembus nafas dalam agar paru-parunya dapat mengais oksigen yang baru.


Namun pada detik di pemberhentian bus selanjutnya, seluruh atensi Hyuji kembali terpecah. Saat aroma maskulin yang ia kenali akhir-akhir ini menyapa penghirupnya. Duduk menempatkan diri tepat disampingnya.


“John?”


“Selamat pagi noona cantik!” sapa John riang, mengarahkan tas slempang yang ia sampirkan dibahu kearah pangkuan, dan duduk rapi dibangku yang sama dengan Hyuji.


Hyuji sampai tak berkedip sedikitpun. Bagaimana tidak, pamuda itu terlihat begitu mempesona dalam balutan sweatshirt berwarna biru, boogie pants gelap membalut kaki jenjangnya, serta sebuah penutup kepala serupa rajut yang terlihat begitu pas dan cocok dengan sisi menggemaskan dan maskulin seorang John, menjadikan Hyuji terpaku dalam diam sesaat. Hingga mendapati pemuda itu menatap kearahnya dengan sebuah senyum ringan di pagi hari.


“Tidak menyangka bertemu noona disini!” bisiknya pelan seolah tak mau mengganggu penumpang lain.


“Eumm...” jawab Hyuji singkat.


“Noona sedang melamun?” tanya John, yang membuat Hyuji seketika meredam senyum dan kembali menilik keluar jendela bus yang sudah berjalan.


Surai hitam itu terbawa angin, terbang hingga membuat anakan rambut berantakan dan membuat John tak bisa menahan telapaknya untuk tak turut serta merapikan surai pada bingkai wajah cantik bossnya itu di balik telinga.


Hyuji terkesiap, bahkan memundurkan diri sedikit menjauh saat, merasakan sentuhan lembut pada anakan surainya. Hyuji mendesah dalam hati. Ah, seperti pasangan saja.


“Ah, terima kasih!” ungkapnya, dengan nada serak dan tertunduk sembari menyelipkan surai yang lain ditempat yang sama.


Mungkin, Hyuji akan berada diposisi yang kembali akan membuatnya terjerat sebuah perasaan setelah sekian lama mencoba menpis semuanya, tapi entahlah, dia merasa semakin tersiksa saat mencoba menampik semuanya.


Bus berhenti ditempat yang tepat dimana keduanya melangkah turun kemudian melewati sebuah gang yang akan membawa mereka sampai ditempat tujuan.


John merogoh saku tas selempangnya, mengeluarkan kunci toko yang dipercayakan Hyuji untuknya.


“Pelanggan itu mengambilnya jam delapan bukan? Masih ada waktu untukku membeli gimbab di mini market bibi Jung!” ucap John setelah berhasil membuka pintu toko dan mempersilahkan Hyuji masuk terlebih dahulu.


“Eum, pergilah!” titah Hyuji, memberi John kesempatan sebelum memulai bekerja.


“Thank's Hyuji-nim!”


Benar, akhir-akhir ini Hyuji jarang sekali mendengar John memanggilnya dengan sebutan -nim dibelakang namanya.


Hyuji menggeleng, tersenyum lembut dan tulus seraya memperhatikan punggung John yang semakin menjauh.


“Dia pemuda baik!”


***


Jimmy...


Hingga suatu ketika, keduanya saling memperhatikan satu sama lain, kemudian perhatian itu berubah menjadi rasa percaya, dan menjadi secuil perasaan yang membuat keduanya saling sayang.


Sayangnya, semua perasaan itu seolah mereka pendam dalam hati masing-masing. Tak mau saling menyakiti hingga tali persahabatan yang mereka jalin itu akan hancur. Dan Hyuji pun menyerah saat Jimmy memutuskan untuk berkencan dengan kakak keduanya.


Suara gemerincing lonceng pada pintu toko membuat semua lamunan Hyuji buyar. Ia pikir John akan menyuguhkan senyuman saat manik Hyuji mendapati presensi pemuda itu pada bilah pintu. Namun terkaan Hyuji sama sekali tidak benar, yang datang bukanlah John, melainkan sosok Jimmy yang sedang berdiri tegap diambang pintu. Dengan senyuman merekah pada bibir tebal miliknya, melambaikan tangan sebagai sapaan untuk Hyuji yang ternyata masih terpaku. “Hai, Hyuji noona! Mengapa tidak membalas pesanku, semalam?”


Hyuji bahkan membatin, apakah delapan bulan itu waktu yang terlampau jauh, atau, setua itukah dirinya? Hingga Jimmy lebih memilih memanggil noona?


“Panggil namaku saja, sejak kapan kau memanggilku noona seperti itu?!” cibik Hyuji dengan senyuman kaku.


Jimmy membawa tawa dalam langkahnya saat mendekat pada Hyuji. Ia rindu moment bersama Hyuji seperti ini, yang bahkan tidak bisa ia lakukan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang diembankan sang ayah untuknya. “Aku dengar pegawaimu itu juga memanggil noona padamu?”


Hyuji terkikik. Mengusap hidungnya sekilas demi mengalihkan rasa gugup yang perlahan menguasai diri saat Jimmy sudah berdiri di sampingnya.


“Itu karena dia memang lebih muda dua tahun dariku Jim, sedangkan kau? Kita lahir ditahun yang sama, hanya saja berbeda dalam hitungan bulan!” protes Hyuji tak terima.


“Okey, baiklah! Aku kalah, nona Song Hyuji yang cantik!”


Pintu kembali bergemerincing, kali ini sosok John berdiri disana, terlihat terkejut. Sedangkan Jimmy, tersenyum seolah memang tak ada yang membuatnya harus berekspresi sama seperti John.


John memangkas jarak, kemudian meletakkan kantong putih di salah satu nakas yang berada tak jauh dari tempat Jimmy dan Hyuji berdiri.


“Kau sudah membelinya John?”


“Eumm.” jawab John singkat dengan anggukan samar, tanpa melihat keduanya. Kemudian beranjak untuk melakukan kegiatan rutin yang biasa ia kerjakan saat toko mulai buka.


Hyuji tak memutus kontaknya pada punggung John yang berjalan keluar membawa beberapa pot bunga untuk menjadi hiasan didepan toko. Sontak membuat Jimmy menarik ujung bibir membentuk sebuah seringai.


“Kau terlihat nyaman bekerja dengan dia, Hyu!” sergah Jimmy, membuyarkan atensi Hyuji begitu saja.


Hyuji mengerjap, mengalihkan tatap pada sosok Jimmy yang juga sedang melekatkan pandangan untuknya. “Ah, i-iya! Dia pemuda baik dan periang!”


Jimmy mengangguk paham, “Simpan kontakku yang semalam! Maaf baru bisa menghubungimu, papa tidak pernah memberikan waktu senggang untuk sekedar mengunjungimu! Dan rasanya, aku juga mulai lelah dengan semua pekerjaan ini!”


Hyuji menatap lembut, meraih satu telapak Jimmy lalu menangkup dengan telapak lainnya.


“Jimmyku adalah pemuda yang kuat! Dia tidak akan menyerah pada apa yang menjadi penghalang didepan matanya!”


Jimmy tersenyum, turut menumpuk satu telapaknya diatas telapak kecil Hyuji yang sedang merengkuhnya.


“Jadi, sekarang kau sudah percaya padaku?”[]