Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 39



Hyuji ingat, saat dia akan pergi dari busan dia sempat bertemu sang ibu meskipun hanya beberapa menit saja. Dia bahkan mendengar suara parau ibunya meminta maaf berkali-kali atas semua perlakuan buruknya untuk Hyuji selama ini.


Menatap kosong pada pepohonan yang terlewati Hyuji kembali memutar memorinya dua tahun silam. Dia masuk kedalam ruang dimana sang ibu dirawat, mengendap-endap seperti orang asing agar tak tertangkap oleh sang kakak yang berakhir sama seperti sebelum-sebelumnya. Dia diusir paksa dan tidak diperbolehkan menemui sang ibu.


Ketika pintu ruangan beraroma disinfektan itu terbuka, ia melihat ibunya yang terbaring lemah diatas tempat tidur, memejamkan mata. Dia pikir ibunya itu pasti sedang tidur. Hyuji mendekat, menatap lekat dengan pupil bergetar penuh rasa rindu kepada sang ibu, lalu tanpa diminta airmata meluncur begitu saja.


Kau datang?


Begitulah kata sambutan yang Hyuji terima saat itu, ia bahkan tak menyangka jika ibunya itu tersenyum hangat kepadanya.


Kemarilah Hyu, ada yang ingin mama katakan!


Hyuji terpaku beberapa detik sebelum akhirnya memangkas jarak, berdiri dan menyambut telapak tangan sang ibu yang terulur kepadanya, lalu menggenggam perlahan dan memberi usapan penuh kasih.


Maafkan mama nak.


Hyuji ingat betul kalimat tersebut, dan hanya itu yang dikatakan sang ibu setelahnya, ketika bertemu tanpa sepengetahuan kedua kakaknya. Merengkuh telapak tangan sang ibu yang dingin itu lebih erat, beserta sebuah plester sebagai penahan jarum infus.


Mama tidak perlu meminta maaf, semua salah Hyuji.


Kelopak mata sang ibu basah, Hyuji tidak ingin melihat pemandangan itu. Ibu yang biasanya bersikap arogan kepadanya, kini menangis. Hyuji tergugu sembari mengarahkan telapak sang ibu kearah dahi. Begitu juga sang ibu, Hyuji merasakan surainya di usap lembut. Hal kecil yang selama ini belum pernah ia rasakan dari sosok ibunya.


Maafkan mama...


Setelah itu, mau tidak mau Hyuji harus segera pergi sebelum salah satu kakaknya datang.


Hyuji meremat pakaian tepat didadanya, merasa sesak karena kenangan itu begitu menyakitkan. Dan kini ia tak bisa lagi menemui sosok ibunya itu untuk selamanya.


“Kak, Elli mohon jangan menangis!” pinta Elli saat merasakan telapaknya dibasahi oleh bulir airmata Hyuji.


Senyuman manis mengembang di bibir Hyuji. Mengesat airmatanya perlahan kemudian meraih Elliotte dalam pelukan, Hyuji berkata. “Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja kok! Semua makhluk hidup pasti akan kembali kepada penciptanya bukan?” tutur Hyuji.


Tidak semua garis hidup manusia sama, namun terkadang Hyuji merasa iri jika melihat kebahagiaan orang lain, yang ia rasa lebih beruntung darinya.


John menatap kearah keduanya dari kaca spion diatas dashboard mobil, mendapati Hyuji yang memeluk dan mengusap puncak kepala Elliotte dengan penuh perasaan.


“Kita hampir sampai!” tutur John memberitahu, menarik antusias Elliotte kembali menyembul sebab keikut sertaannya pergi ke Busan adalah ingin bertemu dengan keluarga John. Ya, Elliotte sudah berfikir sejauh itu, dia terlalu mendamba seorang John Wilson.


Sedangkan Hyuji, tatapannya terlihat gusar, dipenuhi raut khawatir, sebab ia tau kehadirannya mungkin tidak diinginkan oleh siapapun, termasuk ibu John yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


John memutar kemudi memasuki halaman depan rumah dan memarkir mobilnya dengan rapi. Melepas seatbelt dan berbalik arah melihat Hyuji.


“Noona tidak perlu khawatir, ibu juga menunggu kedatangan noona!”


Melihat dan mendengar John yang mengatakan hal itu dengan tenang, ketakutan Hyuji menipis, akan tetapi tidak dengan pelik yang masih saja memenuhi isi kepalanya.


Elliotte memukul kesal paha kanannya dengan bibir maju kedepan, “Iya!!”.


“Ibuku tipe orang yang tidak suka dengan gadis ingusan sepertimu!”


