
Aroma disinfektan terasa menyeruak di Indra penghirup. Ruangan pribadi yang cukup luas, dan juga pria paruh baya berkacamata dihadapannya sedang membuka amplop coklat ditelapak tangan yang dilingkari sebuah cincin putih dengan model lama, pasti itu cincin perkawinan dengan wanita yang dicintainya—pikir Hyuji.
Sesaat kemudian pria itu berdiri, dan mengarahkan foto rontgen hasil CT-scan yang dilakukan Hyuji beberapa jam yang lalu, ke dalam sebuah kotak dengan pendar cahaya dari dalam kotak tersebut. Hyuji tak paham, hanya melihat ada beberapa skat-skat garis yang memisahkan antara gambar satu dengan lainnya, memperlihatkan gambaran isi kepala Hyuji dari berbagai arah.
"Syukurlah tidak ada penggumpalan! Mungkin anda merasa pusing karena efek benturan yang terlalu keras!" terang sang dokter kepada Hyuji yang sesekali memijat pelipisnya karena merasa nyeri.
"Ah, syukurlah kalau begitu, saya lega mendengarnya dokter!"
Hyuji tersenyum karena merasa lega sekarang, dia juga tidak perlu khawatir akan rasa nyeri dikepalanya. Seiring berjalannya waktu, pasti akan menghilang dengan sendirinya nanti.
Hingga waktu menunjuk pada pukul satu siang, Hyuji baru kembali ke toko bunganya. Melewati bentangan pintu dan mendapati John yang sedang melayani dua orang pelanggan wanita yang sedang melihat-lihat bunga Lily. Hyuji juga dapat merangkum kelopak besar John sedang menatap khawatir padanya. Dan saat Hyuji berjalan lewat, John hampir membuka mulut, mungkin akan bertanya bagaimana keadaanya, tapi Hyuji sudah terlebih dulu menepuk pelan bahu kekar dalam balutan kaos putih polos over size yang dikenakan si pemuda.
Entah mengapa, suasana di toko kecilnya ini terasa lebih hangat dibandingkan dengan rumah mewah yang selama ini menjadi tempat peraduan sejak ia lahir. Apa ini semua karena ada seseorang yang mengkhawatirkannya? Atau, mungkin itu hanya perasaan Hyuji saja.
Disambungnya langkah menuju meja, membuka laci dan memasukkan amplop coklat beserta tas yang sedari tadi bergelayut nyaman dipundak. Menghela nafas dalam sebelum kembali berdiri saat dua orang gadis berjalan kearahnya untuk membayar bunga yang mereka beli.
"Terima kasih sudah membeli di D'Flor, silahkan datang kembali..." ucap Hyuji ramah.
Ia dapati John berjalan mendekat. Aroma yang menguar dari pemuda itu kini sudah menjadi hal biasa untuk Hyuji. Dia suka, aroma alami seperti bayi dan maskulin yang berpadu, pas sekali dengan wajah tampan yang di anugerahkan Tuhan kepada pemuda tersebut. Tak dapat dipungkiri.
"Bagaimana keadaan anda Mad—maksudku Hyuji-nim?"
"John, tolong! Cara bicaramu membuatku merasa tidak nyaman!" keluh Hyuji melayangkan protes.
"Ah, maaf!"
"Berbicaralah seperti tempo hari saat di atap gedung! Aku lebih nyaman seperti itu!" lanjut Hyuji sambil memijat pelipisnya yang terasa sedikit berat, sekilas.
"Baiklah, Hyu!" jawab John sedikit ragu dan canggung. "Apa... seperti itu?" tanyanya lugu dengan wajah yang mampu membuat Hyuji terpesona dalam kagum dan gemas dalam satu waktu.
"Eung! Seperti itu!" sahut Hyuji ringan dengan senyuman lebar tanpa suara.
John tertunduk malu-malu. Bagaimanapun wanita itu adalah atasannya, dia mungkin akan butuh waktu untuk menyesuaikan diri saat mengubah pembicaraan dengan gaya bicara santai seperti itu. Sekali lagi John mengangkat wajahnya guna melaporkan hasil penjualan selama Hyuji pergi kerumah sakit tadi.