Melihat hal itu, Hyuji tersenyum dan mengusap surai Elliotte penuh kasih seperti adiknya sendiri. Hyuji tau dengan pasti jika John hanya menakuti gadis itu.



Udara yang ia hirup seakan menjadi beku, ujung-ujung jarinya yang turut dingin itu saling meremat. Sejenak ia berfikir jika tidak pernah pertemuan seperti ini akan terjadi kembali dalam hidupnya. Hyuji menarik nafas perlahan, mencoba tenang dengan segudang pemikiran buruk dan menakutkan yang terus muncul didalam kepalanya.


Namun berbeda dengan apa yang ia pikirkan, Hyuji malah menemukan wanita itu tersenyum padanya. Memberikan tatapan penuh kasih seperti seorang ibu yang sangat rindu kepada anaknya yang sudah lama tidak bertemu.


“Bagaimana keadaanmu Hyu?”


Hyuji hampir terpekik kla mendengar suara itu menyapa rungu dengan nada mengalun yang begitu lembut.


“Ah, baik bi!” jawab Hyuji sembari menatap buku jarinya masih saling menaut. Benar, Hyuji harus tetap bersikap sopan dan tidak terlalu besar kepala hanya karena wanita itu menatapnya penuh kasih.


“Kenapa? Bukankah kau ingin memanggilku ibu?”


Demi apapun, Hyuji ingin sekali menampar dirinya sendiri agar kembali tersadar. Dia sama sekali tak pernah menduga jika ibu John akan berkata demikian. “Aku turut berduka atas ibumu!” lanjut Joana, mengungkapkan bela sungkawanya atas berita duka yang disampaikan John saat sampai tadi.


Mungkin, Hyuji hanya perlu menata dunianya yang terasa kacau, lalu membawanya kembali dengan lebih baik jika ingin terus bertahan. Akan tetapi ibu John seperti memberikan harapan baru untuknya, terlalu membahagiakan.


Hyuji meneguk salivanya pelan, mencoba mengangkat pandangan kearah sang lawan bicara. Lalu waktu seolah berjalan lebih lambat kala manik mereka bersinggungan, wanita bernama Joana itu tersenyum kepadanya sembari kembali berkata, “Maaf, dua tahun yang lalu ibu terlalu takut kehilangan John! Dan sekarang, ibu tau jika putra ibu itu tidak akan melakukan hal-hal diluar kendalinya!”


Hyuji sangat tau akan kekhawatiran yang muncul dalam benak Joana saat itu, sebab dia juga menaruh perasaan pada sosok John diwaktu yang sama, dan kini dia sudah bisa menerima apapun yang sudah digariskan. John adalah adiknya, dan ia tidak mungkin mencintai saudaranya sendiri.


“Itu demi kebaikan semua orang, bi—”


“Panggil aku ibu! Aku juga ibumu!” sahut Joana sebelum Hyuji menyelesaikan kalimatnya.


“Maaf.”


Hyuji kembali tertunduk. Tiba-tiba saja maniknya berembun, kedua ekor matanya hampir saja meloloskan bulir bening jika saja Hyuji tahu dak buru-buru mendongak. Ia sedikit menyematkan senyuman diantara bibirnya yang masih bergetar kala Joana menginginkan dirinya memanggil ibu.


“Terima kasih saya sudah mengizinkan saya memanggil ibu, dan terima kasih sudah memberikan kesempatan yang mustahil, untuk semua hal yang mungkin terasa begitu sulit, dan juga—” Hyuji mengusap pipinya yang sudah basah, menata udara yang merangsek begitu saja hingga membuatnya nyaris tersedak. “—terima kasih sudah menerima ku untuk kembali menjadi bagian dari hidup kalian berdua, ibu!”


Hyuji merasakan tubuhnya ditarik, lalu didekap hangat dalam pelukan. Sejenak dirinya tertegun, akan tetapi tidak bisa lagi membendung rasa bahagia yang menyapa hatinya yang beku. Hangat, perasaan yang sangat dirindukan Hyuji dari sosok ibu yang sesungguhnya, membuat Hyuji membalas pelukan tersebut dan tergugu dalam dekapan Joana. Suara isakan sayup-sayup yang mengudara, membuat wanita bernama Joana itu sontak mengusap surai Hyuji yang sudah lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu.


“Menangislah jika itu membuatmu lega! Tuhan menciptakan airmata bukan untuk menunjukkan seseorang lemah, tapi Tuhan menciptakan airmata agar semua orang tau cara membuat dirinya merasa lebih baik!”[]