Namun tatapan John stagnan. Bahkan meneguk saliva samar saat melihat Hyuji menyatukan rambut pendeknya untuk wanita itu ikat. Kedua manik John tak berhenti menatapi leher jenjang dan juga seputih salju milik Hyuji, dan yang baru John ketahui, Hyuji memiliki satu tahilalat kecil di antara ceruk lehernya. Membuat John kembali meneguk salivanya kasar.
Ah, tidak!
John mengerjap cepat mengembalikan kesadaran sebelum pikirannya semakin meliar, diikuti suara lembut Hyuji yang mengudara.
"Apa suplier yang aku katakan tadi datang?"
"Ah, iya! Tiga ikat Dragon Lily, dua ikat besar Mawar merah dengan tangkai panjang, dan juga tiga ikat bunga Marigold! Tanda terimanya aku letakkan didalam laci kecil itu," cerocos John memberi penjelasan dan berakhir menunjuk laci kecil tempat Hyuji biasanya meletakkan ballpoint.
Hyuji mengangguk paham, percaya sepenuhnya kepada pegawai satu-satunya itu.
"Dan untuk uang hasil penjualan bunga, dan juga bunga apa saja yang laku, sudah aku tulis diatas kertas yang ada didalam laci besar mejamu!" lanjut John yang kali ini memberitahu hasilnya menjual bunga selama Hyuji pergi.
Hyuji tidak pernah mengira jika John akan sedetail itu, dia tidak meminta John menjabarkan bunga apa saja yang terjual. Tapi Hyuji dibuat kagum saat melihat bagaimana tulisan tangan John memanglah sangat rapi untuk ukuran seorang pria.
"Aku tidak memintamu menulis sedetail ini!" tutur Hyuji sambil masih melihat tulisan bak kaligrafi yang dibuat John.
Benar.
Hyuji tak menyangkal.
Selama ini dia hanya melakukan transaksi dan menerima hasil penjualan tanpa tau keseimbangan keduanya. Hyuji setuju dengan ide briliant yang diberikan John.
"Baiklah! Aku akan membuatnya mulai besok!"
John kini berjalan menjauh dengan tawa khasnya karena seorang pelanggan datang. Pemuda itu menyapa dengan ramah tamah, membuat Hyuji sekali lagi terbenam dalam pesona yang dimiliki pemuda berusia dua tahun lebih muda darinya itu. Tak ada penyesalan sia-sia sudah memperkerjakan pemuda seperti John.
Hyuji kembali menerima uang pembayaran dari pelanggan. Kali ini lebih banyak, karena John merangkaikan bunga itu dengan cantik. John itu terampil, cerdas, pekerja keras, dan masih banyak hal yang belum diketahui Hyuji dari seorang John wilson, pemuda periang pemilik paras tampan yang mengisi hari Hyuji beberapa hari terakhir.
Manik bulat Hyuji melihat kearah John, mendapati pemuda itu sedang menata bunga yang sedikit berantakan setelah pelanggan mereka pergi. Hyuji mengukir seulas senyum manis pada bibir ranumnya, kemudian berkata dengan suara sedikit keras. "Apa kau malam ini ada janji?"
John menoleh, kemudian melihat sekitar, takut salah paham. Tidak ada siapapun, lalu John menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Eung! Ayo kita pergi makan malam setelah toko tutup! Aku akan mentraktirmu!"
"Bukankah kau biasanya akan langsung pulang?"
"Aku sedang tidak ingin pulang! Jadi temani aku sebentar untuk makan kaki ayam dan juga—"
"Soju?" sahut John cepat, mendapat sebuah anggukan dari Hyuji.
"Hei, bukankah kau dalam pemulihan sakitmu? Kenapa malah mengajakku minum?"
Hyuji mengedik bahu, "Aku tak masalah! Katakan saja kau mau atau tidak?"
Dan dengan ragu, John mengangguk. Tidak mungkin juga dia membiarkan hadis secantik Hyuji pergi meminum soju sendirian, bisa berbahaya.
"Baiklah! Karena kau yang traktir, aku tidak keberatan! Dan juga, karena kau cantik!"[]
•
•
Hyuji sudah mulai membuka diri kepada John. Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan sampai ketinggalan cerita mereka di Adagio.
*sumpah, kenapa jadi kayak iklan sinetron begini promosinya.
Tap-tap like dan komentar, sertakan Votenya juga jika berkenan...
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.